Syifa tiba di rumah pada Selasa sore yang sama. Ia berterima kasih kepada Bu Lestari, lalu masuk setelah kendaraan pengacara itu berangkat. Suara pintu yang ditutup terdengar lebih keras karena tidak ada percakapan lain di dalam rumah.
Ia meletakkan tas di meja, mengganti pakaian, kemudian menunaikan salat. Ada beberapa kali pikirannya kembali kepada suara di ruang sidang, tetapi ia tidak bangkit untuk mencari rekaman percakapan atau membaca pesan lama. Ia menyelesaikan ibadahnya, melipat perlengkapan yang dipakai, lalu duduk sebentar di tepi tempat tidur.
Ketika Bu Murni mengetuk pagar, Syifa baru saja mengisi gelas dengan air. Tetangganya datang membawa rantang dan seikat daun kemangi. Ia menunggu dipersilakan, kemudian langsung menuju dapur untuk membantu menaruh makanan.
'Nasinya masih ada?' tanya Bu Murni.
'Ada, Bu. Saya masak pagi sebelum berangkat. Cukup untuk kita berdua.'
'Kalau begitu tinggal dihangatkan lauknya.'
Mereka tidak segera membicarakan putusan. Syifa mengambil piring, sementara Bu Murni membuka rantang berisi sayur dan lauk sederhana. Tutup salah satu wadah agak sulit dibuka. Keduanya sempat tertawa setelah menyadari Bu Murni memasangnya terlalu rapat karena takut tumpah di jalan.
Syifa menaruh kemangi di piring kecil dan memanaskan lauk. Bu Murni duduk setelah semua siap. Ia tidak menyuruh Syifa menghabiskan dua piring untuk menutupi kesedihan, hanya menunggunya mengambil suapan pertama sebelum ikut makan.
'Bagaimana rasanya setelah pulang?' tanyanya kemudian.
Syifa mengunyah perlahan, meletakkan sendok, lalu mencari kata-kata yang tidak harus terdengar meyakinkan.
'Lega. Tetapi sedih juga. Tadi di kendaraan saya sempat ingin menangis, lalu sampai rumah malah bingung mau melakukan apa.'
'Sekarang makan dulu. Kalau sesudahnya masih ingin menangis, tidak perlu kamu tahan karena saya ada.'
Syifa mengangguk. Ia kembali menyendok nasi. Makanan hangat membuatnya menyadari betapa sedikit yang disantapnya sejak pagi.
'Saya takut nanti orang bilang, kalau sedih berarti sebenarnya masih ingin kembali.'
'Kamu sendiri ingin kembali?'
'Tidak.'
'Ya sudah. Kamu boleh tahu jawabanmu sendiri tanpa mengikuti tebak-tebakan orang.'
Jawaban itu tidak menyelesaikan seluruh perasaan Syifa, tetapi membuatnya berhenti membela diri untuk sesuatu yang belum dituduhkan di meja makan. Ia menceritakan secukupnya bahwa gugatan dikabulkan, sementara Bu Lestari masih akan mendampingi urusan dokumen dan ketentuan setelahnya. Bu Murni mendengarkan tanpa meminta tanggal untuk segala hal yang memang belum diterangkan tuntas.
Sesudah makan, Syifa membawa piring ke tempat cuci. Bu Murni hendak membantu, tetapi ia memintanya duduk sebentar.
'Saya ingin mengerjakan yang biasa saja. Tadi sudah terlalu banyak duduk dan mendengarkan.'
Bu Murni mengizinkan. Ia melipat kain lap yang selesai dipakai, lalu menanyakan apakah besok Syifa berniat ke toko. Syifa menjawab akan datang agak siang setelah beristirahat. Pak Hadi bisa membuka lebih dahulu, dan ia akan memberi kabar malam ini agar tidak ada orang menunggu tanpa kepastian.
Ponsel Bu Murni berbunyi ketika Syifa selesai mencuci. Anaknya menanyakan di mana sandal yang tadi dipakai bermain. Bu Murni menyuruhnya mencari di dekat pintu belakang, tempat sandal itu dilepas sendiri sebelum mandi. Percakapan singkat itu berakhir setelah terdengar seruan bahwa barangnya sudah ditemukan. Syifa tersenyum. Bu Murni ikut tertawa, lalu bercerita bahwa sandal yang sama hampir setiap hari dianggap hilang. Mereka membicarakan hal kecil itu sambil mengeringkan meja, tanpa mengembalikannya menjadi nasihat bagi hidup Syifa.
Di meja ruang tengah, tas Syifa tetap tertutup. Ia belum membawa salinan resmi putusan, hanya catatan serta berkas yang dibawanya untuk agenda. Ketika Bu Murni melirik map, Syifa menjelaskan bahwa ia akan mengurus tahap berikut bersama Bu Lestari. Tidak perlu mencari sendiri jawaban dari kabar tetangga.
Sementara itu, Ryan telah kembali ke kamar sewaannya dekat tempat kerja. Ia membuka pintu, meletakkan tas di rak, dan menghidupkan kipas kecil yang dibawa dari rumah Syifa. Ruangan itu bukan kamar masa kecilnya di rumah Dina, juga bukan tempat yang dijanjikan akan langsung membuat hidupnya tertata.
Ia duduk beberapa menit sebelum menelepon ibunya. Dina mengangkat dan bertanya apakah agenda sudah selesai. Ryan memberi kabar bahwa putusan telah dibacakan dan urusan lanjutan masih akan diikuti. Ia tidak mengatakan semua tanggung jawab selesai karena telah keluar dari ruang sidang.
'Kamu langsung ke sini?' tanya Dina.
'Tidak malam ini. Saya sudah di kamar sewaan. Besok bekerja seperti biasa.'
Dina terdengar hendak mengatakan sesuatu, lalu meminta Ryan berbicara sebentar dengan Sherly. Perpindahan telepon terdengar di seberang sebelum suara istrinya menyapa.
Ryan menanyakan keadaannya dan memastikan kabar tentang pendampingan terakhir sudah diterima. Pokok pinjaman Sherly masih empat juta, berbeda dari empat juta sisa uang toko. Ia menyebut keduanya tanpa menyatukan kewajiban atau memberi janji bahwa uang yang sama akan menutup dua tagihan sekaligus.
'Saya belum bisa membahas panjang malam ini,' katanya. 'Tapi besok setelah kerja kita bisa mencocokkan waktu untuk pertemuan berikut.'
Sherly setuju. Tidak ada janji akan menikah ulang atau pertanyaan apakah mereka sekarang baru menjadi pasangan. Mereka sudah suami-istri, dengan persoalan yang tetap perlu dikerjakan setelah urusan Syifa mencapai tahap ini.
Ketika telepon selesai, Ryan mengambil makanan yang dibelinya dalam perjalanan. Ia makan sendiri, memandangi rak buku yang baru disusun dari barang pindahan. Penyesalan tidak memberinya alasan pergi kembali ke rumah Syifa untuk mencari percakapan tambahan.
Di rumahnya, Syifa mengantar Bu Murni ke pagar sesudah langit mulai gelap. Ia mengucapkan terima kasih karena telah ditemani tanpa dipaksa segera terlihat bahagia. Bu Murni mengingatkan agar lauk yang tersisa dimasukkan ke lemari pendingin, lalu pulang ke rumahnya sendiri.
Syifa menyimpan makanan, mengabari Pak Hadi tentang jam kedatangannya besok, dan menutup jendela dapur. Ia belum ingin membuka seluruh pesan yang masuk. Ponsel diletakkan dekat tempat tidur dengan suara panggilan tetap terdengar bila ada kebutuhan penting. Setelah lampu dipadamkan, ia berbaring di kamar yang sama, membiarkan hari yang panjang itu berakhir tanpa membuat janji baru kepada siapa pun.