Sabtu sore, Syifa mendengar kendaraan berhenti ketika jarum jam melewati pukul empat. Ia sedang menaruh dua gelas air di teras. Pak Hadi datang bersama Ryan, seperti yang disepakati, tanpa Dina atau Sherly menyertai mereka.
Ryan menurunkan dua kardus kosong dari kendaraan yang dipakainya. Pak Hadi membawa gulungan perekat. Syifa membuka pagar, mempersilakan keduanya masuk, lalu menunjukkan kotak berisi sepatu dan buku yang sudah dipisahkannya.
'Yang ini ditemukan di dapur dan bawah meja. Sisanya masih di rak pakaianmu.'
'Terima kasih sudah disimpan.'
Syifa mengangguk. Ia tidak menjawab dengan keramahan yang berlebihan, tetapi juga tidak ingin pengambilan barang berubah menjadi pertengkaran. Ketika Ryan masuk ke kamar, ia tetap berada dekat pintu yang terbuka. Pak Hadi duduk di ruang tengah, cukup dekat untuk mendengar jika dipanggil.
Ryan melipat kemeja satu per satu. Beberapa masih memiliki garis setrika yang dibuat Syifa sebelum persoalan mereka terbuka. Ia sempat memegang salah satunya lebih lama, lalu memasukkannya ke kardus. Kenangan yang muncul tidak memberinya hak untuk memperpanjang kunjungan.
'Buku di meja itu semuanya punyamu?' tanya Syifa.
'Dua yang paling atas. Yang sampul hijau milik Pak Wardi. Dulu saya pinjam.'
Ia menyerahkan buku hijau itu kepada Syifa. Di halaman depan, nama Wardi ditulis dengan tinta yang mulai pudar. Syifa mengusap debu pada tepinya sebelum menaruhnya di rak lain. Untuk pertama kalinya sore itu, tangannya sedikit gemetar.
Ryan melihatnya, tetapi tidak mengulurkan tangan. Ia beralih mengambil perlengkapan cukur yang tersimpan dalam laci, memeriksa apakah ada barang Syifa yang tercampur. Sikat rambut dan sebuah gunting kecil dikembalikannya ke tempat semula.
'Kalau menemukan dokumen usaha, tinggalkan saja,' kata Syifa.
'Iya. Saya hanya membawa dokumen pribadi.'
Mereka memeriksa beberapa kertas yang terselip di antara buku. Salinan catatan pelanggan dikembalikan kepada Syifa, sedangkan surat lama atas nama Ryan dimasukkan dalam mapnya sendiri. Tidak ada pemindahan kepemilikan toko atau rumah di dalam pengemasan itu. Urusan yang telah dibahas bersama pendamping mereka tidak diputuskan ulang hanya karena sebuah kertas ditemukan dalam laci.
Setelah rak pakaian kosong, Ryan mengangkat pandangan ke foto pernikahan yang berada di atas lemari pendek. Ia dan Syifa tersenyum dalam bingkai itu. Wajah mereka tampak begitu yakin pada hari yang sekarang terasa jauh.
'Foto itu bagaimana?' tanyanya.
Syifa menatapnya cukup lama sebelum menjawab. 'Saya simpan.'
Ryan menunduk, menggeser kardus agar tidak mengenai kaki lemari.
'Itu bagian hidup saya,' lanjut Syifa. 'Menyimpannya bukan berarti keputusan saya berubah.'
'Saya mengerti.'
Syifa tidak tahu seberapa jauh Ryan sungguh mengerti. Ia hanya tahu bahwa dirinya tidak harus menghancurkan semua benda untuk membuktikan kesungguhan bercerai. Ia mengambil bingkai, membungkusnya dengan kain bersih, lalu meletakkannya di lemari yang kuncinya ia pegang sendiri.
Pak Hadi dipanggil setelah dua kardus siap ditutup. Sebelum merekatkannya, Ryan menunjukkan isi masing-masing secara singkat. Buku, pakaian, sepatu, dan perlengkapan pribadi. Mereka tidak membuat daftar setiap kaus, tetapi Syifa memastikan tidak ada berkas rumah atau barang dagangan di dalamnya.
Di ruang tengah, Ryan melihat kipas angin kecil yang dahulu sering dipakainya saat bekerja malam. Ia bertanya apakah boleh membawanya. Syifa mengingat bahwa kipas itu dibeli dari uang rumah tangga bersama, bukan inventaris toko. Setelah berpikir sebentar, ia mengizinkan Ryan mengambilnya dan mencatat tambahan itu dalam pesan kesepakatan barang.
Barulah Pak Hadi membantu mengangkat kardus ke kendaraan. Ryan membawa kipas dan tas berisi dokumen pribadinya. Syifa berdiri di teras sampai keduanya selesai menata muatan.
Sebelum kardus terakhir dinaikkan, Ryan menyadari salah satu sudutnya mulai terbuka. Ia menurunkannya lagi dan meminta tambahan perekat kepada Pak Hadi. Buku-buku diletakkan di bagian bawah, pakaian dipindah agar beratnya lebih seimbang. Syifa mengambilkan kantong besar untuk sepatu yang semula dipaksakan masuk. Pekerjaan sederhana itu membuat mereka harus berbicara tanpa saling menyindir. Setelah beban kardus lebih ringan, Pak Hadi mengangkatnya kembali dan memastikan tidak menekan bilah kipas. Ryan mengembalikan sisa gulungan perekat, lalu memeriksa teras supaya tidak ada kemasan yang ditinggalkan untuk dibereskan Syifa. Dua kardus dan satu kantong akhirnya tertata di kendaraan.
'Saya pernah merasa semua yang ada di sini bisa saya atur,' kata Ryan ketika kembali untuk mengambil gelas. 'Termasuk hidupmu.'
Syifa menerima gelas yang disodorkannya. 'Sekarang yang perlu kamu lakukan bukan menjelaskan perasaan itu lagi. Penuhi yang masih menjadi tanggung jawabmu.'
'Pembayaran berikut tetap sesuai jadwal.'
'Saya akan mencatat setelah uangnya diterima.'
Ryan mengangguk. Tidak ada pelukan perpisahan atau permintaan agar Syifa memikirkan kembali keputusannya. Ia mengucapkan salam, masuk ke kendaraan, lalu berangkat. Pak Hadi tinggal sebentar untuk memastikan pintu dan jendela yang tadi dibuka sudah ditutup.
'Saya kembali ke toko, Bu. Pegawai masih menunggu penutupan kas.'
'Terima kasih, Pak. Besok tidak perlu membicarakan ini dengan mereka. Cukup bilang urusan pengambilan barang sudah selesai.'
Sesudah Pak Hadi pergi, rumah terasa lebih lapang sekaligus asing. Syifa berdiri di depan rak kosong, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia membiarkan kesedihan datang tanpa menganggapnya sebagai tanda bahwa pilihannya salah. Pernikahan itu pernah diharapkannya bertahan. Mengakui harapan yang gagal tidak sama dengan ingin mengulang semua yang telah terjadi.
Bu Murni mengetuk pagar menjelang magrib. Ia membawa semangkuk sayur dan menanyakan apakah Syifa sudah makan. Syifa membukakan pintu, memintanya masuk sebentar, lalu mengambil nasi dari dapur.
Mereka makan di meja kecil. Bu Murni bercerita tentang anaknya yang kembali meminta bermain di luar setelah pulih. Syifa mendengarkan, sesekali menanggapi, bersyukur karena tidak setiap percakapan harus mengulas Ryan.
Setelah tetangganya pulang, Syifa mencuci mangkuk dan mengeringkan meja. Ia memeriksa kamar sekali lagi, memastikan tidak ada barang yang perlu segera diberitahukan tertinggal. Rak itu tetap kosong. Buku hijau Wardi sudah berada bersama buku lain, sementara foto pernikahan tersimpan di balik pintu lemari. Syifa mematikan lampu kamar dan berjalan ke ruang depan untuk menutup tirai.