Kamis pagi, Syifa mengangkat pot kecil dari ambang jendela ruang makan. Bagian bawahnya meninggalkan lingkaran basah pada kayu. Ia mengelapnya, lalu memindahkan pot itu ke teras. Meja tersebut akan dipakainya lagi untuk makan, setelah beberapa pekan lebih sering dipenuhi kertas yang dibawanya pulang dari toko.
Salinan putusan yang diterimanya Selasa lalu sudah tersimpan bersama penjelasan Lestari. Ada tahap administrasi yang masih berjalan. Syifa tidak menaruh map itu di atas piringnya, tetapi ia juga tidak membuang pengingat jadwal dari ponsel. Kedua hal itu dapat dikerjakannya tanpa harus memilih salah satu.
Ketika air untuk menyeduh teh mendidih, bel depan berbunyi. Dina berdiri di luar pagar sambil membawa kantong kain. Syifa mematikan kompor sebelum mengambil kunci.
'Ada yang tertinggal?' tanyanya.
'Bukan barang Ryan. Ini punyamu.'
Dina mengeluarkan buku resep bersampul cokelat. Syifa mengenali ujung plastik pelindung yang terlipat, juga noda minyak dekat sudut bawah. Ia sendiri yang membelikan plastik itu ketika tulisan pada sampul mulai pudar.
'Dulu Ibu meminjamnya untuk mencoba kue,' kata Dina. 'Terbawa pulang, lalu terselip di antara buku di lemari. Waktu merapikan kemarin baru ketemu.'
Syifa menerima buku itu. Pada halaman pertama ada tulisan tangan Salimah, nama masakan dengan garis bawah yang sedikit miring. Jempolnya tertahan di tepi kertas.
'Kupikir hilang,' katanya.
'Ibu seharusnya mengembalikannya dari dulu.'
Dina tidak mengulurkan tangan untuk menyentuh bahunya. Ia berdiri menunggu, sementara Syifa membalik dua halaman yang pernah lepas dan direkatkan ibunya dengan selotip. Masih ada catatan tentang tepung yang terlalu banyak pada percobaan pertama.
'Terima kasih sudah dibawa.'
'Ibu boleh duduk sebentar? Dari rumah tadi jalan kaki.'
Syifa membuka pagar lebih lebar. Mereka duduk di teras, bukan masuk ke ruang makan. Ia mengambil segelas air untuk Dina dan cangkir tehnya sendiri. Buku diletakkannya di pangkuan agar tidak terkena embun pada gelas.
Dina bertanya apakah toko sedang ramai. Syifa menjawab singkat tentang pesanan yang harus diperiksa sore nanti. Percakapan sempat berhenti ketika tetangga lewat dengan sepeda motor. Dina menunggu suaranya menjauh sebelum berbicara lagi.
'Kalau ada barang seperti ini lagi, Ibu akan kabari dulu. Tidak langsung datang.'
'Ya. Aku bisa sedang di toko.'
'Ibu mengerti.'
Tidak ada pesan tentang keinginan Ryan atau permintaan Syifa mengingat hal-hal baik perkawinannya. Setelah airnya habis, Dina mengembalikan gelas ke nampan dan berpamitan. Rumahnya sendiri dapat dicapai dengan berjalan kaki. Syifa mengantar sampai pagar, lalu melihat kantong kain kosong terayun di tangan perempuan itu.
Ia kembali membuka buku resep sebelum berangkat. Di antara dua halaman terselip potongan kertas bergaris. Salimah pernah menulis daftar bahan untuk masakan yang disukai Wardi. Syifa meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia memotret halaman itu agar bisa membeli bahan sepulang kerja.
Di toko, Hadi sedang menahan sebuah rak di sisi meja pelayanan. Seorang pelanggan ingin memesan meja belajar untuk anaknya, tetapi ruang yang tersedia lebih sempit daripada ukuran barang pajangan. Pelanggan itu membawa ukuran panjang dinding, tanpa memperhitungkan pintu yang membuka ke dalam.
'Kalau mengikuti angka ini, ujungnya kena daun pintu,' kata Hadi.
Syifa meminta pelanggan menunjukkan arah bukaan pada gambar sederhana. Mereka menggeser selembar kardus di lantai untuk menandai lebar meja. Ketika pelanggan memperagakan posisi kursi, bagian belakang kursi justru menutup jalan menuju lemari.
'Anak saya biasanya mengerjakan tugas di ruang makan,' ujar perempuan itu. 'Saya ingin dia punya tempat sendiri, tapi kamarnya memang kecil.'
Syifa berjongkok di sebelah kardus. Ia memutar tandanya, menempatkan sisi pendek pada garis yang mewakili dinding. Masih ada ruang untuk membuka pintu, tetapi laci di sebelah kanan harus dihilangkan agar kursi dapat masuk.
'Bisa dibuat tanpa laci ini,' katanya. 'Namun saya ingin ukuran ruangnya diperiksa sekali lagi. Kalau setuju sekarang lalu ternyata salah, barangnya akan merepotkan Ibu.'
Pelanggan menelepon keluarganya untuk meminta ukuran jarak pintu ke sudut kamar. Sambil menunggu, Hadi mengeluarkan contoh bentuk kaki meja. Syifa menolak memberi janji waktu sebelum pembuat mengonfirmasi perubahan. Ia mencatat nomor pelanggan, lalu menawarkan mengirim gambar ukuran sore itu.
Pelanggan akhirnya memilih pulang tanpa membayar uang muka. Ia akan mengukur bersama anaknya terlebih dahulu. Syifa merapikan kardus, sementara Hadi menyimpan catatan agar pesanan tersebut tidak masuk daftar produksi sebelum disetujui.
'Biasanya orang ingin langsung diberi jawaban bisa,' ujar Hadi.
'Aku juga hampir bilang begitu tadi.'
Syifa mengusap lutut celananya yang terkena debu. Ketika berdiri, ia melihat rak kecil di dekat meja pelayanan masih miring karena salah satu kakinya bertumpu pada sisa kardus. Hadi mengangkat rak, dan Syifa menarik potongan itu. Mereka mencoba kestabilannya sekali lagi sebelum meninggalkannya.
Menjelang tutup, gambar meja sudah dikirim setelah pembuat menjawab bahwa model tanpa laci dapat dikerjakan. Pelanggan belum memberikan persetujuan akhir. Syifa membiarkan status pesanan tetap menunggu, lalu pulang membawa bahan masakan yang dibelinya di perjalanan.
Malamnya, ia membuka buku Salimah di meja makan. Api pertama terlalu besar dan membuat bumbu cepat mengering. Syifa mengecilkannya, menambahkan sedikit air, lalu mencicipi kembali. Hasilnya belum sama dengan ingatannya, tetapi cukup enak untuk dimakan hangat.
Ia mengisi satu piring dan duduk di tempat yang sudah dibersihkannya pagi tadi. Sesudah makan, buku itu dimasukkan ke rak yang mudah dijangkau. Besok ia masih harus membuka toko dan menunggu jawaban pelanggan. Untuk malam ini, ia ingin mencuci panci sebelum sisa bumbunya mengeras.
Ia mengambil wadah kecil untuk menyimpan sisa masakan. Tutup yang ditemukannya terlalu besar, sehingga ia harus membuka rak bawah dan mencari pasangannya. Di sana ada dua wadah retak yang sudah lama dibiarkan. Syifa memisahkannya dari wadah yang masih bisa dipakai, lalu menyimpan makanan untuk esok pagi di rak kulkas. Ia tidak mengirim foto masakan kepada siapa pun. Sebelum memadamkan lampu dapur, ia menaruh buku itu jauh dari bak cuci supaya percikan air tidak merusak tulisan ibunya yang sudah mulai tipis.