Foto itu sampai ke Syifa melalui Hadi pada pagi sesudah sidang. Seorang pelanggan meneruskannya sambil menanyakan apakah benar pemilik toko menikah kembali dengan suami yang sama. Pada gambar, pakaian akad terlihat jelas, sedangkan berkas di tangan Syifa hampir tidak tampak.
Hadi tidak menjawab dengan dugaan. Ia meminta izin memperlihatkan pesan tersebut kepada pemilik, lalu menunggu Syifa selesai membaca sebelum kembali melayani orang yang datang.
Syifa memperbesar gambar sekali. Ia mengenali halaman tempat keduanya berdiri dan arah telepon yang diangkat kerabat Dina. Di bawah foto ada kalimat pendek yang membuat orang yang tidak mengetahui perjanjian dapat menyusun cerita sendiri.
Ia meletakkan telepon di meja, mengambil napas, kemudian meminta Hadi memberi jawaban seperlunya: proses belum selesai, tidak ada akad baru, dan pesanan toko tetap berjalan. Ia tidak meminta pegawai menjelaskan isi perjanjian kepada setiap pelanggan yang ingin tahu.
Sesudah itu ia menelepon Ryan.
'Foto kemarin sudah sampai ke pelanggan,' katanya.
Ryan terdiam. Ia meminta dikirim bagian yang diterima supaya tidak menanyakan kepada ibunya dengan keterangan berbeda. Syifa meneruskan pesan tersebut, lalu menyampaikan bahwa dirinya sudah meminta gambar tidak disebarkan ketika masih berada di halaman.
'Aku akan tanya asalnya,' jawab Ryan.
'Aku juga akan bicara dengan orang yang mengambil. Jangan bilang aku setuju difoto karena memakai baju itu.'
Ryan mengiyakan. Syifa menutup panggilan sebelum marah membuatnya mulai menghitung semua hal yang pernah dilakukan keluarga suaminya. Ada tindakan tertentu yang perlu dihentikan sekarang, bukan seluruh pertengkaran yang harus dibuka kembali.
Ia menghubungi kerabat Dina. Perempuan itu mengatakan gambar hanya dikirim kepada keluarga, tidak kepada pelanggan. Ia mengaku tidak mengetahui siapa yang kemudian meneruskan sampai keluar dari kelompok tersebut.
'Saya tidak meminta foto itu dibagikan kepada keluarga juga,' kata Syifa.
'Kami cuma heran melihat pakaian kalian.'
'Saya sudah mengatakan jangan disebarkan.'
Perempuan tersebut tidak langsung meminta maaf. Ia menjelaskan bahwa orang dapat mengira Ryan sedang dipermalukan, sehingga keluarga perlu mengetahui keadaan. Syifa menahan keinginan menyuruhnya mengirim seluruh bukti perselingkuhan sebagai penyeimbang.
Ia meminta gambar yang masih dapat ditarik kembali dihapus dari percakapan yang dibuat pengirim. Orang yang menerima juga perlu diminta tidak meneruskan. Ia memahami tidak semua salinan dapat dipastikan hilang, tetapi bukan berarti sumber awal tidak perlu melakukan apa pun.
'Apa saya harus menjelaskan seluruh urusan kalian?' tanya perempuan itu.
'Tidak. Cukup katakan gambar dibagikan tanpa persetujuan dan tidak ada akad ulang.'
Syifa menunggu sampai permintaan tersebut diulangi dengan benar. Setelah panggilan berakhir, ia duduk beberapa saat tanpa membuka pesan lain. Baju yang sudah dilipat malam sebelumnya kini terasa seperti masih berada pada tubuhnya, membuat orang menatap dari tempat yang tidak dapat dilihatnya.
Bu Murni datang membawa keterangan yang sama. Ia menerima gambar dari seorang kenalan yang menanyakan apakah dirinya hadir pada acara. Perempuan itu belum menjawab panjang dan ingin memastikan Syifa sudah mengetahui.
'Saya sudah menghubungi yang mengambil, Bu.'
'Kamu mau Ibu bantu menjawab yang menanyakan?'
'Kalau memang ditanya Ibu, bilang tidak ada acara akad. Tidak perlu menjelaskan yang lain.'
Bu Murni mengangguk. Ia duduk ketika dipersilakan, menunggu Syifa menuangkan air untuk keduanya. Kali ini perempuan tersebut tidak membawakan makanan atau menawarkan pekerjaan. Ia hanya berada di sana ketika Syifa perlu berhenti menerima pertanyaan.
'Saya yang dulu ingin dia memakai baju itu,' kata Syifa, suaranya lebih rendah.
'Kamu meminta dia menjalankan sesuatu yang disepakati. Kamu tidak meminta fotonya dibawa ke mana-mana.'
Syifa memandang tetangganya. Ia masih perlu memikirkan caranya membalas yang membuat mereka sampai pada hari itu. Namun bagian tersebut berbeda dari persetujuan membiarkan orang mengatur gambar pribadinya.
Di rumah Dina, Ryan memperlihatkan pesan yang diteruskan pelanggan. Ibunya mengatakan dirinya menerima foto dari kerabat, lalu mengirimkannya kepada beberapa anggota keluarga yang menanyakan sidang.
'Kenapa tidak tanya dulu?' ujar Ryan.
'Mama pikir mereka perlu tahu.'
'Tahu apa, Mah? Keterangannya membuat orang mengira kami menikah lagi.'
Dina menatap gambar. Ia mengatakan bukan itu maksudnya. Ryan meminta ibunya meneruskan koreksi kepada orang yang telah menerima, tanpa menambahkan cerita bahwa Syifa memaksanya hadir dengan pakaian tersebut.
'Kamu memang mengikuti syaratnya,' kata Dina.
'Aku menandatangani dan menyetujuinya. Aku yang harus menjelaskan keputusan itu, bukan membuat seolah aku tidak memilih.'
Dina tidak menyukai nada putranya, tetapi akhirnya membuka percakapan keluarga. Ia menulis bahwa tidak ada akad ulang dan proses perkara masih berjalan. Ia juga meminta gambar tidak diteruskan lagi.
Ryan menghubungi kerabat yang mengambil foto untuk menyampaikan permintaan serupa. Ia tidak mengirim dokumen pengadilan sebagai bahan baru yang dapat beredar. Untuk yang perlu dijelaskan kepada keluarga, ia memberi keterangan singkat dengan tanggung jawabnya sendiri.
Sore hari, ia mengabari Syifa mengenai tindakan tersebut. Ada pesan yang sudah dihapus dan koreksi yang dikirim. Ia tidak menjanjikan setiap salinan telah lenyap atau semua orang kini memahami.
Syifa mengucapkan terima kasih atas langkah yang benar-benar dilakukan. Ia tidak mengatakan kejadian itu telah menjadi sesuatu yang kecil. Namun ia tidak perlu menambahkan pertengkaran baru jika yang dimintanya sedang dikerjakan.
Di rumah, ia membuka lemari dan memeriksa pakaian akad yang telah disimpan. Kantongnya ditutup kembali, lalu diletakkan pada rak yang semula. Di sebelahnya ada album lama yang jarang dibuka. Syifa menariknya sebentar dan melihat Wardi serta Salimah pada salah satu halaman. Keduanya masih hadir ketika ia menikah dahulu. Ia menyentuh pinggir gambar, lalu menutup album dengan hati-hati. Ada kenangan yang tetap ingin disimpannya tanpa harus dibawa ke hadapan orang yang sedang menilai kehidupannya. Album itu dikembalikan pada tempat yang mudah dijangkaunya sendiri.
Telepon berbunyi membawa kabar pelanggan bahwa penjelasan toko sudah diterima. Syifa membaca, menjawab seperlunya, kemudian menaruh layar menghadap meja. Untuk sisa petang itu, ia memilih menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa memeriksa siapa lagi yang mungkin mempunyai pendapat tentang gambar yang tidak pernah dimintanya dibagikan.