Rabu pagi, Syifa menuliskan tiga hal di kertas dekat meja kasir: menghubungi pemasok meja makan, memeriksa pengiriman besok, dan menyerahkan kunci toko cadangan kepada Pak Hadi. Ketiganya perlu selesai sebelum ia pulang menyiapkan diri untuk sidang Kamis.
Ia tidak ingin pagi persidangan dihabiskan menjawab pertanyaan tentang letak nota atau kendaraan yang belum dijadwalkan. Namun membuat toko dapat berjalan tanpa dirinya sehari juga tidak berarti semua keputusan diserahkan tanpa batas. Pak Hadi sudah memahami harga dan pesanan yang boleh dilayani seperti biasa. Perubahan harga barang cacat tetap menunggu persetujuan, atau diberi waktu jawaban setelah Syifa selesai mengikuti agenda.
'Besok saya yang membuka,' kata Pak Hadi sambil menerima kunci. 'Pegawai lain sudah tahu jadwalnya. Pengiriman pagi juga tidak membutuhkan keputusan harga baru.'
Syifa memeriksa buku pengiriman. Ada pesanan lama yang pelunasannya sudah diterima dan tinggal diantar. Alamat serta nomor penerima telah dikonfirmasi. Ia memberi tanda pada salinan nota, lalu meminta Pak Hadi tetap menyimpan bukti penerimaan barang setelah kendaraan kembali.
'Kalau ada yang tidak sesuai, kabari. Tetapi saya mungkin tidak bisa langsung menjawab saat di ruang sidang.'
'Kami tunggu kalau memang bukan keadaan mendesak, Bu.'
Menjelang siang, pemasok menghubungi untuk memberi kabar tentang meja makan yang ingin dipakai pelanggan pada Sabtu. Pekerjaan pelapis kursi belum selesai. Mereka dapat memenuhi tanggal awal yang telah disepakati, tetapi tidak sanggup memajukannya tanpa melewati pemeriksaan akhir.
Syifa tidak meminta foto sebagian pekerjaan lalu menggunakannya sebagai bukti bahwa barang pasti siap. Ia menanyakan sekali lagi tanggal pengambilan yang realistis, mencatat jawabannya, kemudian menelepon pelanggan sesuai janji pada Senin.
'Maaf, Bu. Untuk Sabtu belum bisa dipenuhi. Tanggal awal pesanan tetap dapat dijalankan.'
Perempuan di seberang telepon terdengar kecewa. Ia sudah membayangkan meja baru itu dipakai berkumpul bersama saudara. Syifa mendengarkan sampai selesai, lalu mengulangi pilihan yang memang tersedia. Barang tidak akan dikirim dalam keadaan pelapis belum rapi hanya untuk memenuhi acara.
Pelanggan akhirnya setuju menggunakan meja lama untuk akhir pekan. Ia meminta kabar lagi ketika barang siap diperiksa. Syifa menuliskan persetujuan itu dan mengirim ringkasan percakapan, agar Pak Hadi memiliki pegangan yang sama besok.
Sesudah urusan toko tertata, Bu Murni datang membawa wadah kosong yang hendak dikembalikan. Syifa mengajaknya duduk sebentar. Ia menjelaskan bahwa besok akan berangkat pagi bersama Bu Lestari, sementara rumah dikunci seperti biasa.
'Perlu saya menunggu di rumahmu?' tanya Bu Murni.
'Tidak perlu seharian, Bu. Kalau Ibu sempat sore, boleh saya makan bersama Ibu setelah pulang? Saya belum tahu akan selelah apa.'
'Boleh. Kabari kalau sudah di jalan pulang. Saya masak cukup untuk kita, tidak usah kamu membawa apa-apa.'
Syifa tersenyum. Ia memilih menerima bantuan yang memang dibutuhkannya. Bu Murni tidak harus berubah menjadi penjaga rumah atau menggantikan pegawai toko hanya karena bersedia menemaninya.
Sore hari, Ryan memastikan pemberitahuan waktu hadir sudah diterimanya. Pesannya kepada Syifa singkat, lalu ia menghubungi pihak yang mendampinginya untuk memeriksa berkasnya sendiri. Ia tidak meminta Syifa menjemput atau menunggu di depan kamar sewaan.
Di kamar itu, Ryan mengeluarkan pakaian yang akan dipakai besok. Kardus pengambilan barang dari rumah Syifa sudah dibuka dan dirapikan. Buku-buku masuk ke rak sederhana, sedangkan kipas kecil berdiri dekat jendela. Tidak ada alasan kembali mendatangi rumah itu malam ini dengan dalih mencari kemeja yang sebenarnya sudah dibawa.
Dina menelepon ketika Ryan sedang menggantung pakaian. Ia menanyakan sidang besok, lalu bertanya apakah ia perlu ikut datang.
'Tidak usah, Bu. Saya sudah tahu tempat dan waktunya. Kalau ada keperluan yang memang membutuhkan Ibu, nanti disampaikan lewat jalur yang benar.'
Dina menghela napas. 'Ibu tidak akan bicara macam-macam kepada Syifa. Pekan lalu Ibu sudah datang ke toko.'
'Syifa tidak harus membicarakan semuanya kepada saya. Ibu tidak perlu meminta dia memberi jawaban lain besok.'
'Iya. Ibu tahu.'
Ryan menanyakan Sherly. Dina mengatakan istrinya sudah makan dan sedang beristirahat. Kebutuhan yang mereka bicarakan pada kunjungan sebelumnya sudah dicatat; malam ini tidak ada permintaan mendadak yang mengharuskannya mengubah semua jadwal. Ryan meminta Dina menyampaikan bahwa ia akan memberi kabar setelah urusan sidang selesai, bukan menjanjikan putusan yang belum dibacakan.
Selepas magrib, Syifa menutup toko setelah memeriksa kas bersama Pak Hadi. Ia pulang ke rumahnya sendiri, menghangatkan makanan, lalu mandi sebelum duduk memeriksa tas. Map, identitas, air minum, dan sedikit uang tunai diletakkannya dalam bagian yang mudah dijangkau. Ia mengisi daya ponsel dan memasang pengingat waktu berangkat.
Gaun pernikahan lamanya tetap berada di tempat penyimpanan. Untuk besok, ia telah menyiapkan pakaian lain sesuai arahan persiapan. Lima poin perjanjian pernah dibuatnya dengan kemarahan dan maksud yang tidak seluruhnya sanggup ia akui saat itu. Kini ia tidak ingin setiap langkah menjadi pengulangan cara melukai Ryan.
Ketika Bu Lestari mengirim pesan pengingat, Syifa memastikan bahwa ia sudah siap dijemput pada waktu yang disepakati. Ia tidak membalas bahwa dirinya pasti tenang. Ia hanya mengatakan berkas sudah lengkap dan akan menunggu di teras.
Ternyata pikirannya masih sibuk ketika ia hendak mematikan televisi. Siaran yang menyala sejak makan malam hampir tidak diingatnya. Syifa meraih pengendali, mengecilkan suara, lalu akhirnya mematikannya. Dalam ruangan yang lebih sunyi, ia dapat mendengar air menetes dari keran yang kurang rapat. Ia berdiri untuk menutupnya, mengambil lap bagi lantai yang basah, dan mengembalikan ember ke sudut. Pekerjaan kecil itu membantunya berhenti menyusun jawaban untuk pertanyaan yang belum ditanyakan. Sesudah semuanya kering, ia duduk sebentar, meminum sisa air dalam gelas, lalu membawa gelas kosong ke dapur.
Sebelum tidur, ia berjalan memeriksa pintu belakang. Sepatu Ryan tidak lagi menghalangi jalan. Syifa mengunci pintu, mematikan lampu dapur, lalu kembali ke kamar. Alarm sudah dipasang. Ia membiarkan tas tetap tertutup dan berbaring, memilih beristirahat daripada membuka map untuk kesekian kali.