Selasa pagi, Syifa berangkat dengan pakaian yang disiapkannya semalam. Ia sudah mengabari Pak Hadi bahwa seluruh keputusan toko yang tidak mendesak dapat menunggu. Ponsel dimasukkan ke tas setelah ia memastikan Bu Lestari telah tiba di depan rumah.
Di perjalanan, Syifa memandang deretan bangunan yang dilewati. Jalan itu sudah beberapa kali ditempuhnya selama proses perkara. Ia mengingat rasa marah saat pertama membawa kisahnya keluar dari rumah, kemudian ketakutan ketika membayangkan urusan pribadi akan didengar orang lain. Pagi ini perasaannya tidak lenyap, hanya tidak lagi semuanya datang bersamaan.
Ryan tiba sendiri. Ia menyapa mereka di koridor, lalu duduk di tempat yang tersedia. Syifa tidak memandangnya lama-lama untuk mencari tanda apakah ia akan berubah pikiran. Sikapnya sudah disampaikan, dan ia datang untuk mengikuti tahap yang dijadwalkan.
Ketika nama mereka dipanggil, Syifa bangkit. Ia sempat mengencangkan pegangan tas sebelum menyadarinya, lalu melonggarkan jari. Bu Lestari berjalan di sisinya. Tidak ada Athar yang tiba mendadak untuk mengantarnya masuk atau Dina yang menahan di depan pintu.
Di dalam ruang sidang, suara pembacaan putusan terdengar jelas. Syifa mendengarkan, meskipun beberapa bagian terasa lebih sulit ditangkap karena ia terlalu memikirkan kalimat berikutnya. Ketika gugatan perceraiannya dinyatakan dikabulkan, ia menunduk sebentar, menarik napas yang sejak tadi terasa tertahan.
Ia tidak tersenyum lebar. Di hadapannya bukan hadiah atas keberhasilan menghukum seseorang, melainkan akhir yang dipilihnya setelah pernikahan itu tidak lagi sanggup dipertahankan. Pernah ada hari ketika ia membayangkan hidup menua bersama Ryan. Kenangan itu tidak berubah menjadi kebohongan hanya karena pilihan Ryan kemudian melukainya.
Syifa menatap ujung lengan bajunya. Bukan gaun yang dahulu dipakai pada hari akad, bukan pula pakaian yang sengaja dipilih untuk membuat Ryan mengingat siapa yang ditinggalkannya. Ini baju yang nyaman dipakai duduk, dengan warna yang disukainya sendiri. Hal sekecil itu mendadak membuat tenggorokannya terasa penuh. Ia pernah begitu sibuk menyiapkan reaksi orang lain sampai lupa bertanya apa yang dapat membuat dirinya melewati satu hari dengan lebih baik.
Tidak semua keputusan yang dibuatnya sejak pengkhianatan terbuka patut dibanggakan. Ada amarah yang pernah mendorongnya melukai dan mempermainkan keadaan. Ia tidak ingin membawa cara itu ke setiap hubungan sesudah ini. Mengakhiri pernikahan tidak menghapus pekerjaannya untuk memahami dirinya, tetapi ia tidak harus tetap tinggal bersama Ryan untuk membuktikan bahwa ia sedang berusaha menjadi lebih baik.
Bu Lestari tetap memperhatikan jalannya pembacaan, mencatat bagian yang perlu dijelaskan setelah mereka keluar. Syifa menahan keinginan meraih ponsel. Ia belum akan menulis kepada siapa pun bahwa seluruh urusan resmi selesai saat itu juga. Ada penjelasan yang harus didengarnya sampai tuntas.
Ryan berada beberapa kursi darinya. Laki-laki itu menyimak dengan bahu menegang, tidak menyela untuk menyatakan penyesalan sekali lagi. Apa yang telah diucapkannya pada agenda sebelumnya tidak dibatalkan hanya karena menghadapi kenyataan terasa lebih berat daripada membayangkannya.
Setelah persidangan berakhir, Syifa mengikuti Bu Lestari keluar. Suara di koridor terasa lebih ramai daripada tadi. Ia memilih duduk sebelum membicarakan dokumen, membiarkan orang-orang lain berlalu di depannya.
'Saya mendengar gugatan dikabulkan,' katanya pelan. 'Tetapi saya tidak menangkap semua bagian setelah itu.'
'Kita bahas satu per satu. Tidak perlu merasa kamu harus langsung hafal.'
Bu Lestari menjelaskan isi yang berkaitan dengan perkara mereka, lalu membedakan pembacaan putusan hari ini dengan tahap administrasi dan ketentuan yang masih perlu diikuti. Salinan resmi serta dokumen lanjutan tidak boleh dianggap sama hanya karena semuanya disebut berkas pengadilan. Syifa akan diberi kabar ketika masing-masing sudah dapat diurus sesuai keadaan perkaranya.
Syifa mencatat istilah yang belum dikenalnya. Ia meminta Bu Lestari memeriksa kembali catatannya agar tidak pulang dengan pemahaman yang keliru. Tidak ada angka tunggal yang ditebak untuk semua keadaan, dan ia tidak diminta menyimpulkan sendiri kapan boleh membuat keputusan perkawinan baru.
'Saya tidak sedang merencanakan menikah lagi sekarang,' katanya.
'Baik. Untuk yang perlu dijalani setelah putusan, kita pastikan berdasarkan dokumen dan keadaanmu. Kalau ada pertanyaan, tanyakan. Jangan memakai kabar dari orang lain sebagai kepastian untuk urusanmu.'
Syifa mengangguk. Ia memerlukan penjelasan itu bukan karena ingin segera melangkah ke hubungan lain, melainkan karena ingin mengetahui apa yang sebenarnya sudah selesai dan apa yang masih menunggu.
Catatan uang toko juga tidak menghilang karena putusan dibacakan. Empat juta rupiah masih harus dikembalikan Ryan. Pembayaran berikut tetap dua juta sesuai jadwal, lalu sisanya pada tahap setelah itu. Syifa menyimpan pengingat yang sama dalam ponsel; ia tidak membuat tanda lunas atau membuang bukti lama sebagai bagian dari perpisahan.
Ketika mereka hendak beranjak, Ryan meminta waktu sebentar. Bu Lestari tetap berada di dekat Syifa. Ryan berdiri tanpa menghalangi jalan keluar.
'Saya akan menyelesaikan sisa pengembalian itu,' katanya. 'Tidak bergantung pada keputusanmu tentang saya.'
'Memang tidak boleh bergantung pada itu.'
'Iya.'
Ia menatap Syifa sebentar, seperti hendak menambahkan kalimat lain. Kali ini ia memilih berhenti. Syifa tidak harus membalas dengan penghiburan agar perpisahan terasa lebih mudah bagi Ryan.
'Saya pulang dulu,' kata Syifa.
Ryan mengangguk dan memberi jalan. Mereka tidak berpelukan, tidak bertukar janji untuk menjadi sahabat, juga tidak memaksa diri mengucapkan doa panjang di koridor. Percakapan yang singkat sudah cukup untuk batas yang ingin dipertahankan Syifa hari itu.
Di kendaraan, Syifa baru mengeluarkan ponsel. Ia memberi kabar kepada Pak Hadi bahwa agenda sudah dijalani dan ia akan pulang langsung. Kepada Bu Murni, ia menulis bahwa putusan telah dibacakan dan bertanya apakah boleh ditemani makan sore nanti. Tetangganya menjawab bersedia datang setelah Syifa tiba.
Athar belum dihubunginya. Syifa ingin memahami dan merasakan hari itu untuk dirinya dahulu, sebelum menjadikannya kabar yang harus segera diterjemahkan sebagai peluang bagi siapa pun. Ia menyimpan ponsel, mengusap mata dengan tisu, lalu memandang keluar jendela. Rumah yang akan ditujunya masih rumah yang sama. Kunci di dalam tasnya masih ia pegang sendiri.