Pada pertengahan bulan keenam sejak kedatangan Sherly, Syifa duduk di hadapan Lestari dengan dokumen yang kini sudah lebih lengkap daripada salinan putusan yang diterimanya dahulu. Tahap administrasi telah ditindaklanjuti selama pekan-pekan yang lewat. Hari ini ia membawa satu catatan tentang keadaan pribadinya, memastikan kapan masa yang masih harus dijalaninya benar-benar selesai.
Lestari memeriksa dokumen dan tanggal yang ditunjukkan. Ada penjelasan yang dicatat Syifa agar ia tidak sekadar menghitung bulan sejak hari persidangan. Ia mengulang kembali pemahamannya, lalu menanyakan bagian yang masih membuatnya ragu. Sesudah mendapat jawaban, ia menandai waktu tindak lanjut yang diperlukan, kira-kira dua pekan lagi.
Ia belum membuat janji baru dengan siapa pun. Di luar kantor Lestari, Murni menunggunya sambil membawa kantong berisi bunga. Mereka sudah sepakat mengunjungi makam Wardi dan Salimah setelah urusan tersebut selesai.
'Kamu masih ingin ke sana sekarang?' tanya Murni.
Syifa mengangguk. Ia mengambil kantong itu supaya Murni dapat merapikan kerudungnya sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Matahari belum terlalu tinggi ketika keduanya sampai. Syifa berhenti di depan dua makam yang berdampingan dan menurunkan kantong dari tangannya.
Ia membersihkan daun kering yang tersangkut di pinggir, sementara Murni duduk sedikit menjauh. Nama Wardi dan Salimah masih terbaca jelas. Syifa menyentuh bagian tanah yang mengeras, lalu menarik tangannya kembali ke pangkuan.
Dulu ia membayangkan datang ke tempat ini bersama Ryan setelah mereka mempunyai anak. Ia pernah menyusun percakapan dalam kepala tentang apa yang hendak diceritakan kepada orang tuanya. Kini yang dibawanya justru kabar tentang berakhirnya perkawinan itu.
'Aku masih di rumah,' katanya pelan. 'Tokonya juga tetap berjalan.'
Setelah kalimat itu, ia lama tidak berbicara. Murni tidak menyuruhnya meneruskan atau menghiburnya dengan janji akan segera memperoleh pengganti. Syifa menaburkan bunga sedikit demi sedikit. Ada bagian yang jatuh di luar tepi; ia memungutnya dan memindahkannya kembali.
'Aku pernah marah sekali,' lanjutnya. 'Sampai kupikir kalau dia ikut sakit, aku akan lebih ringan.'
Ia mengusap pipi dengan ujung tisu. Ingatan tentang caranya sendiri bertindak tidak lagi dapat disimpan hanya sebagai cerita bahwa ia adalah pihak yang terluka. Ada uang yang sudah dikembalikannya. Ada keputusan yang tidak ingin diulangnya, meskipun tidak dapat dihapus dari hari-hari yang telah terjadi.
'Aku sedang mencoba membereskan bagianku.'
Murni mendekat setelah Syifa memanggilnya. Mereka duduk beberapa saat sebelum pulang. Syifa menolak ketika Murni menawarkan membawakan kantong kosong; ia masih dapat memegangnya sendiri. Namun di bagian jalan yang tidak rata, ia menerima uluran tangan tetangganya itu.
Di rumah, mereka mencuci tangan dan menyiapkan minum. Syifa mengambil buku resep yang dikembalikan Dina beberapa waktu lalu. Ia menunjukkan catatan Salimah kepada Murni, lalu tertawa kecil ketika Murni mengaku pernah gagal mencoba masakan yang sama karena salah mengukur air.
'Ibuku juga pernah gagal,' kata Syifa, menunjuk catatan yang dicoret pada halaman sebelah.
Mereka menutup buku sebelum menyiapkan makan siang. Setelah Murni pulang, Syifa menyimpan dokumen dari Lestari di tempatnya dan membuka pesan Hadi mengenai pekerjaan toko. Ia membalas hal yang memerlukan persetujuannya, kemudian beristirahat sebelum berangkat sore.
Di rumah kerabatnya, Sherly menghitung uang yang telah dipisahkan dari upah pekerjaan mengemas. Ia mencocokkannya dengan catatan penerimaan, termasuk upah-upah yang benar-benar sudah dibayar. Ia tidak memasukkan pekerjaan yang masih akan dikerjakan sebagai uang yang sudah dimiliki.
Satu juta rupiah kini dapat disisihkannya untuk pokok pinjaman yang belum selesai. Sherly memasukkan uang itu ke tempat terpisah dari belanja harian. Kemudian ia menelepon Bu Intan untuk membicarakan langkah pembayaran, bukan langsung menemui Reno seorang diri.
'Pokok sisanya empat juta,' kata Sherly setelah catatan lama dibuka. 'Aku sudah bisa menyediakan satu juta dari upahku.'
Intan meminta bukti penerimaan upah disimpan bersama perhitungannya. Kekurangan tiga juta belum boleh disebut terbayar. Tuntutan tambahan enam juta juga tetap harus dibedakan dari pokok yang diakui. Pengaduan ancaman yang telah diajukan mempunyai tindak lanjut sendiri.
Sherly mengabarkan rencana itu kepada Ryan malamnya. Ia tidak meminta Syifa atau toko menyediakan kekurangan. Ryan mendengarkan sambil melihat pengeluaran pribadinya. Kewajiban toko telah lunas, tetapi ia masih harus menghitung kebutuhan mereka sebelum menyatakan mampu membantu.
'Aku periksa dulu uang yang benar-benar bisa kupakai,' katanya. 'Besok aku beri jawaban. Jangan bilang kepada Bu Intan bahwa tiga juta itu sudah siap dariku malam ini.'
Sherly menerima jawaban tersebut. Ia meminta Ryan memberi kabar sesuai janji, karena ia harus menyusun langkah bersama pendamping. Setelah panggilan selesai, ia menulis satu juta pada sisi uang yang tersedia dan membiarkan kolom sisanya belum terisi.
Sementara itu, Athar sudah memberi kabar kepada Bagas bahwa ia dapat pulang akhir pekan untuk membantu urusan rumah yang telah dibicarakan. Ia memeriksa waktu perjalanan sebelum membeli kebutuhan yang diminta ayahnya. Ros sempat menitipkan tambahan lewat Bagas; Athar meminta daftar itu dikirim sore, ketika ia belum meninggalkan tempat belanja.
Ia tidak memasukkan kunjungan kepada Syifa ke dalam jadwal yang sama. Jika hendak bertemu, ia akan menanyakannya tersendiri setelah waktunya tepat. Malam itu ia hanya menerima kabar singkat bahwa Syifa sudah pulang dari menemui Lestari dan berziarah. Athar membalas menanyakan apakah ia ingin bercerita. Ketika Syifa mengatakan masih ingin beristirahat, Athar menutup percakapan dengan ucapan selamat malam.
Di apartemennya, ia memeriksa kembali barang titipan Bagas. Satu barang belum didapat, sehingga ia mengabarkan kekurangan itu sebelum pulang. Ia tidak ingin ayahnya menunggu dengan anggapan semua yang diminta sudah tersedia.
Malam semakin sepi ketika Syifa menyelesaikan makan di rumahnya. Ia teringat tangannya yang tadi sempat meraih Murni di jalan makam. Menerima bantuan kecil itu tidak membuat semua keputusan harus diserahkan kepada orang lain. Ia menyimpan sisa makanan dengan menutup wadahnya rapat, lalu menyiapkan pakaian kerja untuk esok. Di meja, catatan dari Lestari tetap terlipat di dalam map, menunggu waktu yang memang belum tiba.