Perempuan yang pernah datang bersama Dina menunggu di sisi pintu toko. Kali ini ia datang sendiri, mengatakan hendak berbicara sebentar ketika Syifa tidak sibuk. Hadi menyampaikan permintaan tersebut tanpa meninggalkan meja penerimaan pelanggan.
Syifa keluar membawa telepon yang baru selesai dipakai. Ia menyapa, lalu meminta tamunya memilih tempat duduk di bagian depan. Perempuan itu justru menunjuk lorong di dekat gudang, berharap mereka dapat bicara tanpa terlalu terlihat orang.
'Ada yang ingin disampaikan?' tanya Syifa.
'Saya dengar Ryan sudah melepas yang tentang bangunan. Tapi kamu masih meminta dia mengganti uang.'
Syifa memandangnya. Tidak semua bagian yang diperiksa perlu diteruskan kepada orang yang tidak mempunyai tugas di dalamnya. Ia mengatakan persoalan tersebut sedang diselesaikan berdasarkan keterangan dan persetujuan yang sudah dibaca masing-masing.
'Kalau sudah tidak dapat toko, kasihan juga dia,' ujar tamunya.
'Itu dua hal yang berbeda.'
'Iya, tapi keluarga juga perlu tahu supaya tidak salah mengerti.'
Syifa menggeleng. Ia tidak akan membukakan seluruh transaksi pribadi serta usaha di lorong, hanya agar cerita yang mungkin beredar terdengar lebih lengkap. Jika Ryan ingin menjelaskan akibat tindakannya kepada kerabat, ia dapat melakukannya sendiri tanpa menyerahkan semua bukti yang berkaitan dengan orang lain.
Perempuan itu tampak tersinggung. Ia mengatakan dirinya hanya ingin membantu dan dahulu Ryan dikenal sebagai orang yang bekerja keras. Syifa tidak menyangkal semua pekerjaan yang benar-benar dilakukan suaminya. Itulah sebabnya upah yang sah tidak dipakai sebagai angka tambahan dalam kewajiban pengembalian.
Namun penjelasan tersebut dihentikannya sebelum berubah menjadi pembacaan ringkasan pemeriksaan. Ia meminta tamunya tidak menjanjikan jawaban atas namanya kepada Dina atau kerabat lain.
Ryan muncul dari arah belakang ketika pembicaraan belum selesai. Ia mendengar namanya, lalu menanyakan apa yang sedang dibahas. Perempuan itu mengulang bahwa keluarga merasa ia sekarang menanggung terlalu banyak.
Lelaki itu memandang Syifa. Untuk sesaat ia dapat membiarkan istrinya kembali menjelaskan dan tampak sebagai orang yang terus meminta. Tetapi halaman yang baru ditandatangani tidak berada dalam ingatan Syifa seorang.
'Ada uang yang kupakai bukan untuk usaha,' katanya. 'Itu sudah diperiksa. Aku sendiri yang menyetujui jadwal mengembalikannya.'
'Tapi kamu sudah lama mengurus tempat ini.'
'Pembayaran kerja yang memang hakku tidak dimasukkan ke hitungan itu.'
Perempuan tersebut tidak lagi mempunyai pertanyaan pendek yang dapat dipakai membuat keduanya tampak berlebihan. Ryan tidak memberikan salinan atau menyebut semua nama penerima pengeluaran, tetapi mengatakan ia tidak dipaksa mengaku atas sesuatu yang belum dilihat keterangannya.
Syifa berdiri lebih tenang. Ia tidak perlu mengubah pengakuan tersebut menjadi kesempatan menambahkan daftar kesalahan. Ketika kerabat itu pamit, ia mengantarnya sampai batas ruang pajang, lalu kembali karena Hadi memberi isyarat ada pelanggan yang menunggu.
Lelaki di dekat meja datang bersama istrinya. Mereka sudah memesan dua lemari ukuran khusus dan membayar uang muka. Kini keduanya ingin memastikan apakah pesanan akan tetap dikerjakan, sebab mendengar toko sedang diperebutkan dan mungkin berganti pemilik.
Syifa mempersilakan duduk. Ia meminta Hadi membuka pesanan sebelum menjawab dengan janji yang terlalu luas. Nomor, ukuran, serta waktu penyerahan dicocokkan dengan salinan yang dibawa pelanggan.
'Saya tidak mau nanti uang kami hilang karena urusan keluarga,' kata lelaki itu.
'Saya mengerti. Kepemilikan tidak berpindah melalui pembahasan yang kemarin. Pesanan Bapak tetap menjadi pekerjaan kami,' jawab Syifa.
'Barangnya sudah dibuat?'
Hadi mengajak keduanya melihat bagian pekerjaan yang aman untuk didatangi. Rangka lemari telah disiapkan sesuai ukuran, tetapi belum seluruh bagian selesai. Seorang pegawai menunjukkan mana yang sedang dikerjakan dan apa yang masih harus dipasang.
Syifa tidak mengatakan barang siap dikirim hari itu. Mereka masih mempunyai waktu sampai Jumat yang telah ditulis, pada akhir bulan kedua sejak Sherly datang. Ia meminta penanggung jawab pekerjaan menerangkan tahap berikut agar keterangan tidak hanya keluar dari mulut pemilik yang ingin menenangkan pelanggan.
Ryan mendekat setelah mengantar kerabatnya ke pintu. Ia mendengar pembicaraan mengenai kabar pergantian pemilik, lalu mengakui bahwa pernah membicarakan rencana yang saat itu belum disepakati.
'Sekarang saya tidak mengambil alih tempat ini,' katanya. 'Untuk kelanjutan pesanan, Ibu Syifa dan Pak Hadi tetap dapat dihubungi.'
Pelanggan menatapnya, kemudian melihat pekerjaan lagi. Kekhawatiran tidak langsung hilang, tetapi setidaknya ia tidak menerima dua jawaban berbeda dari orang yang sama-sama berada di toko.
Mereka meminta kabar perkembangan sebelum hari pengiriman. Syifa menyetujui satu waktu yang jelas untuk mengirim foto pekerjaan, dengan nomor pesanan dicantumkan agar barang tidak tertukar dengan pesanan lain.
Istri pelanggan menjelaskan bahwa Jumat sore mereka harus mengurus pemindahan barang dari rumah lama. Mereka membutuhkan lemari datang pagi, ketika ada orang yang dapat menerima dan memeriksa. Hadi melihat jadwal kendaraan sebelum Syifa menyetujui. Satu perjalanan lain dapat ditempatkan sesudahnya tanpa mengingkari janji, tetapi pengemudi perlu diberi tahu sejak sekarang. Mereka mencatat urutan tersebut dan memastikan nomor orang yang akan menerima. Pelanggan menyimpan nomor toko, bukan hanya nomor pribadi Ryan yang selama ini dihubungi.
Hadi menuliskan kesepakatan tambahan pada salinan. Uang muka yang sudah diterima tidak dipindahkan ke pesanan baru atau dihapus hanya karena pelanggan datang dalam keadaan kesal. Keduanya memeriksa catatan sebelum pulang.
Sesudah itu, Syifa kembali ke lorong tempat percakapan keluarga tadi berlangsung. Ada pegawai membawa papan yang perlu lewat. Ia menepi dan menyadari betapa mudah ruang kerja berubah menjadi tempat orang menuntut penjelasan pribadi, sementara pekerjaan orang lain harus menunggu.
Ryan berhenti di dekat meja.
'Aku akan menghubungi Mama supaya tidak membawa cerita setengah,' katanya.
'Bicarakan yang memang perlu. Jangan kirim dokumen usaha kepada semua orang.'
'Iya.'
Syifa menunggu sampai ia pergi, lalu menelepon pelanggan lain yang pesannya belum dijawab sejak pagi. Ia tidak dapat menghentikan seluruh kabar hanya dengan satu bantahan. Tetapi ia dapat memastikan orang yang telah mempercayakan uang kepada tokonya menerima pekerjaan dan keterangan yang sesuai, bukan ikut menanggung ketidakjelasan dalam perkawinannya.