Sabtu pagi, setelah meminjam ember semalam, Murni mengetuk pagar Syifa untuk mengabarkan bahwa suaminya sudah memperoleh orang yang dapat memeriksa atap. Syifa baru selesai sarapan. Ia membawa sandal ke teras dan bertanya apakah boleh ikut melihat setelah pekerjaan pemeriksaan dimulai.
'Boleh. Tapi jangan naik sendiri,' kata Murni. 'Aku saja disuruh menunggu di bawah.'
Di rumah tetangganya, tikar tergulung bersandar pada dinding. Ember pinjaman menampung air keruh yang tersisa dari kebocoran semalam. Anak Murni membawa buku ke ruang lain, sementara suaminya menyiapkan tempat agar tangga dapat berdiri dengan aman.
Syifa menunggu bersama Murni. Orang yang memeriksa atap turun membawa potongan genting retak, lalu menunjukkan letak celah yang membuat air masuk. Ada bagian yang perlu diganti dan dudukannya harus dirapikan. Ia menyebut kebutuhan bahan serta pekerjaan yang dapat dilakukan setelah bahan tersedia.
Murni memanggil suaminya untuk mendengar penjelasan yang sama. Mereka membicarakan uang yang telah disiapkan dan bagian biaya yang belum tercukupi. Syifa tidak langsung menjawab atas nama keduanya. Setelah Murni menoleh kepadanya, barulah ia menawarkan membantu selisih dari uang pribadinya.
'Aku bisa membantu bagian yang kurang itu,' katanya. 'Kalau kalian setuju. Pembeliannya tetap diperiksa sesuai yang dibutuhkan.'
Murni meremas ujung bajunya. Ia sempat menawarkan mengangsur, tetapi Syifa menjelaskan bantuan itu tidak dimaksudkan sebagai pinjaman. Suami Murni mengulang jumlah kebutuhan yang telah disebut, lalu memastikan pekerjaan dapat dimulai setelah bahan dibeli.
Tidak ada uang kas toko yang diambil dari laci. Syifa mengatur bantuan melalui dana pribadinya dan mencatat pengeluarannya di ponsel. Murni ikut memastikan jenis bahan yang dibeli. Ketika barang tiba, mereka mencocokkan jumlahnya sebelum pekerja mulai memasangnya.
Menjelang siang, sebagian genting sudah diganti. Pekerja meminta area di bawahnya dikosongkan hingga pemeriksaan selesai. Murni mengangkat wadah, sedangkan Syifa membantu membawa gulungan tikar ke ruang yang tidak terkena debu. Mereka menggeser meja dengan bantuan suami Murni, bukan menariknya sendiri saat kaki meja masih tersangkut.
Di dapur, Murni menyiapkan minum. Ia mengeluarkan makanan yang sudah dimasaknya pagi, membaginya ke beberapa piring. Syifa menerima bagian untuk dimakan bersama setelah mencuci tangan. Sesekali keduanya mendengar bunyi dari atap dan menunggu orang yang bekerja memberi kabar.
'Kemarin aku sudah membayangkan harus memindah semua barang lagi kalau hujan datang,' ujar Murni.
'Embernya boleh di sini dulu. Sampai benar-benar diperiksa.'
'Aku akan cuci sebelum mengembalikan.'
Syifa mengangguk. Ia menanyakan buku anak Murni yang sempat terkena air. Murni menunjukkan satu buku yang bagian bawahnya bergelombang. Keduanya memisahkan halaman yang masih lembap dan meletakkannya terbuka pada tempat yang mendapat udara. Anak itu mengeluh gambarnya menjadi kabur, lalu memilih mengerjakan bagian lain sambil menunggu.
Syifa tidak menjanjikan semua dapat kembali seperti semula. Ia membantu menaruh lembar yang lepas agar tidak hilang, lalu menyerahkan buku itu kembali kepada Murni. Ketika ponselnya berbunyi, ia keluar ke teras agar percakapan tidak bercampur dengan suara pekerjaan.
Hadi mengabarkan satu pembeli datang menanyakan barang yang belum tersedia. Syifa meminta cirinya dicatat, tanpa menjanjikan barang dapat didatangkan hari itu. Bila pelanggan bersedia menunggu jawaban, mereka akan memeriksa pilihan pemasok saat Syifa kembali. Tidak ada kebutuhan meninggalkan pekerjaan toko untuk menjadi penonton perbaikan atap sepanjang hari.
Sebelum Syifa berangkat, suami Murni menemukan bahwa kain penutup meja masih basah di bagian bawah. Mereka melepaskannya dan mengeringkan permukaan kayu agar kelembapan tidak terkurung setelah meja dikembalikan. Murni memindahkan piring ke rak lain, lalu meminta anaknya tidak menarik tikar sampai lantai benar-benar bersih.
Syifa menggulung bagian kain yang kering agar air tidak mengenai buku yang baru dipisahkan. Saat membawanya ke tempat jemur, ia hampir menaruhnya pada kursi yang sedang dipakai pekerja untuk menyimpan alat. Ia berhenti dan bertanya di mana tempat yang kosong. Murni menunjuk tali di samping rumah. Mereka membentangkannya berdua, memastikan ujungnya tidak menyentuh tanah. Syifa mencuci tangan lagi dengan air bersih dari keran sebelum mengambil tas yang diletakkannya di teras.
Ia berpamitan setelah Murni mengatakan dapat melanjutkan urusan di rumah bersama suaminya. Sebelum pergi, Syifa melihat pekerja sedang memeriksa sambungan bagian yang diperbaiki. Pemeriksaan akhir masih perlu dilakukan. Murni akan mengabarinya, termasuk bila ditemukan bagian lain yang ternyata memerlukan tindakan.
Sore harinya, Syifa menerima foto atap yang sudah ditutup kembali. Pekerjaan utama selesai dan pemeriksaan dengan air belum menunjukkan tetesan pada tempat yang sama. Murni masih memilih membiarkan tikar tergulung hingga yakin keadaan di bawahnya kering. Jika hujan turun lagi, mereka akan mengamati hasilnya dari dalam.
Athar menelepon menjelang malam. Ia sudah memastikan rencana pulang dan menanyakan apakah Syifa ingin berjalan sebentar ke sungai pada Minggu sore. Syifa menimbang jadwalnya sebelum mengiyakan. Ia tidak perlu menunggu orang lain menentukan berapa lama ia boleh berada di sana.
'Aku ingin bicara sesuatu,' kata Athar.
'Tentang apa?'
'Tentang perasaanku. Tapi aku tidak mau membicarakannya sambil kamu sedang menerima pelanggan.'
Syifa terdiam sebentar. Ia menatap pintu toko yang sudah dikunci, lalu menjawab bahwa mereka dapat membicarakannya Minggu. Athar tidak meminta jawaban atas perasaan yang bahkan belum dijelaskannya. Setelah waktu bertemu disepakati, mereka mengakhiri panggilan.
Di rumah kerabat, Sherly menerima kabar dari Bu Intan bahwa langkah pembayaran dapat dibicarakan pada pertemuan yang sudah disiapkan. Dana satu juta miliknya dan tiga juta bantuan Ryan telah dipisahkan beserta bukti yang diperlukan. Sherly memeriksa kembali keterangannya, kemudian mengirim jawaban bahwa ia dapat hadir. Ia meminta Dina mengetahui waktunya, tetapi tidak menyebarkan alamat tempat tinggalnya kepada Reno.
Malam itu hujan belum turun lagi. Di rumah Murni, ember tetap berada dekat sudut yang pernah bocor. Di rumah Syifa, sepatu kerja ditaruh untuk dibersihkan esok pagi. Ada urusan yang sudah dikerjakan hari ini, ada hasil yang masih harus dilihat setelah hujan, dan ada percakapan yang dipilihnya sendiri untuk didengar pada Minggu sore.