Selasa berikutnya, sepekan setelah pembacaan putusan, Syifa menemui Bu Lestari untuk menerima salinan resmi yang sudah tersedia. Ia datang setelah memastikan Pak Hadi dapat menjaga toko. Tasnya tidak penuh seperti ketika menyiapkan agenda keterangan; kali ini ia membawa catatan pertanyaan yang ingin dipastikan jawabannya.
Bu Lestari menunjukkan dokumen sebelum menyerahkannya. Syifa membaca nama, nomor perkara, dan tanggal, mencocokkan bagian yang perlu diperiksa dengan penjelasan pendampingnya. Ia tidak sekadar menandatangani penerimaan lalu menyimpan sesuatu yang belum dipahaminya.
'Ini salinan putusan,' kata Bu Lestari. 'Bukan berarti semua dokumen lanjutan sudah terbit hari ini.'
Syifa mengangguk. Ia meminta penjelasan tentang tahap berikut untuk perkaranya, lalu menuliskan bagian yang masih perlu menunggu. Bu Lestari memeriksa catatan itu, membetulkan satu istilah yang keliru ditangkap Syifa. Urusan administrasi masih berjalan; kepastian tahap selanjutnya akan diberikan berdasarkan perkembangan berkas, bukan perkiraan dari orang yang hanya mendengar sebagian cerita.
'Kalau ada yang bertanya sudah selesai atau belum, saya tidak perlu memberi mereka seluruh rincian, kan?'
'Tidak. Kamu boleh mengatakan sedang mengikuti tahap lanjutan. Yang penting kamu sendiri tahu apa yang perlu dilakukan.'
Syifa merasa lebih ringan mendengarnya. Ia tidak ingin menjadikan penjelasan tentang hidupnya sebagai pekerjaan tambahan setiap kali seseorang bertanya. Kepada orang yang perlu membantu, ia akan memberi informasi yang dibutuhkan. Kepada orang lain, jawaban singkat sudah cukup.
Sebelum map ditutup, ia menunjukkan catatan pengembalian dana usaha. Empat juta masih tersisa. Pembayaran berikut dijadwalkan Jumat pekan itu, tepat dua pekan setelah pembayaran sebelumnya, lalu dua juta terakhir pada dua pekan berikutnya.
Bu Lestari mengingatkan agar penerimaan tetap diperiksa pada rekening, bukan hanya dari gambar bukti yang dikirim. Syifa mengangguk. Kebiasaan itu sudah dilakukannya, tetapi ia memahami mengapa harus diteruskan sampai pembayaran terakhir benar-benar diterima.
'Saya belum membuat tanda lunas,' katanya.
'Simpan catatan yang sekarang. Nanti setelah jumlahnya lengkap, baru dibuat sesuai keadaan yang sebenarnya.'
Tidak ada janji bahwa putusan akan membuat Ryan otomatis membayar lebih cepat. Syifa pulang dengan salinan resmi di dalam map dan langkah lanjutan yang lebih jelas. Ia kembali ke toko, memeriksa pekerjaan siang itu, lalu menyimpan map di tas agar dapat dibawa pulang tanpa tercampur dengan nota penjualan.
Pak Hadi menanyakan apakah ia sempat makan sebelum kembali. Syifa baru menyadari bekalnya belum dibuka sejak pagi. Ia mengambil kotak makanan, duduk di ruang belakang, dan meminta waktu sebentar sebelum memeriksa kas. Pegawai di depan tetap melayani pembeli. Tidak ada yang datang meminta melihat map atau bertanya kapan ia akan menikah lagi. Syifa menghabiskan makanannya, mencuci kotak yang kosong, lalu kembali bekerja setelah benar-benar selesai. Untuk siang itu, ia tidak perlu menjawab lebih dari pertanyaan tentang makan.
Menjelang sore, ia pulang lebih dahulu setelah menyelesaikan urusan yang membutuhkan persetujuannya. Rak di kamar perlu dibersihkan, dan ia sudah menundanya beberapa hari. Dengan kursi pendek sebagai pijakan, Syifa menurunkan sebuah kotak kosong dari bagian atas lemari. Debu yang jatuh membuatnya bersin dan berhenti sebentar.
Di belakang kotak, ada kantong kain kecil yang terjepit dekat dinding. Syifa mengambilnya setelah turun dari kursi. Isinya sebuah jam tangan lama dengan tali yang putus pada satu sisi. Ia mengenalinya sebagai milik Ryan, tetapi tetap memotret barang itu sebelum bertanya melalui pesan.
Ryan membalas ketika mendapat waktu dari pekerjaan. Benar, jam itu miliknya. Ia mengira sudah hilang karena lama tidak dipakai dan tidak teringat mencarinya saat mengambil barang Sabtu beberapa pekan sebelumnya.
Syifa meletakkan jam dalam kantong semula. 'Saya titip kepada Pak Hadi besok. Ambil di toko pada waktu yang disepakati dengan beliau. Tidak perlu datang ke rumah.'
Ryan setuju. Ia tidak menggunakan barang yang terselip itu untuk membuka kembali pembicaraan panjang. Syifa memberi tahu Pak Hadi sebelum menitipkan sesuatu, memastikan pegawainya bersedia membantu dan mempunyai waktu untuk menerima pengambilan.
'Besok pagi sebelum toko buka bisa, Bu,' jawab Pak Hadi. 'Saya memang datang lebih awal memeriksa kendaraan pengantar. Biar Ryan mengabari langsung ke saya.'
Syifa menyampaikan pilihan itu. Setelah Ryan dan Pak Hadi menyepakati waktunya, ia menyiapkan kantong tertutup dengan nama penerima. Isinya disebut jelas, satu jam tangan lama. Tidak ada uang, dokumen rumah, atau surat pribadi yang diselipkan agar pertemuan mereka memuat arti lain.
Malam itu ia menyelesaikan membersihkan bagian atas lemari. Tidak ditemukan barang lain yang perlu dikirim. Kotak kosong yang masih baik dipindahkan ke tempat penyimpanan, sedangkan debu dibersihkan sebelum kursi dikembalikan ke teras.
Sesudah mandi, Syifa membaca sebentar salinan putusan yang dibawanya pulang. Ia berhenti pada bagian yang sudah dijelaskan Bu Lestari, mencocokkan sekali lagi dengan catatan, lalu memasukkannya ke lemari berkas. Ia menyimpan map itu dengan baik, tetapi tidak menaruhnya di atas meja makan seperti sesuatu yang harus dilihat sepanjang malam.
Rabu pagi, Pak Hadi mampir sesuai persetujuan untuk mengambil kantong jam. Syifa menyerahkannya di teras sebelum ia sendiri siap berangkat ke toko. Pak Hadi kemudian langsung menuju tempat kerja. Ryan datang pada jam yang dijanjikan, menerima barang di depan toko yang belum dibuka untuk pelanggan, dan memeriksa isinya di hadapan Pak Hadi.
Jamnya memang rusak, tetapi masih dapat diperbaiki. Ryan berterima kasih, lalu mengirim konfirmasi penerimaan kepada Syifa. Ia tidak menunggu perempuan itu tiba di toko. Jadwal kerjanya sendiri juga menuntut ia segera berangkat.
Syifa membaca pesan tersebut ketika masih di rumah. Ia membalas singkat bahwa urusan penyerahan sudah tercatat, kemudian menyimpan ponsel untuk menyelesaikan sarapan. Tidak ada pengambilan besar yang diulang, tidak ada pintu kamar yang dibuka kembali untuk Ryan.
Ketika berangkat, ia membawa tas kerja seperti biasa. Dokumen tetap tersimpan aman di rumah, catatan sisa pembayaran masih menunggu Jumat, dan rak yang dibersihkan kini lebih mudah dijangkau. Syifa mengunci pagar, memeriksa bahwa kunci masuk ke tas, lalu melangkah menuju toko untuk menjalani harinya.