Dua hari kemudian, Bu Murni mengetuk pagar ketika Syifa sedang mencabut rumput di sela batu halaman. Tetangganya itu membawa gunting tanaman, tetapi tidak langsung masuk sebelum Syifa membuka pintu.
'Saya lihat rantingnya sudah mengenai jendela. Mau sekalian dipotong? Gunting saya baru diasah.'
Syifa menerima tawaran itu. Ia mengambil kursi pendek dari teras, sementara Bu Murni menunjuk cabang yang perlu dipangkas. Mereka bekerja bergantian, menahan ranting agar tidak menimpa pot. Anak Bu Murni sudah pulih dan pagi itu sedang bersama ayahnya, sehingga ibunya bisa mampir tanpa tergesa.
Di bawah jendela, Syifa menemukan sebuah pot retak yang dahulu sering dipindahkan Salimah untuk mengejar matahari. Ia memiringkannya, melihat akar tanaman menembus celah, lalu tertawa pelan.
'Dulu Mama bilang jangan dipindah ke pot besar. Katanya nanti saya malah terlalu rajin menyiram.'
'Kamu memang suka memberi air banyak-banyak.'
'Karena takut kering.'
'Sekarang tanamannya sudah protes duluan.'
Mereka memindahkan tanaman itu ke wadah kosong yang masih layak. Syifa menyapu sisa tanah dan menaruh pot retak di dekat tumpukan barang yang akan dibuang. Rumah yang dirawatnya adalah rumah yang sama sejak ia menikah, bukan tempat pelarian yang baru ditemukan. Hanya kebiasaannya di dalam rumah itu yang perlahan berubah.
Sesudah mencuci tangan, Syifa membuat teh. Bu Murni duduk di teras, mengambil satu potong singkong rebus dari piring yang dibawa Syifa.
'Hari ini toko bagaimana?'
'Pak Hadi sudah membuka. Saya menyusul setelah ini. Tadi memang izin agak siang, bukan tiba-tiba tidak datang.'
Ia belum selesai berbicara ketika ponselnya bergetar. Nama Ryan muncul di layar. Syifa membaca pesan itu terlebih dahulu, kemudian membalik ponsel agar tidak terkena tetesan air dari tangannya.
Ryan menanyakan waktu untuk mengambil barang yang masih tertinggal. Kamar sewaannya dekat tempat kerja sudah ditata, dan ia membutuhkan beberapa buku serta pakaian yang belum terbawa. Ia tidak menulis bahwa Syifa harus membukakan pintu saat itu juga.
Syifa memikirkan jadwal pengiriman toko sebelum membalas. Besok, Sabtu sore, ada waktu sesudah toko lebih sepi. Ia mengusulkan pukul empat, dengan Pak Hadi ikut hadir. Buku dan pakaian milik Ryan boleh dibawa, sedangkan dokumen rumah serta arsip usaha tetap tinggal.
Jawaban Ryan datang beberapa menit kemudian. Ia setuju dan akan menyediakan kotak sendiri.
'Ada apa?' tanya Bu Murni setelah Syifa meletakkan ponsel.
'Besok Ryan mengambil barang. Saya minta Pak Hadi menemani.'
Bu Murni mengangguk, tidak menawarkan diri untuk menghubungi Ryan atau mempertemukan mereka lebih lama. 'Kalau sudah selesai dan kamu ingin ditemani, ketuk saja rumah saya. Kalau ingin sendiri juga tidak apa-apa.'
Syifa berterima kasih. Tawaran yang menyertakan pilihan terasa lebih ringan daripada nasihat yang harus segera ia ikuti.
Sebelum pergi ke toko, ia membuka lemari untuk melihat barang yang perlu dipisahkan. Pakaian Ryan dibiarkan di rak asalnya. Ia hanya memindahkan berkas warisan dan dokumen usaha ke lemari kerjanya, kemudian menguncinya. Memastikan batas kepemilikan tidak mengharuskannya menggeledah setiap saku pakaian.
Di toko, Pak Hadi memeriksa jadwal Sabtu. Pengiriman terakhir diperkirakan selesai sebelum pukul tiga. Ia bersedia datang ke rumah Syifa sesudah menyerahkan urusan penutupan kepada pegawai yang mendapat giliran.
'Bapak tidak perlu membantu memilah barang. Saya hanya ingin ada saksi waktu pengambilan,' kata Syifa.
'Baik, Bu. Kalau masih ada yang dipersoalkan, jangan diputuskan sambil terburu-buru.'
Syifa menyimpan kesepakatan waktu itu. Siangnya ia kembali menghadapi pekerjaan yang lebih biasa: menghitung persediaan kursi makan dan mencocokkan warna pelapis dengan pesanan masuk. Pak Hadi menemukan satu kode yang tertulis keliru, lalu keduanya membandingkan contoh kain sebelum menghubungi pembeli. Koreksi dilakukan sebelum barang dikemas, sehingga tidak ada pengantaran yang perlu dibatalkan.
Pembeli meminta contoh kain difoto di dekat jendela supaya warnanya tidak berubah oleh lampu. Syifa mengirim dua gambar dengan penjelasan yang sama, menunggu pilihan tertulis, kemudian melampirkannya pada pesanan. Ia tidak ingin pegawai menebak maksud pembeli dari percakapan yang hanya didengarnya sendiri.
Pada sore yang sama, Ryan menelepon Dina dari kamar sewaannya. Ia memberi tahu rencana mengambil pakaian, sekaligus memastikan siapa yang akan mengantar Sherly bila membutuhkan bantuan di luar jadwal kunjungannya.
'Kamu ke rumah Syifa besok?' tanya Dina. 'Mungkin sekalian bicara baik-baik. Barangmu masih di sana.'
'Saya datang untuk mengambil barang, Bu. Waktunya sudah disepakati. Bukan alasan untuk mengajak Syifa kembali.'
'Ibu cuma bertanya.'
Ryan duduk di tepi kasur. Di depannya ada buku pengeluaran yang mencatat ongkos makan, sewa, dan kebutuhan Sherly yang sudah dibayarnya. Pertemuan dengan Sherly sebelumnya tidak membuatnya kembali tinggal di rumah Dina. Tanggung jawabnya sebagai suami tetap berjalan, tetapi ia sedang belajar berhenti menggunakan kebingungan tempat tinggal untuk menghindari keputusan yang jelas.
'Kalau ada kebutuhan mendesak, kabari. Untuk besok sore saya tidak bisa datang bersamaan. Jangan meminta Sherly menyusul ke rumah Syifa.'
Dina menjawab singkat. Setelah telepon berakhir, Ryan melipat dua kardus kosong dan menyandarkannya dekat pintu, agar tidak lupa dibawa besok.
Jauh dari desa, Athar baru tiba di apartemennya ketika Bagas menghubungi. Ayahnya bertanya apakah ia sudah makan, lalu menyebut Ros yang beberapa hari ini mengeluhkan lutut pegal setelah terlalu lama berdiri. Ia sudah beristirahat; Bagas tidak sedang meminta Athar pulang malam itu.
Athar mendengarkan tanpa menyela. Hubungannya dengan Ros tidak serta-merta menjadi dekat hanya karena ia lebih sering berbicara dengan ayahnya. Kenangan masa kecilnya masih ada, dan ia tidak ingin berpura-pura semuanya telah selesai.
'Kalau perlu dibawa periksa dan Ayah kesulitan mengantar, beri tahu saya,' katanya. 'Saya belum bisa memastikan kapan pulang. Minggu ini masih ada pekerjaan.'
'Kerjakan dulu. Ayah cuma memberi kabar, bukan menyuruh kamu meninggalkan kerja.'
Percakapan itu berakhir tanpa janji yang tidak sanggup ditepati. Athar memanaskan makan malamnya, sementara di rumahnya Syifa memeriksa sekali lagi pesan kesepakatan untuk Sabtu. Pukul empat, bersama Pak Hadi, hanya pengambilan barang. Ia menaruh ponsel di meja dan melanjutkan menyetrika bajunya sendiri.