Dua hari sesudah sidang dengan pakaian akad, Ryan datang melihat kamar yang nomornya dicatat dari pengumuman dekat gudang. Pemilik menunjukkan tempat tidur, tempat menyimpan barang, serta bagian yang digunakan bersama penghuni lain. Ryan memeriksa pintu dan mencoba duduk tanpa langsung mengatakan semuanya cocok.
Ruangan itu cukup untuk dirinya dan barang yang diperlukan bekerja. Tidak ada rak besar untuk menyembunyikan tumpukan yang belum ingin dibereskan. Ia menanyakan jam keluar masuk dan cara menghubungi pemilik jika ada kebutuhan, lalu memastikan harga sewa yang disebut melalui telepon.
Tujuh ratus ribu rupiah untuk satu bulan. Bagian pengeluaran lain yang harus ditanggung diterangkan sebelum ia setuju. Ryan tidak menganggap angka tersebut seluruh biaya hidup, sebab makan dan perjalanan tetap memerlukan uang yang berbeda.
Ia menyepakati bulan pertama, membaca keterangan, kemudian membayar dari dana pribadi. Sebagian upah borongan satu juta yang telah diterima digunakan untuk kebutuhan tersebut. Bukti pembayaran disimpan, dan kunci kamar diberikan setelah penerimaan dipastikan.
Pekerjaan rutin di gudang kini mulai dijalaninya sesuai pembicaraan. Ia belum menerima gaji bulanan empat juta hanya karena sudah datang beberapa kali. Penghasilan itu akan mengikuti pekerjaan serta waktu pembayaran yang disepakati, sehingga jadwal restitusi tidak boleh ditulis seolah sudah dibayar oleh upah yang belum masuk.
Ia mencoba perjalanan dari kamar ke gudang melalui jalan yang ditunjukkan pemilik. Jaraknya memang dapat ditempuh sekitar lima belas menit pada keadaan biasa. Di tempat kerja ia menyerahkan alamat yang dapat dihubungi dan menerima pembagian tugas untuk esok. Tidak ada jadwal yang harus disusun dengan menunggu telepon dari Syifa atau pegawai toko lamanya.
Sebelum kembali mengambil barang, ia menelepon Syifa. Ia menyebut tempat tinggal telah diperiksa dan akan membawa keperluan utama sore itu. Perempuan tersebut mengatakan akan berada di rumah setelah urusan toko diserahkan kepada Hadi.
Ryan juga mengabari Dina. Ibunya terkejut karena mengira ia akhirnya akan kembali ke rumahnya bersama Sherly. Ia bertanya mengapa harus mengeluarkan uang ketika masih ada keluarga di kampung.
'Tempat kerja lebih dekat dari sini, Mah. Aku juga perlu mengatur keperluanku sendiri.'
'Sherly bagaimana?'
'Aku akan bicara dengannya. Dia tetap istriku. Pindah kamar tidak menghapus itu.'
Dina belum senang, tetapi tidak dapat mengatakan anaknya harus tinggal di rumah Syifa agar biaya sewa tidak perlu dibayar. Rumah tersebut memang bukan milik keluarga Ryan yang dapat dipakai selama mereka menghendaki.
Sore hari Syifa membuka pintu ketika ia datang. Mereka tidak memulai dengan pembahasan foto yang sudah dikoreksi. Ryan langsung mengambil tas dan masuk ke kamar sebelah yang selama ini dipakainya.
Ia mengeluarkan pakaian kerja, perlengkapan mandi, serta beberapa dokumen pribadi. Syifa menunggu di ruang depan sampai ia menanyakan apakah sebuah map pada lemari termasuk barang yang harus ditinggalkan. Perempuan itu memeriksanya bersama, menemukan salinan pesanan lama di antara kertas pribadi.
'Yang ini tetap arsip toko,' katanya.
Ryan mengangguk dan menyerahkannya. Ia tidak memasukkan surat usaha ke dalam tas hanya karena dahulu sering membawanya pulang untuk bekerja. Setelah itu ia menunjukkan barang yang memang hendak diambil agar tidak kelak dicari di rumah ketika sudah pindah.
Masih ada beberapa buku dan benda lain yang belum dibereskan. Ryan mengatakan akan membuat daftar serta mengatur waktu mengambilnya, bukan datang saat Syifa tidak berada di rumah. Perempuan itu setuju dan meminta jangan dibiarkan menunggu tanpa kepastian.
Ia menaruh kunci rumah yang dibawanya pada meja. Syifa mengambil setelah menanyakan apakah ada salinan lain pada barang pribadinya. Ryan memastikan yang dipakainya sudah diserahkan, berbeda dari kunci toko yang telah dicatat ketika serah terima pekerjaan selesai.
'Kalau perlu ambil barang lagi, hubungi dulu,' kata Syifa.
'Iya. Aku tidak akan masuk sendiri.'
Mereka berdiri sebentar pada ruang yang sama. Ryan pernah membayangkan meninggalkan rumah setelah menerima toko, membawa sesuatu yang dapat dipamerkan sebagai keuntungan. Kini dua tas lebih banyak berisi keperluan yang harus dipakainya untuk bangun dan bekerja esok.
Ia bertanya apakah Syifa merasa lega.
'Aku ingin rumah ini kembali tenang,' jawabnya. 'Bukan berarti semua yang terjadi mudah kulupakan.'
Ryan menatap pintu kamar utama. Ia tidak masuk untuk melihat tempat tidur atau meminta satu kesempatan terakhir duduk bersama. Ia mengangkat tas, berpamitan, lalu berjalan ke luar.
Syifa menunggu sampai barang terakhir yang dibawa hari itu sudah diangkat. Setelah itu ia menutup pintu dan menaruh kunci pada tempatnya sendiri. Ia mendengar langkahnya sendiri di ruang yang sudah lama ditempatinya. Wardi serta Salimah pernah meninggalkan rumah itu kepadanya, dan kini ia harus menjaga kehidupannya di dalam dengan keputusan sendiri.
Di kamar sewaan, Ryan meletakkan pakaian pada rak dan menata dokumen pada bagian yang tidak mudah tersenggol. Ia menemukan satu barang mandi tertinggal, menuliskannya pada daftar pengambilan berikut alih-alih langsung kembali mengetuk pintu Syifa.
Sherly menelepon ketika ia baru selesai merapikan.
'Kamu benar-benar pindah hari ini?'
'Iya. Aku sudah sampai.'
'Aku boleh ikut?'
Ryan duduk pada tepi tempat tidur. Ia menjelaskan kamar itu disewa untuk kebutuhan kerja sementara dan belum dibicarakan sebagai tempat tinggal bersama. Ia tidak mau mengundang istri lalu membiarkan kebutuhan sehari-harinya tidak teratur hanya untuk mengakhiri percakapan sulit.
Sherly terdiam, kemudian menanyakan kapan mereka dapat membahasnya. Ryan menyebut waktu untuk bertemu di rumah Dina dan melihat kebutuhan yang benar-benar ada. Ia tidak menjanjikan toko atau rumah Syifa sebagai sesuatu yang kelak dapat dipakai mereka.
Percakapan berakhir tanpa Sherly merasa seluruhnya puas. Ryan menyimpan telepon dan memeriksa jadwal kerja esok. Ada waktu yang harus ditempuh dari kamar ke gudang, ada biaya makan yang harus dibayar, dan ada uang yang telah dijanjikan masuk ke rekening usaha pada Jumat berikut.
Ia menyiapkan pakaian kerja sendiri sebelum mematikan lampu. Untuk malam itu, tempat tinggalnya telah dibayar dan barang utama sudah dibawa. Hal yang tersisa akan diurus melalui waktu yang disepakati. Ia akan menelepon sebelum datang, sebagaimana yang baru dijanjikannya kepada Syifa.