Senin berikutnya, Syifa menerima foto meja makan yang selesai dikerjakan pemasok. Acara keluarga pelanggan telah lewat pada Sabtu, seperti yang dibicarakan sebelumnya. Barang baru akan dikirim sesuai tanggal awal pesanan, bukan disebut terlambat karena toko pernah diminta mempercepatnya.
Pak Hadi memeriksa foto kursi satu per satu. Ia menemukan bagian bawah salah satu dudukan belum tampak jelas, lalu meminta foto tambahan sebelum kendaraan diberangkatkan dari tempat pemasok. Syifa menyetujui langkah itu. Mereka telah menolak janji yang tidak sanggup dipenuhi; pemeriksaan akhir juga harus dilakukan sungguh-sungguh.
Menjelang siang, meja dan kursi tiba di toko. Syifa menghubungi pembeli agar bisa melihatnya sebelum pengantaran ke rumah besok. Sambil menunggu, pegawai melepas pembungkus bagian yang perlu diperiksa, menjaga sisi meja tetap terlindung dari gesekan lantai.
Pelanggan datang bersama suaminya. Perempuan itu mengusap kain dudukan yang dahulu dipilihnya dari contoh kecil. Warnanya tampak sedikit berbeda di dekat jendela, tetapi masih sesuai contoh yang mereka simpan. Pak Hadi meletakkan keduanya berdampingan agar tidak hanya bergantung pada ingatan.
'Sayang tidak sempat dipakai waktu saudara datang,' kata perempuan itu.
'Iya, Bu. Untuk jadwal acara akhir pekan lalu memang tidak bisa kami sanggupi,' jawab Syifa. 'Sekarang silakan diperiksa dulu semuanya sebelum kita atur pengantaran besok.'
Ia tidak menutupi kekecewaan pembeli dengan janji diskon baru. Harga dan tanggal sejak awal sudah jelas. Yang menjadi tanggung jawabnya kini adalah memastikan barang yang diserahkan cocok dengan pesanan.
Mereka mencoba kursi dan mengukur tinggi meja. Salah satu kursi sempat bergoyang karena diletakkan di sambungan lantai yang tidak rata. Pak Hadi memindahkannya ke bidang datar dan mencoba kembali. Syifa meminta pengujian dilakukan dengan beban, bukan hanya menggoyang kursi kosong. Hasilnya baik, dan pelanggan menyatakan setuju menerima seluruh set tersebut.
Sisa pembayaran diselesaikan setelah pemeriksaan. Syifa menandai pelunasan dan menyiapkan jadwal kendaraan untuk Selasa pagi. Pak Hadi menyimpan nomor penerima yang akan berada di rumah, sementara pelanggan membawa salinan nota. Mereka pulang setelah sekali lagi memastikan lebar pintu masuk.
Baru ketika toko lebih sepi, Syifa melihat pengingat agenda putusan di ponselnya. Masih ada tahap yang harus ditunggu. Ia menekan layar untuk mematikan pemberitahuan, kemudian kembali memeriksa nota meja yang baru dilunasi. Hari-hari itu tidak terasa ringan, tetapi juga tidak seluruhnya kosong hanya karena perkara belum berakhir.
Pada malam yang sama, Ryan datang ke rumah Dina sesuai jadwal yang telah diberitahukan. Sherly sedang duduk di ruang tengah dengan catatan kebutuhan pemeriksaan. Dina menaruh tiga piring di meja, lalu mempersilakan mereka makan sebelum membicarakan pengeluaran.
Ryan telah mengirim biaya yang disepakati sebelumnya. Ia meminta Sherly menunjukkan rincian untuk kunjungan berikut agar ia dapat menyesuaikan waktu kerja dan dukungan yang diperlukan. Tidak ada uang toko Syifa yang ditawarkan untuk menutup kebutuhan itu.
'Kalau putusan sudah dibaca, kamu akan bagaimana?' tanya Dina sesudah piring mereka hampir kosong.
'Saya tetap bekerja. Kamar sewaan masih saya tempati. Pengembalian uang juga belum lunas.'
'Ibu bertanya soal keluarga kalian.'
Ryan meletakkan sendok. Ia melihat Sherly yang sejak tadi lebih banyak diam.
'Saya dan Sherly sudah menikah, Bu. Bukan menunggu nanti menikah setelah urusan Syifa selesai. Tanggung jawab saya kepada Sherly tidak boleh terus saya bicarakan seolah baru akan dimulai.'
Sherly mengangkat wajah. Ada kelegaan kecil mendengar kalimat yang jelas, meskipun itu tidak menghapus kebohongan yang pernah dibuatnya sendiri atau persoalan yang sekarang harus dihadapinya.
'Tapi saya juga tidak mau berjanji semua akan langsung nyaman,' lanjut Ryan. 'Tempat tinggal, pekerjaan, dan biaya perlu dibicarakan. Kita jangan menjadikan Syifa jalan keluar untuk semua yang belum siap.'
Dina hendak menyela, lalu mengurungkan niatnya. Ia mengambil buku belanja rumah dari laci. Beberapa kebutuhan selama ini dibelinya tanpa mencatat, baru kemudian meminta Ryan mengganti dalam jumlah kira-kira. Malam itu mereka mencoba memilah kebutuhan rumah Dina dan kebutuhan pemeriksaan Sherly, supaya satu pengeluaran tidak ditagih dua kali.
Ada pembelian yang tidak lagi diingat tanggalnya. Ryan tidak menuduh ibunya berbohong, tetapi meminta catatan berikut disimpan lebih rapi. Sherly menawarkan mengumpulkan struk yang masih ada. Mereka bekerja perlahan di meja makan, sempat berbeda pendapat tentang satu biaya perjalanan sebelum menyadari itu sudah dibayar minggu sebelumnya.
Sesudah buku ditutup, Sherly menyinggung kabar tindak lanjut ancaman Reno. Ia masih menunggu jawaban untuk pertemuan berikut dengan pendamping yang membantunya. Ryan mendengarkan, tidak menjanjikan akan mendatangi laki-laki itu untuk menyelesaikan semuanya dengan pertengkaran.
'Kalau jadwalnya sudah ada, beri tahu. Kita ikuti langkah yang sudah dibahas,' katanya.
Dina mengantar Ryan sampai pintu ketika ia kembali ke kamar sewaan. Ia sempat berkata rumah akan lebih mudah diatur jika mereka semua berkumpul lagi, tetapi Ryan mengingatkan bahwa Syifa tidak termasuk orang yang boleh mereka atur untuk memenuhi gambaran itu. Dina mengangguk tanpa menyebut rujuk.
Selasa pagi, kendaraan toko tiba di rumah pelanggan sesuai jadwal. Syifa berada di toko saat Pak Hadi menelepon untuk memastikan posisi meja sudah benar dan seluruh kursi diterima. Pembeli mengirim foto ruang makan setelah pembungkus diangkat. Ruang yang sebelumnya hanya dilihat Syifa melalui ukuran di layar kini benar-benar terisi barang yang mereka pesan.
Ketika kendaraan kembali, Pak Hadi membawa sisa pembungkus dan tali pengikat. Satu tali mulai aus di ujungnya. Syifa meminta agar tali itu tidak dipakai untuk pengiriman berikut, lalu mencatat kebutuhan pengganti sebelum belanja perlengkapan. Mereka juga memeriksa apakah ada alat yang tertinggal di rumah pelanggan. Meteran dan kain pelindung sudah kembali, demikian pula salinan nota yang ditandatangani penerima. Pak Hadi menyimpannya pada berkas yang benar sebelum menerima pertanyaan pelanggan lain.
Syifa menyimpan bukti penerimaan, mengabari pegawai bahwa pengiriman selesai, lalu menutup catatan pesanan tersebut. Ia masih menunggu putusan untuk urusan pribadinya. Untuk pekerjaan yang satu ini, tidak ada lagi yang sekadar direncanakan.