Dua hari setelah pembacaan putusan, Syifa kembali membuka toko pada jam biasanya. Ia sudah datang pada Rabu menjelang siang seperti pesan yang dikirim kepada Pak Hadi. Tidak ada pelanggan yang diminta menunggunya sepanjang pagi, dan pekerjaan yang ditinggalkan pada Selasa sudah dicatat agar mudah diperiksa.
Kamis itu ia membawa bekal makan siang dari rumah. Bu Murni tidak harus terus memasak untuknya setiap hari. Perhatian tetangganya diterima dengan rasa terima kasih, tetapi Syifa juga ingin menjaga kebiasaan merawat kebutuhan sendiri tanpa merasa sedang diuji apakah cukup kuat hidup sendirian.
Menjelang siang, seorang perempuan datang mencari bangku pendek untuk dapur. Setelah memilih barang, ia berdiri lebih lama di depan meja kasir, menatap Syifa sebelum mengeluarkan uang.
'Saya dengar urusan rumah tangganya sudah diputus,' katanya. 'Semoga sekarang lebih tenang.'
Syifa mengucapkan terima kasih. Ia menghitung pembayaran, menaruh uang kembali, lalu menyiapkan nota. Perempuan itu belum bergerak pergi.
'Katanya kalian sempat periksa ke dokter juga. Sebenarnya yang bermasalah siapa?'
Jari Syifa berhenti di atas kertas. Pertanyaan itu disampaikan dengan suara biasa, seolah meminta penjelasan harga bangku. Di belakangnya, seorang pegawai sedang mengikat barang untuk pembeli lain.
'Hasil pemeriksaan kami bukan informasi yang saya bagikan kepada pelanggan,' jawab Syifa.
'Saya tidak bermaksud macam-macam. Cuma orang sudah telanjur bicara begitu.'
'Saya mengerti Ibu mendengar cerita. Tetapi saya tidak ingin melanjutkannya di sini.'
Perempuan itu tampak canggung, lalu mengambil nota yang diberikan. Syifa menanyakan apakah bangku akan dibawa sendiri. Mereka kembali membicarakan ukuran kendaraan dan cara membungkus kaki bangku agar tidak menggores jok. Setelah barang diserahkan, pelanggan itu pergi tanpa memperoleh nama seseorang untuk dipersalahkan.
Syifa berdiri sebentar di belakang meja. Wajahnya terasa panas. Ia belum tahu apakah percakapan serupa akan membuatnya selalu setegang itu, tetapi ia tidak menyesal menolak menjawab. Pemeriksaan yang dahulu dijalani bukan hadiah bagi siapa pun untuk menilai tubuhnya atau tubuh Ryan.
Pak Hadi mendekat setelah melayani orang terakhir di depannya.
'Kalau nanti ada yang menanyakan seperti tadi kepada pegawai, kami jawab apa, Bu?'
'Bilang itu urusan pribadi dan toko tidak membicarakannya. Tidak perlu menjelaskan hasil atau menebak yang benar. Kalau bertanya soal pesanan, layani seperti biasa.'
'Baik.'
Syifa tidak mengumpulkan pegawai untuk menceritakan ulang percakapan itu. Pak Hadi cukup meneruskan batas yang perlu diketahui saat melayani. Ia sendiri masuk ke ruang belakang, mencuci tangan, lalu membuka bekal yang dibawanya.
Saat makan, ponselnya menampilkan pesan Athar. Laki-laki itu lebih dahulu menanyakan apakah ia boleh menghubungi sebentar sesudah jam kerja. Syifa membalas bahwa pesan singkat lebih nyaman untuk sekarang. Ia sudah menjalani pembacaan putusan, tetapi urusan lanjutan dan ketentuan pribadinya tetap diikuti bersama Bu Lestari.
Athar tidak mengubah kabar itu menjadi pertanyaan kapan mereka dapat mulai berhubungan. Ia menjawab bahwa ia mengerti, berharap Syifa bisa beristirahat cukup, lalu memberi kabar singkat bahwa pekerjaannya minggu itu masih padat.
Syifa menghargai jawabannya tanpa merasa harus membalas sepanjang halaman. Ia mengucapkan terima kasih dan kembali makan. Kedekatan yang mungkin tumbuh kelak tidak harus dibangun dengan membuat setiap hari sesudah putusan menjadi hari penentuan.
Sore hari, Dina menghubungi untuk menanyakan apakah Syifa bersedia menerima makanan yang dibuatnya. Syifa memikirkan sejenak sebelum menjawab. Ia tidak sedang ingin bertemu, meskipun tawaran itu mungkin disampaikan dengan maksud baik.
'Terima kasih, Bu. Hari ini tidak perlu. Saya sudah punya makanan di rumah.'
Dina terdiam di seberang. 'Ibu tidak mau membahas Ryan.'
'Saya dengar. Tetapi saya tetap ingin pulang dan istirahat sendiri. Kalau ada urusan yang perlu dibicarakan, sampaikan lewat pesan dahulu.'
'Baik. Ibu tidak jadi datang.'
Syifa menutup telepon setelah mengucapkan terima kasih. Menolak kunjungan tidak berarti ia sedang membalas hinaan dengan kekejaman. Ia hanya tidak ingin perhatian yang ditawarkan berubah menjadi kewajiban menerima orang di rumah setiap kali mereka merasa perlu.
Di rumahnya, Dina mengembalikan wadah makanan ke dapur. Sherly yang sedang menyusun kemasan pesanan bertanya apakah Syifa tidak berada di rumah. Dina menjawab bahwa Syifa tidak ingin dikunjungi hari ini. Ia tidak menambahkan dugaan tentang Athar atau menganggap penolakan itu sebagai bukti kesombongan.
Sherly mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya sambil duduk. Ia sudah meminta agar jumlah kemasan disesuaikan ketika tubuhnya lelah, bukan menerima semua pekerjaan demi cepat memiliki uang lalu mengabaikan kebutuhan pemeriksaan. Dina membantu merapikan wadah kosong di sisi meja, tidak mengambil alih perhitungan upah yang menjadi hak Sherly.
Menjelang tutup toko, Syifa memeriksa kembali catatan pesanan bersama Pak Hadi. Tidak ada transfer baru dari Ryan hari itu. Sisa empat juta tetap sama, dengan tanggal pembayaran berikut masih menunggu pekan berikutnya. Ia menyimpan buku sebelum mengambil tas, lalu mengunci laci kasir sesuai pembagian tugas.
Dalam perjalanan pulang, Syifa membeli buah dari pedagang dekat rumah. Ia memilih jumlah yang cukup untuk beberapa hari dan menolak tambahan yang sebenarnya tidak dibutuhkannya. Ketika menghitung uang kembali, ia mendapati satu lembar berlebih. Pedagang itu baru saja melayani orang lain dan mengira uang yang diterimanya lebih besar. Syifa menunjukkan nominal yang tadi diserahkan, lalu mengembalikan kelebihannya. Perempuan itu berterima kasih, sempat menawarkan sebutir buah tambahan. Syifa tersenyum dan mengatakan jumlah yang dibelinya sudah cukup. Mereka berpisah tanpa membicarakan rumah tangga atau hasil pemeriksaan siapa pun.
Syifa berjalan pulang membawa kantong kecil. Ia berhenti untuk memberi jalan kepada dua anak yang bersepeda sebelum kembali melangkah ke pagar. Tidak ada tamu yang menunggu di teras.
Ia menaruh buah di dapur, menutup pagar, dan mengganti pakaian. Seusai makan malam, Syifa membaca beberapa halaman buku yang lama terabaikan. Ia belum sanggup mengikuti semua kalimat tanpa melamun, sehingga menandai halaman dan berhenti ketika mengantuk. Hari itu tidak menghapus gosip atau menyelesaikan seluruh urusan resmi. Tetapi apa yang ingin dibagikannya tetap menjadi pilihannya sendiri.