Jumat menjelang siang, Ryan menunggu pesan dari Syifa di tempat kerjanya. Bukti transfer dua juta rupiah sudah terkirim, tetapi ia belum berani menandai pembayaran itu selesai sebelum ada konfirmasi penerimaan. Hari ini tepat dua pekan sesudah angsuran sebelumnya. Sisa kewajiban yang empat juta akan berkurang menjadi dua juta jika uang itu sudah benar-benar masuk.
Ponselnya bergetar ketika ia hendak mengangkat satu bungkusan. Hadi mengirim pesan bahwa penerimaan telah diperiksa Syifa dan dicatat. Ryan meletakkan kembali ponsel, lalu membawa bungkusan itu ke tempat yang diminta. Pekerjaannya belum selesai hanya karena satu urusan pribadi sudah mendapat jawaban.
Pada waktu istirahat ia membuka catatan pengeluaran. Masih ada sewa tempat tinggal, makan, serta kebutuhan Sherly yang harus dipenuhi. Ia mengurangi pengeluaran yang bisa ditunda dan membiarkan jumlah pembayaran berikut tetap tercatat. Dua pekan lagi ada dua juta terakhir. Ia tak dapat menggunakan uang yang sudah disiapkan untuk itu seolah-olah pendapatan bebas.
Sebelum pesan konfirmasi itu dikirim, di toko Syifa telah meminta Hadi membawa catatan penerimaan sebelumnya. Mereka mencocokkan sepuluh juta pertama, kemudian tiga pembayaran masing-masing dua juta, termasuk yang masuk hari ini. Jumlah yang telah diterima enam belas juta. Masih dua juta dari kewajiban delapan belas juta yang disepakati.
Hadi menyebut tanggal pembayaran terakhir sambil menunjuk kolom berikut.
'Jumat dua pekan lagi,' jawab Syifa. 'Yang ini sudah boleh ditandai diterima.'
Ia mengirim konfirmasi kepada Lestari dengan salinan bukti yang diperlukan. Catatan tentang pengembalian uang pribadi yang pernah diambilnya berada di berkas berbeda. Uang itu telah dikembalikan penuh sebelumnya; ia tidak menuliskannya sekali lagi sebagai pembayaran toko.
Setelah Hadi menyimpan berkas, telepon dari pelanggan kemarin masuk. Ukuran kamar sudah diperiksa bersama anaknya. Mereka setuju dengan meja tanpa laci dan meminta gambar akhir sebelum membayar. Syifa membandingkan angka yang baru dikirim dengan catatannya, lalu menemukan selisih kecil pada panjang dinding.
'Ini diukur sampai kusen atau sampai tembok?' tanyanya.
Sang pelanggan meminta waktu memeriksa foto. Ternyata angka pertama memasukkan lebar kusen. Syifa meminta Hadi mengoreksi gambar sebelum mengirimkannya kembali. Baru setelah pelanggan menyetujui ukuran dan harga, pembayaran uang muka diterima dan pesanan diteruskan kepada pembuat.
Hadi menempelkan gambar yang sudah disetujui pada catatan pesanan. Syifa membubuhkan tanggal, kemudian menyingkirkan gambar lama supaya tidak ikut dibaca sebagai instruksi pengerjaan. Keduanya kembali melayani orang yang datang mencari kursi.
Sore itu, Sherly duduk di rumah kerabatnya bersama Dina. Ia belum membawa semua pakaiannya. Kunjungan hari ini untuk membicarakan kemungkinan tinggal sementara di sana, bukan pindah mendadak sambil menunggu orang lain memutuskan hidupnya.
Dina memperhatikan ruang yang akan dipakai. Jendelanya dapat dibuka, dan kamar mandi tidak terlalu jauh. Sherly meminta izin mencoba menutup pintu dari dalam. Setelah membukanya kembali, ia duduk di tepi tempat tidur untuk mengatur napas.
'Kalau malam aku butuh bantuan, boleh mengetuk?' tanyanya kepada kerabat yang menemaninya.
Perempuan itu mengangguk dan menjelaskan siapa saja yang biasanya berada di rumah. Sherly mendengarkan, lalu bertanya tentang menyimpan barang pribadinya. Ia belum menyetujui hari kedatangan sebelum mengetahui Ryan dapat membantu mengantar barang dan bagaimana jadwal pemeriksaannya nanti.
Dina sempat hendak menjawab untuknya, tetapi Sherly lebih dulu mengambil ponsel.
'Aku yang bicara dengan Ryan, Bu.'
Ryan baru membalas setelah pekerjaan selesai. Mereka berbicara lewat telepon, sementara Dina berjalan ke teras memberi ruang. Sherly menjelaskan pilihan kamar dan alasan ia ingin mencobanya. Ia tetap istri Ryan. Tinggal terpisah sementara tidak menghapus kebutuhan sehari-harinya maupun tanggung jawab yang harus dibicarakan suaminya.
'Aku bisa membawa barang pada hari yang kita sepakati,' kata Ryan. 'Tapi aku perlu tahu dulu apa saja yang harus dibawa. Jangan sampai barang yang masih kamu pakai justru tertinggal.'
'Aku buat daftar malam ini. Belum semuanya. Beberapa pakaian dan perlengkapan mandi dulu.'
Ryan bertanya apakah ia ingin ditemani saat pemeriksaan berikutnya. Sherly membuka catatan jadwal sebelum menjawab. Mereka menyepakati untuk memastikan jamnya kembali menjelang hari itu. Percakapan tersebut tidak membuat seluruh masalah perkawinan mereka selesai, tetapi kali ini Sherly mengakhiri panggilan setelah pertanyaannya mendapat jawaban.
Saat Dina kembali masuk, Sherly mengatakan ia ingin mencoba tinggal di kamar itu setelah urusan perlengkapan siap. Dina bertanya apakah rumahnya membuat Sherly tidak nyaman. Sherly menatap lututnya sebentar sebelum mengangkat wajah.
'Aku ingin punya tempat untuk beristirahat tanpa harus menjelaskan semua percakapan di telepon, Bu.'
Dina terdiam. Tangannya bergerak meratakan lipatan ujung kerudung.
'Kalau Ibu datang, kabari dulu,' tambah Sherly. 'Aku juga akan memberi kabar.'
Mereka pulang sebelum gelap. Sherly masih harus menyusun daftar barang, sedangkan Dina membawa pulang pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan mengatakan bahwa ia sedang menjaga menantu.
Sesampainya di rumah, Sherly membuka tas dan menghitung pakaian yang masih bersih. Dina menawarkan koper besar, tetapi ia memilih tas yang sanggup diangkat sendiri. Barang yang lebih berat akan menunggu Ryan. Ketika menemukan pakaian yang jahitannya menekan pinggang, ia memisahkannya tanpa memaksakan diri mencobanya lagi.
Ia juga menyimpan nomor Bu Intan pada bagian kontak yang mudah ditemukan. Urusan ancaman yang sudah diadukan belum selesai. Bila ada pesan baru, ia akan menyimpannya dan meneruskannya melalui pendamping, seperti yang telah dibicarakan. Ia tidak menelepon Reno untuk mengumumkan alamat tempat tinggal yang sedang disiapkan.
Daftar itu kemudian difoto dan dikirim kepada Ryan. Pada baris terakhir ia menulis bahwa hari pengantaran masih harus disepakati. Ryan membalas akan membacanya setelah mandi. Sherly meletakkan ponsel, merapikan kembali pakaian yang belum akan dibawa, lalu mengambil air minum.
Malamnya, Syifa mengecek pesan Lestari. Konfirmasi pencatatan pembayaran sudah diterima. Ia menutup berkas setelah memastikan tanggal berikutnya tetap dua pekan lagi. Di dapur, sisa masakan semalam tinggal dipanaskan. Ia mengambil piring, lalu teringat pelanggan meja belajar yang akhirnya memilih ukuran bersama anaknya. Besok ia akan memeriksa apakah pembuat sudah menerima gambar akhir yang benar.