Pagi sesudah pertemuan Ryan dan Sherly di rumah Dina, Syifa memindahkan sepatu yang masih menghalangi pintu belakang. Sepasang milik Ryan itu diletakkannya dalam kotak terbuka, bersama buku yang ditemukan di bawah meja. Ia tidak membuangnya. Barang yang belum dibawa saat Ryan pindah ke kamar sewaan akan dikembalikan setelah mereka menyepakati waktu.
Pesan Ryan masuk ketika ia menaruh kotak. Laki-laki itu menanyakan barang apa saja yang masih tertinggal. Syifa menjawab ada pakaian, sepatu, dan beberapa buku. Waktu pengambilannya akan diatur setelah ia memeriksa jadwal toko. Ryan menyetujui untuk menunggu kepastian, sehingga belum ada janji kedatangan yang dibuat pagi itu.
Lantai yang semula tertutup rak kecil tampak lebih terang. Syifa menyapunya, lalu membuka jendela dapur. Udara pagi membawa suara tetangga memanggil penjual sayur. Ia mengambil uang belanja dan keluar sebentar, membeli telur serta seikat bayam untuk makan malam.
Tidak ada yang istimewa dari belanja itu. Justru karena itulah Syifa menikmati kesempatan memilih. Ia tidak perlu menebak menu yang bisa mencegah seseorang merajuk, atau menghitung apakah pulang sedikit terlambat akan menjadi alasan pertengkaran.
Namun ketenangan tidak membuat seluruh pekerjaannya selesai sendiri. Ketika ia sedang menaruh sayur di lemari pendingin, Pak Hadi menelepon dari toko.
'Ada pembeli lemari pajangan, Bu. Beliau minta barang contoh diantar hari ini. Sudut bawahnya tergores, jadi meminta potongan harga.'
Syifa melirik jam dinding. Toko baru saja dibuka.
'Sudah dilihat bagian dalamnya?'
'Sudah. Engsel dan kacanya baik. Yang tergores pelapis bagian kaki, tidak sampai pecah.'
'Tolong kirim foto dekatnya. Jangan janji berangkat dulu. Saya ke sana setelah mengunci rumah.'
Ia mengakhiri telepon, mencuci tangan, lalu memotret kotak sepatu dan buku sebelum menaruhnya di sudut kamar. Ada urusan rumah yang boleh menunggu. Permintaan pelanggan yang sedang berdiri di toko perlu dijawab terlebih dahulu.
Saat Syifa tiba, seorang perempuan berkemeja biru sedang mengukur rak kaca dengan meteran kecil. Pak Hadi memperkenalkannya sebagai Bu Rini, pemilik kios kue yang membutuhkan tempat pajangan sebelum membuka gerainya besok.
'Kalau saya pesan yang baru, belum tentu keburu,' kata perempuan itu. 'Tetapi untuk harga penuh, saya keberatan dengan bekas di bawah sini.'
Syifa berjongkok untuk memeriksa bagian yang ditunjuk. Goresannya pendek, berada di sisi yang menghadap dinding. Ia tetap meminta Pak Hadi membuka pintu kaca satu per satu. Sebuah rak pajangan tidak cukup dinilai dari kerusakan yang paling mudah terlihat.
Setelah memastikan bagian lainnya baik, Syifa menawarkan dua pilihan. Pelapis kaki bisa dirapikan dahulu dan barang dikirim besok sore, atau Bu Rini mengambil kondisi sekarang dengan potongan seratus lima puluh ribu rupiah. Biaya pengantaran tetap mengikuti jarak tujuan, bukan disembunyikan dalam harga barang.
Bu Rini menghitung sebentar di ponselnya.
'Saya pilih diantar hari ini. Bagian itu nanti di belakang. Asal kaca dan raknya benar-benar aman.'
'Kondisinya kami tulis di nota, Bu. Sebelum dinaikkan ke kendaraan, kita periksa bersama lagi.'
Pak Hadi menyiapkan nota. Syifa meminta foto goresan disimpan bersama catatan transaksi, kemudian menghubungi pengemudi yang biasa mengantar barang toko. Jadwal yang tersedia baru selepas makan siang. Setelah mendengar kepastian itu, Bu Rini setuju dan membayar harga yang telah mereka sepakati.
Uang diterima, nota diserahkan, tetapi Syifa belum menandai pengiriman sebagai selesai. Ia menuliskan jam penjemputan di papan kecil dekat meja kasir. Pak Hadi menyebut nama pegawai yang akan ikut untuk membantu menurunkan lemari, sementara Syifa memeriksa alamat dan nomor penerima.
Sesudah pelanggan pergi, Pak Hadi mendekat dengan membawa buku penjualan.
'Untuk potongan seperti tadi, ke depan harus selalu menunggu Ibu?'
Syifa memahami pertanyaan itu. Menjadi pemilik bukan berarti ia harus berdiri di belakang setiap keputusan pegawainya. Tetapi memberikan kebebasan tanpa batas yang jelas juga pernah membuatnya terlambat mengetahui apa yang terjadi dengan uang toko.
'Harga barang utuh tetap ikut daftar. Kalau ada cacat, foto dan catat dulu. Untuk sekarang, potongan karena kerusakan tetap minta persetujuan saya. Saya akan usahakan menjawab cepat.'
'Kalau Ibu sedang tidak bisa mengangkat telepon?'
'Beri pembeli waktu jawaban yang pasti, bukan langsung menjanjikan harga. Kita evaluasi setelah beberapa transaksi. Saya juga belum ingin membuat aturan yang ternyata menyulitkan Bapak melayani.'
Pak Hadi mengangguk. Mereka menuliskan kesepakatan itu di halaman depan buku, lalu kembali bekerja. Tidak ada pidato tentang kepercayaan. Yang ada hanyalah petunjuk yang bisa digunakan saat persoalan serupa datang lagi.
Selepas makan siang, kendaraan pengantar tiba. Syifa dan Bu Rini, yang kembali sesuai janji, memeriksa lemari sebelum kaca diamankan. Baru setelah lemari terikat dengan baik, pengemudi berangkat bersama pegawai toko. Dua jam kemudian, foto lemari yang sudah berdiri di kios masuk ke ponsel Pak Hadi. Bu Rini mengirim pesan bahwa barang diterima sesuai kondisi yang disepakati.
Syifa menandai pengiriman selesai dan menyimpan bukti penerimaan. Menjelang tutup, ia memeriksa lagi rekening usaha. Pembayaran sepuluh juta rupiah dari Ryan beberapa hari sebelumnya masih tercatat terpisah sebagai pengembalian uang toko. Sisa delapan juta belum berubah. Penjualan hari ini tidak boleh membuat catatan kewajiban itu ikut hilang.
Sebelum pegawai pulang, ia meminta mereka mengembalikan meteran dan gunting pembungkus ke laci yang sama. Pagi tadi keduanya sempat dicari ketika pelanggan menunggu. Pak Hadi mengusulkan tempat khusus dekat meja pemeriksaan barang, lalu menempelkan secarik kertas penanda. Syifa menyetujuinya. Besok mereka akan mencoba susunan itu dan melihat apakah lebih mudah digunakan. Ia juga mencatat bahwa pelapis kaki lemari pajangan lain perlu diperiksa, agar persoalan serupa tidak baru diketahui setelah pembeli datang.
Di rumah, ia memasak bayam yang dibelinya pagi tadi. Ketika menunggu telur matang, pesan Athar masuk, menanyakan apakah harinya cukup baik.
Syifa membalas setelah mematikan kompor. Ia menceritakan lemari pajangan yang berhasil dikirim dan keputusan kecil yang dibuatnya bersama Pak Hadi. Athar menjawab bahwa ia baru selesai bekerja dan senang mendengar kabar itu. Ia tidak meminta laporan penjualan atau menawarkan diri mengatur pegawai.
Percakapan mereka berhenti ketika Syifa hendak makan. Ia meletakkan ponsel di meja ruang tengah, mengambil mangkuk, lalu duduk di dapur. Di dekat pintu kamar, kotak barang Ryan masih menunggu waktu pengambilan. Syifa melihatnya sekali, kemudian kembali menyendok sayur selagi hangat.