Athar tidak langsung menuju rumah Bagas ketika kembali ke daerah itu pada akhir pekan. Ada tugas Pramudya Grup yang harus diperiksanya pada pemasok perlengkapan kerja, sehingga perjalanan telah diatur bersama kantor. Ia datang pada waktu yang dijanjikan, membawa daftar kebutuhan serta nomor orang yang seharusnya menerima pengiriman berikutnya.
Di tempat pemasok, ia mendapati jadwal keberangkatan sudah dibuat tanpa memastikan siapa yang akan membuka lokasi tujuan. Orang yang biasa menerima ternyata mempunyai kegiatan lain pada jam yang sama. Jika kendaraan tetap berangkat, sopir akan tiba di tempat yang belum siap.
Athar menanyakan pilihan yang benar-benar tersedia. Pekerja di lokasi menjelaskan urutan pemeriksaan barang. Athar menandai bagian yang perlu ditanyakan kepada petugas teknis, kemudian kembali memastikan jam kedatangan orang yang akan menerima. Pekerjaannya memastikan kebutuhan, orang, serta waktu pengiriman tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ia menghubungi petugas penerima dan meminta jawaban sebelum kendaraan dimuat. Setelah beberapa percakapan, jadwal dapat dipindahkan pada waktu yang memungkinkan kedua pihak hadir. Bagian yang belum disetujui disampaikan kepada Satria, bukan diputus dengan menyebut nama perusahaan sebagai alasan semua orang harus menurut.
Pekerjaan itu memakan waktu lebih lama daripada perkiraannya. Menjelang makan siang, Athar mengabari Bagas bahwa dirinya masih harus menyelesaikan beberapa panggilan. Ayahnya menyuruh ia makan dahulu dan tidak menunggu sampai tiba di rumah.
Athar memilih warung Bu Masnah yang dikenalnya. Ia memesan makanan, menaruh tas jauh dari mangkuk berkuah, lalu mengirim pesan kepada Syifa bahwa berada di daerah itu untuk pekerjaan. Ia tidak meminta sahabatnya datang seolah seluruh jadwalnya dapat ditinggalkan.
Syifa membaca pesan setelah Bu Murni pulang dari toko. Tetangganya baru saja menyerahkan sisa seratus ribu dari pinjaman lama, setelah bagian upah suaminya yang tertunda dibayarkan. Dua ratus ribu yang dahulu dipinjam kini sudah kembali seluruhnya. Syifa mencatat penerimaan pribadi tersebut, berterima kasih, lalu mengembalikan buku ke tas.
Ia memang belum makan. Setelah memastikan Hadi dapat melanjutkan pekerjaan yang sudah dibagi, ia membalas akan singgah sebentar di warung.
Athar masih menunggu sambungan kerja ketika ia datang. Ia mengangkat tangan menyapa, kemudian meminta beberapa menit untuk menyelesaikan panggilan. Syifa duduk pada kursi yang ditunjukkan Bu Masnah dan memesan makanan sendiri.
Satria menanyakan jadwal yang sudah diperiksa. Athar menjelaskan perubahan penerimaan dan bagian yang belum boleh dikirim. Ia tidak mengatakan semuanya beres demi membuat percakapan cepat selesai. Ada satu pilihan waktu yang memerlukan persetujuan kantor, dan ia meminta keputusan atas bagian itu.
Syifa mendengar nama Satria ketika Athar menjawab. Ia mengenali nama atasan yang pernah menyetujui cuti, tetapi baru kali ini melihat sahabatnya harus menerangkan pekerjaan tanpa hubungan dengan masalah rumah tangganya.
Setelah panggilan berakhir, Athar mencatat jawaban dan meneruskannya kepada pihak yang berkaitan. Makanan sudah datang. Ia mencoba membagi perhatian antara piring dan telepon, sampai Bu Masnah mengingatkan bahwa kuahnya akan dingin jika hanya dipandangi.
Syifa tersenyum. 'Sekarang aku tahu kamu juga suka bilang sebentar lalu lupa makan.'
'Kalau salah jadwal, orang di dua tempat bisa sama-sama menunggu.'
'Kamu mengurus itu semua?'
'Bagian koordinasinya. Yang memeriksa barang dan yang mengerjakan urusan teknis punya tugas sendiri.'
Petugas penerima membalas sebelum mereka selesai makan. Waktu Senin pagi dapat dipakai dan orang yang membuka lokasi sudah ditentukan. Athar meneruskan konfirmasi kepada pemasok, meminta jadwal keberangkatan disesuaikan, lalu memeriksa bahwa sopir menerima perubahan yang sama. Satu pesan lama yang masih menyebut jam sebelumnya ditandai agar tidak dipakai lagi. Ia dapat menutup percakapan setelah pihak yang bekerja pada kedua ujung perjalanan benar-benar mengonfirmasi.
Athar menyimpan telepon setelah pesan terakhir terkirim. Ia bertanya mengenai pekerjaan toko, dan Syifa menceritakan pelanggan yang khawatir pesanannya terganggu oleh kabar keluarga. Ia tidak membuka rincian audit di tengah warung.
Athar mendengarkan, lalu mengatakan orang kantor juga dapat salah jika hanya mendengar siapa yang paling yakin berbicara. Syifa tertawa ketika ia menceritakan bagaimana hampir memberi sopir jadwal yang ternyata tidak dapat diterima.
Percakapan mereka tidak selalu menempatkan Athar sebagai orang yang mengetahui jawaban. Syifa dapat bertanya, mengomentari cara ia lupa minum, lalu mendengar hal biasa mengenai perjalanan dan pekerjaan yang menumpuk setelah kembali.
Ryan melewati warung ketika hendak mengambil barang yang diperlukan untuk peralihan tugasnya. Ia melihat keduanya dari jalan, memperlambat langkah, lalu berhenti sebelum benar-benar mendekat.
Ada dorongan untuk menanyakan mengapa Syifa dapat makan bersama Athar sementara dirinya harus menjelaskan setiap kunjungan kepada Sherly. Namun ia mengetahui perbedaan yang selama ini sengaja diabaikan: sahabat perempuan itu tidak dibawa pulang sebagai pasangan lain setelah hubungan disembunyikan setahun.
Ia juga sudah menerima perubahan mengenai pertemuan yang diperlukan. Menyatakan dirinya tidak boleh melakukan apa-apa lagi bukan keterangan yang benar.
Ryan meneruskan perjalanan. Syifa sempat melihatnya, lalu kembali kepada makanan. Ia tidak mengirim penjelasan panjang untuk sebuah pertemuan di warung yang tidak sedang disembunyikan.
Sesudah makan, Athar memisahkan biaya makan dari bukti pengeluaran kerja. Syifa membayar pesanannya sendiri. Bu Masnah mengambil piring dan mengingatkan keduanya jangan membuat meja dipenuhi kertas ketika orang lain mulai datang.
Athar memasukkan barang ke tas. Ia akan menuju rumah Bagas sebelum menyiapkan catatan tugas yang dilanjutkan Senin. Syifa harus pulang ke toko dan menyiapkan kabar perkembangan pesanan dua lemari.
Di depan warung mereka berdiri sebentar, menyebut beberapa hal yang belum sempat ditanyakan. Athar memastikan dirinya tidak menjanjikan datang ke toko jika pekerjaan masih memerlukan waktu. Syifa mengangguk, mengatakan ia tidak perlu hadir pada setiap kesulitan untuk dianggap sahabat yang peduli.
Athar tersenyum. 'Bagus. Karena hari ini mungkin aku masih ditanya mengapa lauk Ayah waktu pulang pekan lalu ikut kubawa.'
Syifa tertawa dan mengingat bungkusan yang dikembalikan setelah pertemuan di sungai. Mereka berpisah menuju pekerjaan masing-masing. Hari itu ia melihat Athar mempunyai tanggung jawab yang tidak berhenti ketika telepon darinya ditutup. Ia menyukai kenyataan tersebut, tanpa perlu mengubahnya menjadi keputusan baru tentang hubungan yang belum waktunya dibicarakan.