Bu Murni datang ketika Syifa baru selesai menyiapkan berkas. Pakaian akad dibentangkan pada tempat tidur, jauh dari gelas dan barang yang dapat meninggalkan bekas. Perempuan yang lebih tua itu menunggu Syifa berganti, lalu membantu menutup pengait yang telah diperbaiki.
'Nyaman kalau duduk?' tanyanya.
Syifa mencoba dan mengangguk. Ia mengambil napas sebelum berdiri lagi. Baju tersebut tidak membawa kembali suara Wardi atau tangan Salimah yang dahulu sibuk memastikan semuanya siap. Yang hadir di kamar sekarang adalah tetangga yang pernah meminjam uang untuk anak sakit, lalu datang lagi karena ia meminta ditemani.
Bu Murni membetulkan bagian yang terlipat. Ia tidak memuji seolah Syifa sedang bersiap menjalani akad baru. Ketika perempuan itu terdiam memandangi cermin, ia hanya menanyakan apakah masih ada yang perlu diambil.
'Mapnya di meja. Tolong lihat apakah botol minum sudah masuk, Bu.'
Keduanya memeriksa sekali sebelum berangkat. Ryan telah pergi lebih dahulu dengan pakaian akadnya sendiri. Tidak ada rencana membuat perjalanan bersama atau meminta orang berbaris melihat keduanya meninggalkan rumah.
Lestari menunggu pada tempat yang telah disepakati. Ia menyapa Syifa, memeriksa kesiapan yang diperlukan, kemudian mendampingi sesuai peran yang telah dibicarakan. Bu Murni mengikuti sampai bagian tempat menunggu yang dapat ditempatinya.
Ryan berdiri ketika melihat Syifa tiba. Untuk beberapa saat ia hanya memandang kain dan bentuk pakaian yang begitu dikenalnya. Dahulu ia melihatnya sambil menunggu kalimat yang akan membuat mereka menjadi suami istri. Kini ia melihat map perkara pada tangan yang sama.
'Kamu masih kelihatan seperti waktu itu,' katanya pelan.
Syifa menatapnya. 'Banyak yang sudah berbeda, Mas.'
Ryan tidak membantah. Ia menggeser langkah agar orang lain dapat lewat, lalu menunjuk tempat yang masih tersedia untuk menunggu. Mereka duduk tidak terlalu berdekatan, menyimpan barang masing-masing.
Dina datang menjelang giliran mereka, bersama kerabat yang pernah mendatangi rumah. Ia telah diberi tahu mengenai pakaian tersebut, tetapi melihat langsung tetap membuatnya mengernyit. Ia mengatakan orang dapat salah mengira jika melihat mereka dari jauh.
Syifa menjawab bahwa ia tidak meminta kedatangan tersebut dijadikan tontonan. Ryan menambahkan keduanya memang menyetujui bagian perjanjian itu. Mereka akan mengikuti proses sebagaimana yang diarahkan, bukan meminta acara tersendiri.
Kerabat Dina mengangkat telepon di halaman ketika Ryan dan Syifa berdiri untuk berpindah tempat. Syifa melihat gerakannya, tetapi panggilan yang ditunggu sudah terdengar. Ia meminta agar gambar pribadi tidak disebarkan, lalu meneruskan langkah setelah Lestari mendekat.
Di dalam, perhatian harus kembali kepada perkara. Pakaian yang dipilih tidak mengubah pertanyaan yang perlu dijawab. Keduanya menyampaikan keterangan ketika diminta dan mendengarkan bagian yang sedang diperiksa.
Ryan masih menyatakan keinginan mempertahankan perkawinan. Namun ia tidak menyangkal perselingkuhan atau pernikahan kedua yang telah diakuinya. Ia juga tidak mengatakan Syifa sudah berjanji rujuk melalui perjalanan ke vila.
Ketika kesempatan menjawab diberikan, perempuan itu menyatakan keputusan tetap sama. Suaranya sempat tersendat ketika ia menyebut bagaimana kepercayaan dipakai untuk menyembunyikan hubungan setahun. Ia berhenti sebentar, meneguk air ketika diperbolehkan, lalu meneruskan keterangan.
Lestari membantu memastikan dokumen yang memang diperlukan dapat diperiksa melalui cara yang sesuai. Perubahan mengenai tawaran toko disampaikan sebagai sesuatu yang telah dibicarakan dan ditandatangani, sedangkan kewajiban pengembalian uang mempunyai dasar tersendiri.
Masih ada keterangan terkait hasil upaya perdamaian dan salinan lengkap perubahan kesepakatan yang perlu ditunjukkan pada agenda berikut. Syifa mencatat permintaan tersebut. Ia tidak menyebutnya penyerahan bangunan yang belum pernah terjadi, atau mengubah jadwal pembayaran menjadi uang yang sudah diterima.
Putusan tidak dibacakan hari itu.
Sesudah keluar, Ryan berhenti di dekat pintu. Ia melihat pakaian Syifa, lalu menunduk kepada miliknya sendiri. Ada ingatan yang tidak lagi dapat dipanggil hanya karena bentuk kainnya sama.
'Aku dulu janji akan menjagamu,' katanya.
Syifa mendengar tanpa segera menjawab. Ia tidak ingin mengubah kalimat tersebut menjadi percakapan yang disaksikan setiap orang lewat.
'Aku ingat,' jawabnya.
'Baju ini membuat aku ingat juga.'
Ia mengangguk. Untuk itulah dahulu bagian tersebut ditulis dengan marah. Namun setelah melihat Ryan berdiri di sana, ia tidak memperoleh kegembiraan yang pernah dibayangkan. Ia lebih ingin hari itu berakhir tanpa dirinya kembali mengucapkan sesuatu hanya untuk menambah luka.
Bu Murni mendekat membawa tas. Ia menanyakan apakah Syifa ingin duduk sebentar sebelum pulang. Perempuan itu mengiyakan. Ryan tidak meminta ia meninggalkan pendampingnya agar keduanya dapat berbicara berdua lebih lama.
Dina menanyakan apakah proses sudah selesai. Putranya menjawab belum, lalu menerangkan keterangan apa yang masih perlu dibawa pada jadwal berikut. Ibunya tidak memperoleh kabar bahwa pakaian akad berarti mereka menikah kembali atau langsung menerima putusan cerai.
Syifa melihat kerabat Dina masih memegang telepon. Ia mengulangi permintaan agar foto tidak disebarkan. Perempuan itu mengangguk sambil menurunkan layar, tanpa memperlihatkan apakah gambar sudah dikirim.
Di perjalanan pulang, Bu Murni tidak meminta rincian setiap jawaban. Ia membuka botol minum ketika Syifa kesulitan memegang tas dan mengambilnya sekaligus. Sesampainya di rumah, ia membantu melepaskan pengait supaya pakaian tidak ditarik dengan tergesa.
Syifa mengganti baju, kemudian membentangkan pakaian lama agar tidak langsung dilipat dalam keadaan lembap. Ia telah datang sebagaimana yang disepakati. Bagian kehadiran dengan pakaian akad telah benar-benar dijalankan, sementara batas yang masih berlaku serta proses perkara tetap harus diteruskan.
Pesan Hadi masuk membawa foto perkembangan dua lemari pesanan pelanggan. Syifa memeriksa nomor pada keterangannya sebelum meneruskan sesuai janji. Ia menambahkan waktu pengiriman yang telah disepakati dan meminta pelanggan mengabari jika ada perubahan penerima. Balasan singkat datang bahwa foto sudah dilihat. Pekerjaan dapat diteruskan tanpa menunggu Ryan kembali memberi jawaban atas nama pemilik.
Sebelum Bu Murni pamit, Syifa mengucapkan terima kasih. Ia lalu duduk di ruang depan dengan pakaian rumah dan membuka catatan dari Lestari. Tidak ada pesta atau ucapan selamat menunggu. Ada permintaan dokumen yang harus dipenuhi, dan ia akan mengerjakannya setelah memberi dirinya waktu untuk beristirahat.