Selasa, empat hari sesudah pembayaran sepuluh juta diterima toko, Ryan datang ke rumah Dina setelah menyelesaikan tugas di gudang. Ia membawa keperluan yang telah ditanyakan Sherly dan uang pribadi yang disiapkan untuk tambahan kebutuhan pekan itu.
Waktu serta tujuan pertemuan diberitahukan secara terbuka sesuai perubahan batas yang sudah disepakati. Ia tidak kembali meminta Syifa menentukan apakah istrinya boleh diperiksa atau mendapat belanja. Yang perlu dijaga adalah keterangan tidak disembunyikan dan persoalan pribadi tidak kembali dibayar dari usaha orang lain.
Dina membuka pintu. Ia melihat kantong yang dibawa putranya, lalu menyuruh masuk karena Sherly sedang menunggu. Tidak ada lagi perdebatan apakah Ryan harus berdiri di teras hanya agar dapat mengatakan tidak bertemu.
Sherly duduk dengan catatan kebutuhan serta map Intan. Buku pemeriksaan ditempatkan di sisi berbeda. Kehamilannya kini sekitar enam belas minggu, sesuai perjalanan waktu sejak catatan awal yang menunjukkan kira-kira delapan minggu ketika ia dibawa ke rumah Syifa.
Ryan menaruh barang dan meminta ia memeriksa apakah ada yang tidak sesuai. Sherly membuka satu kantong, mencocokkan kebutuhan yang ditulis, lalu mengatakan bagian untuk kunjungan berikut masih harus disiapkan.
'Yang itu kita lihat sekarang,' jawab Ryan.
Mereka membuka jadwal dan bukti biaya sebelumnya. Ia tidak langsung mengatakan sudah memberikan cukup uang. Ada kebutuhan rutin, ada tambahan karena jadwal pemeriksaan, dan ada barang yang tidak harus dibeli hari itu.
Ryan menyerahkan lima ratus ribu rupiah dari dana pribadinya untuk bagian yang disepakati. Sherly menerima dan mencatat keperluannya. Uang itu bukan cicilan kepada Reno, bukan pembayaran baru kepada toko, dan bukan harga agar ia berhenti menanyakan tanggung jawab suaminya.
Dina memperhatikan sampai akhirnya bertanya apakah semua masih dapat dipenuhi setelah pembayaran sepuluh juta.
'Masih ada delapan juta yang harus kukembalikan sesuai jadwal,' jawab Ryan. 'Tapi kebutuhan Sherly tetap harus kuatur dari uang yang memang boleh kupakai.'
'Jangan sampai nanti kamu tidak punya apa-apa.'
'Aku bekerja. Ada simpanan pribadi yang sudah dicocokkan. Aku tidak perlu mengambil uang toko lagi untuk mengatakan aku membantu keluarga.'
Ia tidak menyebut gaji bulanan empat juta sebagai sesuatu yang telah masuk. Pekerjaan rutin baru mulai dijalani, sedangkan upah borongan satu juta sudah diterima dan sebagian digunakan membayar kamar. Kebutuhan berikut harus dihitung dari keadaan yang benar-benar ada, bukan penghasilan yang hanya dibayangkan.
Sherly menanyakan tempat tinggalnya. Ryan menjelaskan ia masih memakai kamar sewaan dekat gudang dan telah membayar bulan pertama. Ia tidak akan kembali ke rumah Syifa untuk menghemat biaya atau mengajak Sherly tinggal di sana setelah selama ini diminta keluar.
'Aku tahu itu bukan rumahku,' kata Sherly pelan.
Ryan mengangguk. Ia tidak memakai pengakuan tersebut untuk mengatakan seluruh perbuatannya terhadap Syifa sudah dimaafkan. Mereka sedang membicarakan kehidupan yang tetap harus diurus, bukan meminta perempuan yang ditinggalkan menyediakan tempat bagi semuanya.
'Kamu pernah bilang akan membelikanku pendingin kamar,' ujar Sherly.
'Iya. Aku menjanjikannya tanpa benar-benar mengatur bagaimana.'
Ia menjelaskan keinginan tidak boleh terus ditutup dengan janji membeli sesuatu setelah toko diperoleh. Bangunan serta usaha tersebut tidak akan menjadi miliknya melalui kesepakatan yang sudah diubah. Mereka perlu memakai uang untuk kebutuhan yang dipilih bersama, bukan meneruskan harapan yang tidak lagi mempunyai dasar.
Sherly melihat kipas di dekat pintu. Setelah berbicara, mereka sepakat tidak membeli pendingin untuk kamar di rumah Dina. Pengaturan istirahat diperbaiki dengan barang yang sudah ada; Dina mengizinkan ruang tengah dipakai pada siang hari ketika kamar kecil terasa pengap. Itu tidak membuat ruangan berubah mewah, tetapi keputusan akhirnya dinyatakan tanpa kata besok yang terus dipindahkan.
Pembicaraan kemudian beralih kepada pekerjaan pengemasan. Sherly mengatakan upah pertama dua ratus lima puluh ribu telah diterima dan jadwal berikut disepakati. Sebagian disisihkan, tetapi ia belum mengirim pembayaran kepada Reno.
'Pokoknya masih empat juta,' katanya.
Ryan mengiyakan. Tuntutan tambahan tetap ditangani melalui Intan, sementara pengaduan yang sudah diterima masih menunggu tindak lanjut. Ia tidak meminta Sherly mencabutnya hanya karena kini suami datang membawa uang belanja.
Dina bertanya apakah ia akan dipanggil lagi untuk memberi keterangan. Sherly menjawab Intan akan menyampaikan kebutuhan yang benar-benar datang. Mertuanya hanya perlu menerangkan hal yang dilihat dan didengar pada pertemuan di rumah itu, bukan mempersiapkan cerita untuk membela keluarga.
Ryan menanyakan apakah istrinya masih bersedia ia mendampingi pemeriksaan berikut apabila jadwal kerja dapat diatur. Sherly mengatakan iya, lalu meminta ia mengabari kepastian sebelum hari keberangkatan.
'Jangan bilang akan datang, lalu aku menunggu sampai tidak jadi berangkat.'
'Aku akan pastikan lebih dahulu.'
Ia menyimpan jadwal pada teleponnya. Tidak ada janji bahwa semua kunjungan harus dihadirinya tanpa melihat keadaan kerja, tetapi tidak ada pula jawaban bahwa perempuan itu sebaiknya mengurus seluruhnya sendiri.
Menjelang pulang, Sherly menahannya dengan satu pertanyaan.
'Kamu masih menganggap aku istrimu?'
Ryan menatapnya. 'Kita sudah menikah. Aku tidak bisa berpura-pura itu tidak ada hanya karena sedang mengurus perceraian dengan Syifa.'
Sherly mengangguk pelan. Jawaban tersebut tidak sama dengan kehidupan nyaman yang dahulu dibayangkan, tetapi lebih jelas daripada menunggu toko menjadi milik suami sebelum diperhatikan.
Ryan berpamitan setelah memastikan barang yang dibawa memang diperlukan. Dina mengantarnya sampai pintu. Ia sempat membuka mulut mengenai toko, lalu berhenti dan hanya mengingatkan agar berhati-hati di perjalanan.
Di kamar sewaan malam itu, Ryan mencatat uang kebutuhan yang baru diserahkan pada pengeluaran pribadi. Sisa kewajiban kepada usaha tetap delapan juta, pembayaran berikut dua juta pada Jumat pekan depan. Ia juga menulis bahwa masih ada barang di rumah Syifa yang perlu diambil melalui waktu yang disepakati.
Ia belum menetapkan waktu dengan datang sendiri ke pintu. Pagi berikutnya ia akan menghubungi untuk menanyakan daftar serta kesempatan yang tersedia, lalu menyesuaikan dengan pekerjaan. Untuk Selasa malam itu, ia menutup buku setelah memastikan tanggung jawab kepada istri yang sedang hamil tidak kembali disembunyikan di belakang pertengkaran dengan istri yang ingin berpisah.