Senin siang, Dina datang ketika Syifa sedang menunjukkan contoh kain kepada sepasang pembeli. Ia berhenti di dekat pintu, memegang tas dengan kedua tangan. Syifa melihatnya, mengangguk sebagai sapaan, lalu menyelesaikan penjelasan tentang perbedaan harga pelapis yang sedang dipilih pelanggannya.
Dina menunggu di kursi dekat meja kasir. Tidak ada pegawai yang diperintahkannya mengambilkan minuman atau memanggil Ryan. Sejak pengelolaan toko diperjelas, ia tidak lagi bebas memperlakukan orang-orang di sana seperti pembantu keluarganya.
Sesudah pembeli membawa pulang contoh warna untuk didiskusikan, Syifa menghampirinya.
'Ada yang ingin Ibu bicarakan?'
'Kalau kamu ada waktu sebentar.'
Syifa melihat Pak Hadi yang sedang mencocokkan nota. Ia meminta izin beralih ke meja kecil di sudut ruangan, tetap di tempat yang bisa dijangkau pegawai jika diperlukan. Dina mengikuti, lalu duduk menghadap jendela.
'Bukan soal mengambil barang lagi,' katanya sebelum Syifa bertanya. 'Ryan sudah bilang selesai hari Sabtu.'
Syifa mengangguk. Ia menunggu, tidak membantu Dina mencari kalimat yang hendak diucapkan.
'Ibu sudah memikirkan perkataan Ibu selama ini.'
Dina mengusap ujung tasnya. Dari jalan terdengar kendaraan pengantar berhenti, disusul suara pegawai membuka pintu gudang. Suara-suara itu membuat jeda di antara mereka terasa lebih panjang.
'Ibu pernah menyebut kamu mandul,' lanjutnya. 'Ibu menjadikannya alasan untuk merendahkanmu, padahal Ibu tidak berhak menyimpulkan keadaanmu begitu. Ibu juga memakai kenyataan bahwa Wardi dan Salimah mengangkatmu untuk membuatmu merasa tidak pantas memiliki peninggalan mereka.'
Syifa menekan bibir. Ada bagian dirinya yang telah lama ingin mendengar pengakuan sejelas itu. Namun ketika akhirnya terdengar, lukanya tidak otomatis mengecil. Ia masih ingat bagaimana hinaan tentang anak dan asal-usulnya diucapkan seolah menjadi penjelasan yang membenarkan segala perlakuan Dina.
'Saya memang anak angkat mereka,' jawabnya. 'Tetapi mereka orang tua saya. Hal itu tidak berkurang hanya karena Ibu marah kepada saya.'
'Iya.'
'Dan saya bukan tempat Ibu menaruh semua kekecewaan karena belum punya cucu.'
Dina menunduk. 'Ibu tahu sekarang.'
Syifa mengambil napas sebelum meneruskan. Ia tidak ingin percakapan itu hanya menjadi kesempatan Dina merasa sudah melakukan sesuatu, sementara kata-kata yang sama kelak kembali digunakan ketika keinginannya tidak dituruti.
'Kalau Ibu menyesal, jangan ulangi kepada saya atau perempuan lain. Termasuk Sherly. Kehamilan tidak membuat seseorang boleh dipuji hari ini lalu dihina besok karena tidak memenuhi harapan Ibu.'
Dina tidak segera menjawab. Matanya beralih ke rak pajangan, lalu kembali kepada Syifa.
'Ibu terlalu memikirkan cucu sampai lupa cara bicara kepada kalian.'
'Bukan hanya cara bicara, Bu. Ibu juga pernah menganggap rumah dan toko saya bisa diatur untuk kepentingan Ryan. Saya ingin itu berhenti.'
'Ibu tidak akan datang meminta bagian lagi.'
Syifa mengangguk pelan. Ia mendengar janji itu, tetapi tidak menawarkan kunci toko atau membuka kembali akses yang sudah dibatasi. Perubahan Dina harus tampak dalam perilakunya sesudah hari ini, bukan dibuktikan dengan menyerahkan sesuatu yang tidak ingin Syifa serahkan.
Seorang pegawai mendekat untuk menanyakan letak contoh warna yang tadi dipakai. Syifa menunjukkan map di meja utama dan meminta mereka menyimpannya setelah selesai. Dina menunggu sampai pegawai itu pergi, lalu berbicara lebih pelan.
'Ryan sedang berusaha mengembalikan uang. Ibu lihat dia sekarang mencatat pengeluaran sendiri.'
'Bagus kalau dilakukan. Itu memang kewajibannya.'
'Apa tidak ada sedikit pun kemungkinan kalau dia terus berubah?'
Pertanyaan itu membuat Syifa kembali menegakkan punggung. Dina tampaknya menyadari kesalahannya bahkan sebelum Syifa menjawab, tetapi kalimat itu sudah berada di antara mereka.
'Saya bersedia mendengar permintaan maaf Ibu. Saya tidak bersedia menjadikan percakapan ini tawar-menawar tentang keputusan saya.'
'Ibu tidak bermaksud memaksa.'
'Saya tetap melanjutkan gugatan. Pembayaran Ryan tidak membeli kesempatan untuk kembali. Perubahan Ibu juga tidak harus dibalas dengan saya mempertahankan pernikahan.'
Dina meremas pegangan tasnya, kemudian melepaskannya perlahan.
'Baik. Ibu tidak akan menanyakan itu lagi hari ini.'
'Saya berharap bukan hanya hari ini.'
Kalimat itu tidak diucapkan keras, tetapi Dina mendengarnya. Ia mengangguk, kali ini tanpa menambahkan alasan tentang keluarga utuh atau nama baik. Syifa meraih botol air di dekat meja dan menawarkan satu gelas. Dina menerima. Keduanya minum tanpa berusaha mengisi setiap jeda.
Beberapa menit kemudian, pasangan pembeli tadi kembali. Mereka sudah menentukan warna pelapis dan ingin memastikan ukuran meja sebelum memesan. Pak Hadi mendekati Syifa, menyebut pertanyaan mereka secara singkat.
Syifa menoleh kepada Dina. 'Saya perlu melayani dulu, Bu.'
'Iya. Ibu juga pulang.'
Dina berdiri. Ia tidak memeluk Syifa atau meminta panggilan sayang sebagai tanda bahwa semuanya telah dimaafkan. Di dekat pintu, ia berbalik sekali.
'Terima kasih sudah mau mendengar.'
'Saya mendengar, Bu. Tetapi saya masih perlu waktu untuk merasa nyaman berbicara seperti dulu.'
Dina mengangguk dan berjalan keluar. Syifa menunggu sampai ia melewati kendaraan pengantar, lalu kembali kepada pembelinya. Ia membuka buku ukuran, memastikan ruang makan mereka cukup untuk kursi ditarik, dan menuliskan pilihan warna yang sudah disepakati.
Pesanan itu tidak langsung selesai hanya karena mereka menyukai contohnya. Ukuran ruangan perlu diperiksa lagi malam nanti, sehingga Syifa memberi salinan rincian tanpa meminta uang muka saat itu juga. Ia mencatat nomor yang dapat dihubungi dan berjanji menunggu konfirmasi sebelum mengajukan pesanan kepada pemasok.
Menjelang sore, Syifa menyempatkan diri duduk di belakang meja kasir. Tangannya masih agak dingin. Pak Hadi menawarkan untuk menjaga meja beberapa menit bila ia ingin beristirahat di ruang belakang. Syifa menerima, mengambil air minum, lalu duduk dekat jendela yang terbuka. Ia tidak menangis, tetapi tidak memaksa dirinya segera terlihat biasa. Setelah napasnya lebih tenang, ia kembali ke depan untuk memeriksa penghitungan kas bersama Pak Hadi sebelum pegawai pulang.
Ia memeriksa jadwal besok, menyiapkan rincian barang yang perlu dipesan kembali, lalu menutup buku kecil tempatnya mencatat kebutuhan toko. Permintaan maaf Dina sudah didengar. Pekerjaan hari itu tetap dilanjutkan, dan keputusan tentang hidupnya tidak berpindah ke tangan siapa pun.