Minggu pagi, Ryan membersihkan tempat tinggal sewanya sebelum menemui Sherly. Ia menjemur alas tidur, membilas gelas, dan menutup kembali tempat air. Saat hendak memasukkan pakaiannya ke lemari kecil, ia menemukan satu tas masih terikat sejak dibawa dari rumah Syifa. Isinya miliknya sendiri, tetapi terlalu lama dibiarkan menumpuk di sudut.
Ryan membukanya. Pakaian kerja dipisahkan dari yang perlu dicuci, sedangkan kertas lama diletakkan dalam map. Ia membuang bungkus kosong tanpa ikut membuang catatan yang mungkin masih diperlukan. Setelah sudut itu lapang, ia mengirim kabar kepada Sherly bahwa ia akan datang sesuai waktu yang disepakati semalam.
Di rumah Dina, tas pakaian Sherly sudah berada dekat pintu. Dina membawa sebuah bungkusan lain dari dapur dan hendak memasukkannya ke dalam tas itu.
'Ini makanan. Biar tidak merepotkan orang di sana,' katanya.
Sherly memeriksa isinya sebelum menerima. Ia memindahkan makanan ke wadah yang tutupnya rapat. Saus yang mudah tumpah dipisahkan, lalu dibungkus lagi.
'Aku bawa ini. Tapi tas pakaiannya jangan dicampur, Bu.'
Dina menyerahkan kantong terpisah. Tidak ada perdebatan besar. Ryan mengangkat tas yang lebih berat setelah Sherly menunjukkannya, sementara Sherly membawa barang ringan dan ponselnya sendiri. Mereka menunggu Dina mengunci pintu sebelum berangkat bersama.
Rumah Dina tetap rumah Dina. Perempuan itu tidak sedang meninggalkan tempat tinggalnya karena perceraian anaknya. Ia ikut hari ini untuk mengetahui jalan dan membantu menata barang, kemudian akan pulang lagi. Ryan juga tidak membawa seluruh isinya ke rumah sewa yang ditempatinya.
Di rumah kerabat Sherly, mereka disambut di depan. Ryan meletakkan tas sesuai petunjuk, lalu menunggu ketika Sherly mencoba menentukan posisi barang. Lemari yang disediakan tidak besar. Beberapa pakaian lebih baik dilipat daripada digantung berdesakan.
Sherly mengambil sendiri pakaian yang perlu diletakkan di rak atas. Ketika tangannya mulai pegal, ia meminta Ryan menyelesaikannya. Dina mengatur wadah makanan di tempat yang diizinkan pemilik rumah, setelah bertanya bagian mana yang kosong.
Ryan memeriksa apakah tas yang dibawanya masih menyimpan sesuatu. Sebuah kantong berisi perlengkapan mandi terselip di dasar. Ia meletakkannya di meja dan memanggil Sherly yang sedang mencuci tangan.
'Ini mau ditaruh di mana?'
'Sebentar. Aku lihat tempatnya dulu.'
Ryan menunggu. Pertanyaan sederhana itu terasa lebih berguna daripada menyatakan bahwa ia akan mengurus semuanya. Setelah kembali, Sherly menunjukkan rak yang sudah diizinkan untuk dipakainya. Ryan memindahkan kantong ke sana, kemudian kembali ke kamar.
Mereka duduk dengan pintu terbuka. Dina berada di ruang depan bersama kerabat yang menerima Sherly. Ryan mengeluarkan uang untuk kebutuhan sehari-hari sesuai yang sudah mereka bicarakan. Sherly menghitungnya dan menanyakan kebutuhan mana yang harus dikabarkan lagi bila belum tercukupi.
'Pemeriksaan jangan diambil dari uang makan,' katanya.
'Kabari jadwal dan kebutuhan pembayarannya. Aku siapkan terpisah.'
'Aku juga masih mau meneruskan pekerjaan ringan selama sesuai keadaan. Kalau perlu berhenti, aku akan bicara dengan orang yang memberi pekerjaan.'
Ryan mengangguk. Ia tahu pekerjaan mengemas itu menghasilkan upah bagi Sherly. Ia tidak memperlakukannya sebagai alasan untuk berhenti memenuhi tanggung jawabnya, apalagi mengambil hasilnya tanpa bertanya.
Sherly menyimpan uang di tempat tertutup. Sebelum Ryan berdiri, ia memintanya menunggu sebentar.
'Aku tinggal di sini bukan berarti semua yang dulu tidak perlu dibicarakan lagi.'
'Aku tahu.'
'Kalau belum bisa menjawab, bilang begitu. Jangan membuat aku mendengar jawaban yang berbeda dari orang lain.'
Ryan menunduk pada tangannya. Ada banyak penjelasan yang pernah digunakannya untuk menunda pertanyaan. Hari itu ia tidak menambahkan alasan baru. Ia meminta Sherly mengirim jadwal pemeriksaan yang sudah dipastikan, lalu mencatat hari mereka dapat berbicara lagi tanpa terburu-buru.
Dina masuk untuk berpamitan. Ia sempat meraih tas kosong yang terlipat, lalu mengembalikannya ketika Sherly mengatakan tas itu masih diperlukan untuk cucian. Setelah memastikan tidak ada makanan tertinggal di kendaraan, Dina pulang bersama Ryan. Sherly mengantar hanya sampai pintu, kemudian kembali menata kamarnya.
Dalam perjalanan, Dina bertanya apakah Ryan akan makan di rumahnya. Ryan menjawab ia akan singgah mengantar ibunya lebih dulu, lalu kembali ke tempat sewa. Ada pakaian yang sedang dijemur dan harus diangkat sebelum hujan. Dina tidak meminta dibawa menetap di sana.
Menjelang sore, Sherly menelepon setelah selesai beristirahat. Ryan sudah berada di rumah sewanya. Ia mengangkat telepon sambil mematikan keran air, lalu mendengarkan penjelasan mengenai jadwal pemeriksaan berikutnya. Mereka memilih waktu berangkat dan tempat bertemu. Ryan menuliskannya sebelum panggilan berakhir.
Sherly menaruh ponsel dan membuka jendela yang menghadap halaman. Suara dari ruang depan masih terdengar. Ia keluar untuk menanyakan letak tempat mencuci piring, membawa wadah makanan yang sudah kosong. Ia ingin mengetahui kebiasaan rumah itu melalui pekerjaan sehari-hari, bukan dengan menebak lalu merasa bersalah ketika salah.
Ketika hendak mengganti pakaian, ia menyadari salah satu baju yang dipilihnya masih berada di rumah Dina. Ia menuliskan barang itu dalam pesan, tetapi tidak meminta Ryan kembali malam itu juga. Masih ada pakaian lain yang dapat dipakai. Dina membalas akan menyimpannya hingga kunjungan berikutnya yang disepakati.
Sherly kemudian merapikan alas tempat tidurnya. Kerabatnya mengetuk untuk menanyakan apakah lampu lorong perlu dibiarkan menyala. Ia memilih menyalakannya malam itu karena belum terbiasa dengan arah kamar mandi. Setelah pintu tertutup kembali, ia dapat melihat garis cahaya di bawahnya. Kebutuhan kecil yang tadi terasa sungkan diucapkan ternyata memperoleh jawaban sederhana. Ia meletakkan sandal di sisi yang mudah diraih, lalu berbaring tanpa mengenakan lagi pakaian yang menekan pinggangnya.
Malam pertamanya di tempat baru tidak langsung membuat tidur terasa mudah. Ia terbangun sekali karena bunyi pintu, lalu mengingat bahwa kerabatnya memang pulang agak malam. Setelah minum, ia memeriksa sekali lagi bahwa barang yang dibutuhkannya dapat dijangkau. Tas kosong disandarkan di dekat lemari, dengan resleting yang sudah ditutup. Besok ia akan mengabarkan kepada Dina bahwa ia sudah sampai dan beristirahat baik-baik, tanpa harus menunggu ditanya berulang kali.