Senin setelah pembayaran kedua, Syifa datang ke kantor Bu Lestari dengan cetakan pengganti yang diminta pada pertemuan sebelumnya. Ia telah membandingkan salinan itu dengan dokumen aslinya. Angka yang semula buram kini bisa dibaca tanpa harus mendekatkan kertas ke cahaya.
Bu Lestari mempersilakannya duduk. Di meja tersedia daftar berkas untuk agenda keterangan lanjutan pada Kamis pekan itu. Syifa membaca satu per satu, kemudian mencocokkan dengan isi map. Ada bukti yang sudah diserahkan, ada pula catatan pembayaran terbaru yang akan dibawa sebagai pembaruan.
'Kita tidak mengulang semua cerita dari awal,' kata Bu Lestari. 'Tetapi kalau ada pertanyaan, jawab sesuai yang kamu alami. Jangan merasa perlu menambahkan sesuatu agar terdengar lebih berat.'
Syifa mengangguk. Selama ini ia sering takut bahwa rasa sakitnya baru dianggap cukup jika disampaikan dengan kata-kata yang lebih keras. Padahal beberapa hal yang paling melukainya justru terjadi dalam percakapan sehari-hari, di rumah yang seharusnya membuatnya tenang.
'Kalau saya tiba-tiba menangis?'
'Berhenti sebentar kalau perlu. Tidak usah melawan tubuhmu hanya supaya terlihat siap. Kita persiapkan berkas dan jawaban, bukan melatihmu menjadi orang lain.'
Syifa menunduk pada mapnya. Ia menandai letak catatan yang perlu mudah ditemukan, lalu bertanya tentang ucapan Ryan yang kadang masih menyatakan ingin mempertahankan pernikahan. Ia tidak ingin kedatangannya bersama Ryan di tempat yang sama dianggap berarti mereka sudah kembali sepakat hidup bersama.
Bu Lestari menjelaskan apa yang akan mereka sampaikan mengenai sikap Syifa. Keputusan untuk melanjutkan gugatan tetap harus datang dari dirinya, bukan dari keinginan Athar, Dina, atau siapa pun. Bantuan orang lain tidak menghapus alasan yang telah dibawanya sejak awal perkara.
'Saya tetap ingin berpisah,' kata Syifa. 'Saya tidak sedang menunggu Ryan melakukan satu hal lagi supaya boleh pergi.'
'Itu yang perlu kamu sampaikan dengan jelas.'
Pembicaraan berikutnya lebih praktis. Syifa menuliskan waktu pertemuan sebelum sidang, tempat berkumpul, serta nomor yang harus dihubungi jika ada kendala perjalanan. Ia akan datang bersama Bu Lestari. Ryan mendapat pemberitahuan untuk urusannya sendiri, sehingga Syifa tidak perlu menjadi pengingat pribadi yang memastikan ia bangun dan berangkat tepat waktu.
Sebelum pulang, Syifa menanyakan apakah pakaian pernikahan lama perlu dikenakan lagi. Kesepakatan itu sudah dijalani pada agenda sebelumnya; ia tidak ingin menebak lalu mengulangi seluruh peristiwa tanpa keperluan.
'Tidak ada alasan membuat persiapan pakaian yang sama menjadi pertunjukan berulang,' jawab Bu Lestari. 'Untuk Kamis, siapkan pakaian yang sopan dan membuatmu nyaman mengikuti persidangan. Berkas yang diminta jauh lebih perlu kamu pastikan.'
Syifa menyimpan catatan itu. Ia tidak menganggap gaun lama sebagai benda yang bisa menentukan akhir perkara. Apa pun makna yang dahulu ia masukkan ke lima poin perjanjian, sekarang ia perlu mendengarkan proses yang benar-benar sedang dijalani.
Ketika membereskan map, selembar salinan terlepas dan jatuh dekat kaki kursinya. Syifa membungkuk mengambilnya, lalu menyadari urutan halaman yang disusunnya terbalik. Bu Lestari menunggu sementara ia mencocokkan nomor, tidak meraih seluruh map dan mengerjakannya tanpa meminta izin. Setelah urutannya benar, Syifa memasang penjepit agar kertas tidak tercecer lagi.
'Saya kira kalau sudah masuk map pasti rapi,' gumamnya.
'Sekarang masih bisa dibenahi. Lebih baik ketahuan di sini.'
Syifa tersenyum kecil. Ia memotret daftar berkas untuk pegangan pribadi, lalu memeriksa meja dan kursi sebelum berdiri. Tidak ada dokumen asli yang tertinggal. Ia memasukkan map ke dalam tas yang dapat ditutup, mengucapkan terima kasih, dan baru berjalan keluar setelah memastikan waktu pertemuan Kamis tertulis dengan benar.
Di toko, Pak Hadi sedang menghadapi permintaan pelanggan yang ingin memajukan jadwal meja makan. Pemasok belum menjanjikan perubahan, tetapi pelanggan berharap barang dapat dipakai untuk acara keluarga Sabtu mendatang. Syifa meminta Pak Hadi menghubungkan mereka sebelum jawaban diberikan.
'Saya mengerti Ibu ingin memakainya untuk acara,' katanya kepada pelanggan. 'Tetapi saya belum bisa menjanjikan Sabtu. Jadwal yang kemarin kita sepakati masih yang tercatat di pesanan.'
Pelanggan terdiam, lalu bertanya apakah mempercepat pengiriman saja akan membantu.
Syifa memeriksa kabar pemasok. Masalahnya bukan kendaraan, melainkan pelapis kursi yang masih dikerjakan. Ia menjelaskan hal itu tanpa menyalahkan pegawai atau meminta pelanggan menerima barang setengah jadi. Mereka sepakat menunggu kepastian pada Rabu siang. Jika belum siap, tanggal awal tetap berlaku; acara keluarga tidak akan dijadikan alasan mengubah janji yang belum disanggupi toko.
Setelah telepon berakhir, Syifa menuliskan tindak lanjut Rabu pada buku kerja. Pak Hadi mencatat siapa yang akan menghubungi pemasok. Pada Kamis, ketika Syifa pergi ke sidang, jawaban yang sudah diterima harus bisa ditemukan pegawai lain tanpa menunggu ia membalas pesan dari ruang persidangan.
Sore itu Athar menelepon setelah meminta waktu lebih dahulu. Syifa menjawab ketika toko sudah tutup, masih duduk di meja kerjanya. Mereka sempat berbicara tentang pekerjaan masing-masing sebelum ia menyebut jadwal Kamis.
'Kamu berangkat dengan Bu Lestari?' tanya Athar.
'Iya. Persiapannya tadi sudah dibahas.'
'Kalau butuh sesuatu yang bisa kubantu dari sini, kabari.'
Syifa berterima kasih, lalu menegaskan bahwa ia tidak memintanya pulang untuk hadir. Perjalanan dari kota akan memakan waktu panjang, dan kedatangannya bukan syarat agar Syifa sanggup menyatakan keputusan sendiri.
'Aku juga tidak ingin orang mengira kamu datang sebagai jawaban untuk semua urusanku,' tambahnya.
'Aku paham. Aku tidak akan datang tanpa kamu minta.'
Tidak ada kekecewaan yang dipaksakan menjadi rasa bersalah. Athar mengucapkan semoga persiapannya lancar, kemudian menutup telepon karena masih harus menyelesaikan satu pekerjaan sebelum makan malam.
Syifa pulang membawa map yang lebih rapi, bukan keyakinan bahwa semuanya akan mudah. Di rumah, ia menaruh dokumen pada tempat yang tidak terkena air dari jendela. Ia menyiapkan pakaian untuk Kamis, lalu memisahkan nota pelanggan dari berkas perkara. Daftar pekerjaan Rabu diletakkannya di samping tas agar terbaca saat ia berangkat besok pagi. Esok ia masih harus membuka toko. Keputusan besarnya tidak menghapus kebutuhan-kebutuhan kecil yang harus dikerjakan satu per satu.