Kamis pagi, Syifa menunggu di teras dengan tas di pangkuan. Ia sudah sarapan walaupun hanya sedikit. Ketika kendaraan Bu Lestari tiba, ia memeriksa pintu rumah sekali lagi, memasukkan kunci ke bagian tas yang sama, lalu berjalan keluar tanpa kembali membuka map.
Perjalanan berlangsung lebih sunyi daripada yang ia bayangkan. Bu Lestari tidak mengajaknya menghafal jawaban sepanjang jalan. Mereka hanya memastikan dokumen yang perlu mudah diambil dan waktu yang masih tersedia sebelum masuk.
Ryan sudah berada di koridor ketika mereka tiba. Ia berdiri untuk menyapa, lalu kembali duduk setelah Syifa membalas anggukan. Tidak ada tawaran mengantar pulang atau pertanyaan apakah ia sempat tidur. Dalam keadaan lain, perhatian kecil seperti itu mungkin terdengar biasa. Pagi ini Syifa lebih membutuhkan jarak yang tidak harus ia jelaskan berulang kali.
Ia duduk bersama Bu Lestari, memegang botol air yang dibawanya. Orang-orang di koridor sibuk dengan urusan masing-masing. Seorang anak menggenggam tangan perempuan di sebelahnya; di sudut lain, seseorang mencari lembar yang terselip dalam tas. Syifa menatap lantai sebentar agar pikirannya tidak terus menebak cerita orang lain.
Ketika dipanggil, ia berdiri dan mengikuti arahan untuk masuk. Kursi terasa lebih keras daripada yang ia ingat. Ia meletakkan tas dekat kaki, menjaga map tetap dapat diambil tanpa membuat kertasnya berhamburan.
Agenda hari itu melengkapi keterangan yang masih diperlukan sebelum perkara diputus. Bu Lestari membantu menunjukkan dokumen pada saat dibutuhkan. Syifa mendengarkan pertanyaan sampai selesai sebelum menjawab, berusaha tidak mengisi jeda dengan penjelasan yang sebenarnya tidak diminta.
Ia menjelaskan bahwa dirinya tetap ingin melanjutkan perceraian. Kalimat itu sudah pernah disampaikan, tetapi mengatakannya di ruangan ini tetap membuat dadanya menegang. Ia sempat berhenti untuk menarik napas sebelum meneruskan bahwa keputusannya bukan ancaman agar Ryan memenuhi permintaan lain.
Rumah tangganya telah kehilangan rasa aman dan kepercayaan yang dibutuhkan untuk tinggal bersama. Upaya Ryan memperbaiki kewajiban tidak mengubah pilihannya untuk berpisah. Syifa mengatakannya tanpa menambah tuduhan baru, juga tanpa menutupi hal-hal yang telah benar-benar terjadi.
Saat pembicaraan menyentuh aset, Ryan menegaskan sikap yang sudah dinyatakannya sebelumnya. Ia tidak mengajukan tuntutan untuk mengambil rumah maupun toko warisan Syifa. Pernyataan itu tidak membuat keduanya tiba-tiba harus menandatangani penyerahan seluruh isi toko sebagaimana bayangan awal perjanjian mereka. Bu Lestari memastikan penjelasan dan dokumen yang relevan tersampaikan sesuai urusan perkara.
Catatan pengembalian dana juga diperbarui. Syifa menyatakan sepuluh juta pada pembayaran pertama dan dua juta pada pembayaran berikut telah benar-benar diterima. Sisa enam juta masih menjadi kewajiban Ryan. Tidak seorang pun diminta menyebutnya lunas hanya agar semua terdengar sudah berakhir dengan rapi.
Ryan membenarkan jumlah itu. Ia tidak berjanji akan membayar sekaligus sore nanti demi memberi kesan baik. Jadwal berikut tetap seperti kesepakatan yang telah dibuat, dengan bukti penerimaan dicatat ketika transfer benar-benar terjadi.
Pada satu pertanyaan, Syifa perlu melihat catatannya untuk memastikan urutan peristiwa. Ia meminta waktu, membuka halaman yang telah diberi penanda, lalu menjawab setelah menemukan bagian yang dimaksud. Bu Lestari tidak menyuruhnya menebak. Kesempatan berhenti sebentar justru membuat suaranya lebih jelas ketika kembali berbicara.
Ryan beberapa kali menunduk selama mendengar keterangan Syifa. Ketika mendapat giliran, ia mengakui bahwa persoalan mereka tidak berawal dari tindakan Dina seorang. Ia sendiri telah memilih berbohong dan menggunakan uang yang bukan untuk kepentingannya. Keinginan mempertahankan pernikahan tidak menghapus tanggung jawab atas pilihan itu.
Syifa mendengar pengakuannya tanpa menoleh meminta kepastian tambahan. Ia pernah menghabiskan begitu banyak tenaga untuk membuat Ryan menyebut kesalahan dengan nama yang benar. Kini ia tidak ingin seluruh hidupnya kembali bergantung pada seberapa baik laki-laki itu merangkai penyesalan.
Setelah agenda keterangan selesai, jadwal pembacaan putusan disampaikan untuk tahap berikutnya. Tidak ada akta yang langsung diterima Syifa di tangan. Ia menyimpan catatan waktunya, lalu keluar bersama Bu Lestari setelah mengikuti arahan yang diberikan.
Di koridor, lututnya terasa lemas. Ia duduk dahulu sebelum membuka botol air. Bu Lestari membiarkannya minum, baru kemudian menjelaskan apa yang perlu mereka tunggu dan persiapkan. Syifa menanyakan kembali satu hal yang belum dipahaminya, lalu mengulang jawabannya dengan kata-kata sendiri untuk memastikan ia tidak keliru.
'Jadi saya belum boleh menganggap semua urusan selesai hari ini.'
'Betul. Agenda hari ini sudah dijalani. Tahap berikutnya tetap kita ikuti.'
Syifa mengangguk. Ia menulis catatan pendek di ponsel, tidak berusaha mengingat semuanya dalam keadaan lelah.
Sebelum meninggalkan gedung, ia meminta waktu ke kamar kecil. Di depan cermin, wajahnya tampak lebih pucat daripada saat berangkat. Ia membasuh tangan, merapikan ujung kerudung yang terlipat, lalu menunggu sebentar sampai jari-jarinya tidak lagi gemetar. Suara pintu yang terbuka membuatnya bergeser memberi jalan kepada orang lain. Ia tidak tahu apakah perempuan yang masuk itu baru akan menghadapi urusannya atau sudah selesai seperti dirinya. Syifa hanya membalas sapaan kecil, mengambil tas, dan kembali menemui Bu Lestari yang menunggu di tempat semula. Mapnya masih tertutup rapi. Kali ini ia tidak membukanya lagi untuk memastikan jawabannya sudah cukup baik.
Ryan mendekat ketika mereka hendak pergi, menjaga jarak beberapa langkah. Ia hanya mengatakan akan mengikuti jadwal dan memenuhi pembayaran berikut. Syifa membalas singkat. Bu Lestari tetap berada di sisinya; tidak ada percakapan pribadi yang harus diselesaikan di tangga sebelum ia boleh pulang.
Dalam perjalanan, Syifa memberi kabar kepada Pak Hadi bahwa agenda sudah selesai dan ia tidak kembali ke toko hari itu. Pengiriman pagi telah diterima pelanggan, dengan bukti yang akan diperiksanya besok. Ia kemudian mengirim pesan kepada Bu Murni sesuai janji, menanyakan apakah tawaran makan sore masih berlaku.
Jawabannya datang cepat. Makanan akan dihangatkan ketika Syifa sudah mendekati rumah. Syifa menyandarkan kepala pada kursi kendaraan dan menutup mata sebentar. Ia telah menyatakan pilihannya sendiri. Untuk sisa hari itu, ia mengizinkan dirinya pulang, makan, dan beristirahat.