Senin pagi, Bu Lestari mengonfirmasi bahwa agenda pembacaan putusan besok tetap berlangsung sesuai pemberitahuan. Syifa membaca pesan itu di dapur, ketika air untuk tehnya mulai mendidih. Ia mengecilkan api dahulu sebelum membalas bahwa dirinya akan hadir.
Tidak ada kejutan dalam tanggalnya. Ia sudah mengetahuinya sejak agenda sebelumnya. Namun kepastian bahwa hari itu tinggal besok membuatnya berdiri lebih lama di depan kompor, sampai suara tutup panci mengingatkannya bahwa air masih dipanaskan.
Syifa menyeduh teh, duduk, lalu meminum sedikit setelah cukup dingin. Ia tidak langsung menghubungi semua orang untuk mengumumkan kabar. Bu Lestari mengetahui urusannya, Pak Hadi perlu mengetahui jadwal ketidakhadirannya, dan Bu Murni akan diberi kabar jika Syifa menginginkan teman setelah pulang. Selebihnya tidak harus mendapat cerita sebelum ia sendiri siap.
Di toko, Pak Hadi menerima penjelasannya tanpa menanyakan apakah putusan pasti sesuai harapan. Pengalaman mengikuti agenda keterangan sebelumnya membuat pengaturan sehari tidak lagi terasa asing. Mereka membahas pekerjaan besok seperlunya, kemudian Syifa kembali melayani seorang pelanggan yang mencari kursi untuk meja belajar anaknya.
Anak itu ikut datang. Ia mencoba dua kursi, mengayunkan kaki, lalu memilih yang warnanya paling terang. Ibunya meminta ia duduk tenang supaya dapat diperiksa apakah tinggi dudukannya cocok. Syifa menunggu dengan senyum kecil, teringat berapa banyak keputusan sederhana dalam hidup pernah dibebani orang dewasa dengan harapan terlalu besar.
'Yang ini nyaman?' tanyanya kepada anak itu.
'Yang tadi lebih empuk. Tapi ini bagus.'
'Kalau dipakai belajar lama, coba yang tadi sekali lagi.'
Pilihan akhirnya tidak jatuh pada warna paling terang. Anak itu masih menatap kursi kesukaannya ketika ibunya mengeluarkan uang. Syifa menanyakan apakah ia mempunyai meja belajar sendiri di rumah. Dengan bersemangat ia menjawab bahwa mejanya bekas milik kakak, dan ia ingin menempelkan gambar buatannya pada dinding di sebelah meja.
'Kursinya tidak usah ditempeli apa-apa dulu,' kata ibunya. 'Nanti sulit dibersihkan.'
'Kalau gambarnya ditaruh di meja saja boleh?'
Ibunya mengizinkan, dan persoalan warna kursi segera terlupakan. Syifa membungkus bantalan sambil mendengarkan rencana gambar yang diceritakan anak itu. Pak Hadi membantu mengikat kursi pada kendaraan setelah meminta izin pemiliknya. Mereka memastikan muatan tidak mengganggu jalan sebelum menyerahkan barang. Syifa menunjukkan bagian yang perlu dijaga agar pelapis tidak terkena gesekan selama perjalanan, lalu memberikan nota kepada ibunya.
Anak itu membantu membawa bantalan kecil, bangga karena dipercaya memegang sesuatu. Syifa mengantarkan sampai pintu toko, lalu kembali menaruh kursi contoh yang tidak jadi dibeli ke tempat semula.
Ia tidak merasa harus membuktikan apa pun setelah melayani keluarga itu. Keinginannya mempunyai anak pernah sungguh ada. Kesedihan karena belum mengalaminya juga nyata. Tetapi keduanya tidak membuat ia kehilangan hak untuk meninggalkan pernikahan yang menyakitkan.
Menjelang sore, Syifa mampir ke rumah Bu Murni untuk mengembalikan wadah makanan. Tetangganya sedang memilih cabai di teras. Syifa duduk setelah dipersilakan dan membantu memisahkan tangkai yang masih menempel.
'Besok putusannya dibaca,' katanya.
Bu Murni berhenti sebentar. 'Kamu ingin saya ikut?'
'Tidak perlu, Bu. Saya berangkat dengan Bu Lestari. Tapi mungkin setelah pulang saya ingin ada orang di rumah sebentar.'
'Kabari saja. Saya tunggu kamu menghubungi.'
Syifa mengangguk. Ia memutar satu cabai yang bentuknya bengkok di antara jari, lalu menaruhnya bersama yang lain.
'Saya kadang masih memikirkan kalau Mama dan Papa ada, mereka akan bilang apa.'
Bu Murni tidak segera menjawab atas nama Wardi dan Salimah. Ia mengenal mereka sebagai tetangga, tetapi tidak ingin memakai orang yang telah tiada untuk memaksa Syifa merasa yakin.
'Saya tidak tahu kata-kata persis yang akan mereka ucapkan,' katanya akhirnya. 'Tapi saya ingat ibumu dulu selalu memastikan kamu makan kalau pulang dengan wajah murung. Kamu boleh melakukan itu untuk dirimu besok. Jangan pulang lalu lupa makan karena sibuk mengurus semuanya.'
Syifa tertawa kecil, matanya mulai panas. Nasihat sederhana itu lebih mudah diterimanya daripada kepastian bahwa kedua orang tuanya tentu menyetujui setiap langkahnya. Ia memang tidak akan memperoleh jawaban langsung dari mereka lagi.
'Mama kalau menyuruh makan kadang ikut duduk sampai saya selesai.'
'Kalau besok perlu ditemani makan, saya bisa duduk. Tidak harus banyak bicara.'
Syifa menyeka sudut mata dengan tisu yang diberikan Bu Murni. Mereka kembali memilah cabai sampai wadahnya penuh. Setelah itu Syifa pamit, membawa beberapa cabai untuk kebutuhan dapurnya sendiri. Bu Murni membungkusnya dalam kantong kecil, lalu mengantar Syifa ke pagar sebelum kembali ke dapur.
Di rumah Dina, Ryan datang pada waktu yang sudah dikabarkan. Ia berbicara dengan Sherly mengenai jadwal besok, kemudian membantu mengangkat galon ke dapur. Dina memperhatikan ketika ia mencuci tangan dan bersiap kembali ke kamar sewaan.
'Setelah besok, kamu tetap di sana dulu?'
'Iya, Bu. Belum ada perubahan tempat tinggal yang saya sepakati. Kalau nanti ada, akan dibicarakan dengan Sherly juga.'
'Ibu jangan dibiarkan terakhir tahu.'
'Saya memberi kabar, tetapi bukan berarti semua harus diputuskan Ibu. Saya sudah terlalu lama begitu, lalu menyalahkan orang lain ketika hasilnya buruk.'
Dina menatapnya tanpa menjawab keras. Sherly yang berdiri di dekat pintu dapur mendengar percakapan itu. Ryan tidak mengajaknya mengurus Syifa atau menuntut kabar sidang lebih dahulu. Ia meminta istrinya tetap mengikuti jadwal pendampingan yang sudah ada dan menyimpan bukti bila ada pesan baru.
Malamnya, Syifa membuka lemari untuk mengambil pakaian. Bungkus gaun pengantin lama terlihat di bagian lain, tidak disentuhnya. Ia memilih pakaian yang telah disiapkan, menggantungkannya, lalu menutup lemari. Tidak ada kewajiban mengulangi penampilan hari akad untuk membuat perasaannya dianggap sungguh-sungguh.
Ia memeriksa waktu jemput, menyiapkan air minum, dan mematikan lampu dapur setelah makan. Mapnya berada di dalam tas. Syifa duduk sebentar di tepi tempat tidur, mengucapkan doa, lalu berbaring. Besok ia tetap harus mendengar apa yang dibacakan, termasuk tahap yang masih perlu diikuti sesudahnya. Malam ini ia tidak mencoba mendahuluinya dengan kesimpulan sendiri.