Empat hari setelah berkeliling bersama Dina, Ryan duduk kembali di hadapan Syifa. Ia telah membaca salinan berkas dan berbicara dengan pendampingnya. Tidak ada daftar persediaan baru yang dibuka sebagai tuntutan pertama.
'Aku tidak akan meminta bangunannya diserahkan,' katanya.
Syifa menatapnya, menunggu sebelum menganggap kalimat tersebut telah mempunyai arti yang sama bagi keduanya.
'Bangunan dan usaha?' tanyanya.
'Yang berasal dari tawaran toko itu. Aku mau bagian itu diselesaikan tanpa perpindahan.'
Lestari meminta ia menerangkan alasannya sendiri. Pendamping Ryan berada di sampingnya dan tidak menjawab menggantikan. Mereka telah membicarakan pilihan tersebut lebih dahulu, tetapi keputusan tetap perlu dinyatakan orang yang menanggungnya.
Ryan mengatakan dirinya masih marah karena Syifa sengaja membiarkan arti yang berbeda. Ia tidak mengubah pengakuan perempuan itu menjadi sesuatu yang dianggap tidak pernah terjadi. Namun ia juga tahu harapannya sejak awal bukan sekadar memperoleh satu tempat kosong.
Ia menginginkan usaha yang telah mempunyai barang, pelanggan, orang yang bekerja, dan nama yang dibangun orang tua Syifa. Ia pernah menganggap semua itu pantas diperoleh karena dirinya sudah mengurus toko.
'Aku tidak bisa mengatakan semuanya milikku hanya karena aku yang sering berada di sana,' katanya.
Syifa menunduk pada salinan di meja. Ia mendengar sesuatu yang belum pernah diucapkan Ryan dengan cara itu. Kalimat tersebut tidak berarti uang yang masih diperiksa sudah kembali, atau cerita tentang perselingkuhan kini kehilangan akibat.
'Kamu sudah membicarakan ini dengan Mama?' tanyanya.
'Dia belum setuju. Tapi aku tidak mau menandatangani karena Mama menyuruh, atau tidak menandatangani karena Mama melarang.'
Lestari kemudian membuka rancangan perubahan yang sebelumnya disiapkan untuk diperiksa. Bagian mengenai tawaran toko dijelaskan dengan menyebut bangunan dan usaha tanpa menyatukan barang pelanggan ke dalamnya. Keduanya membaca apa yang dilepaskan dan apa yang tidak berubah.
Syifa meminta satu bagian diperjelas. Ia tidak ingin dokumen tersebut nanti dibaca seolah Ryan mengakui seluruh nilai yang sedang diaudit tanpa pernah melihat hasilnya. Pemeriksaan keuangan dan kewajiban yang terbukti harus tetap dibahas terpisah.
Pendamping Ryan mengiyakan perlunya kalimat itu. Mereka memperbaiki keterangan sebelum dicetak kembali, bukan mencoret asal lalu membiarkan orang lain menebak maksud di antara dua baris.
Ryan bertanya apakah perubahan tersebut berarti semua lima syarat juga berhenti. Syifa menjawab ia tidak sedang meminta perjalanan yang pernah terjadi dianggap tidak ada. Batas tempat tinggal dan pertemuan masih perlu dipahami sampai ada perubahan yang memang dibicarakan, sedangkan pakaian akad tetap akan dipersiapkan untuk agenda yang telah mereka rencanakan.
Ia juga menegaskan bahwa menjalankan syarat bukan janji rujuk. Ryan mendengar tanpa mengatakan dirinya baru mengetahui hari itu. Harapan tersebut memang miliknya, bukan kalimat yang pernah ditandatangani Syifa sebagai kewajiban.
Ketika halaman baru diberikan, mereka membaca lagi dari awal. Ada tempat yang memerlukan paraf, ada bagian yang harus dipastikan jumlah salinannya. Syifa menanyakan kapan masing-masing dapat menerima salinan lengkap dan bagaimana menyimpan keterangan yang perlu diteruskan dalam proses perkara.
Tidak ada orang yang menyuruh mereka cepat agar meja dapat segera kosong. Ryan meminta beberapa menit untuk berbicara dengan pendampingnya di luar. Syifa menunggu bersama Lestari, merapikan buku yang sebenarnya tidak perlu dirapikan.
'Kalau dia berubah pikiran?' tanyanya pelan.
'Kita belum menandatangani. Jangan menganggap keputusan sudah ada sebelum dia menyatakannya kembali.'
Syifa mengangguk. Ia tidak ingin mengisi jeda dengan keyakinan bahwa kali ini dirinya pasti akan mendapatkan jawaban yang disukai. Di ruangan tersebut Ryan masih mempunyai hak untuk membaca dan bertanya sebagaimana ia sendiri.
Lelaki itu kembali setelah beberapa saat. Ia duduk, mengatakan pilihan tetap sama, lalu mengambil pena. Tanda tangan diberikan sesudah keterangan terakhir diperiksa. Syifa menandatangani bagiannya dan menyaksikan salinan disusun sebagaimana yang telah dijelaskan.
Tawaran toko kini diubah melalui persetujuan yang benar-benar dinyatakan kedua pihak. Tidak ada kunci bangunan yang berpindah ke Ryan. Tidak ada perintah mengeluarkan barang malam itu, dan pelanggan tidak perlu menunggu usaha dipindahkan mendadak hanya untuk membayar rencana yang dibuat saat marah.
Syifa mengusap tepi halaman. Ia merasa lega, tetapi tidak menyukai bagian dirinya yang hampir ingin segera menunjukkan dokumen itu kepada Dina sebagai bukti bahwa mereka tidak memperoleh apa yang diinginkan.
Ia memasukkannya ke map tanpa mengambil foto untuk disebarkan.
Sesudah urusan dokumen, pembicaraan beralih kepada pekerjaan harian. Ryan mengatakan tidak ingin terus mengelola dengan kedudukan yang kini selalu dipertengkarkan. Syifa juga memerlukan pembagian tugas yang dapat dijalankan tanpa bergantung kepada keadaan perkawinan mereka.
Keduanya menyepakati dua pekan untuk merapikan peralihan pekerjaan yang masih dipegang Ryan. Hadi akan membantu penelusuran pesanan dan berkas, sementara keputusan pemilik tetap berada pada Syifa. Urusan pembayaran kerja yang sah akan dicocokkan, bukan dihapus sebagai hukuman atau otomatis dicampurkan dengan pengeluaran pribadi yang dipersoalkan.
Ryan menyebut beberapa pelanggan yang perlu diberi tahu siapa yang dapat dihubungi berikutnya. Syifa mencatatnya. Ia tidak meminta lelaki itu menghilang dari gudang begitu tanda tangan selesai, sebab ada tanggung jawab yang memang belum dipindahkan.
Di luar ruangan, Ryan berdiri dekat kendaraannya. Ia menanyakan apakah Syifa kini merasa rencananya berhasil.
Perempuan itu memikirkan jawaban sebelum berbicara.
'Aku menjaga toko tetap berjalan. Tapi cara awal yang kupilih membuat banyak hal hampir rusak.'
'Aku masih marah.'
'Aku tahu.'
Ryan mengatakan dirinya tetap akan mencari cara menyelesaikan uang yang nanti terbukti harus dikembalikan. Ia belum mengucapkan jumlah yang tidak ada pada dokumen hari itu. Syifa mengangguk dan meminta ia menyiapkan bukti yang masih diminta pemeriksa.
Mereka berpisah setelah memastikan waktu untuk melanjutkan berkas. Syifa kembali ke toko dan meletakkan salinan pada tempat aman, kemudian mendatangi Hadi untuk membicarakan dua pekan pekerjaan berikut.
Di ruang depan ada pelanggan menunggu contoh meja. Syifa menyapa, mengambil katalog yang diperlukan, lalu duduk mendengar ukuran yang disebut. Toko masih berada pada tempat yang sama. Kali ini, untuk mempertahankannya, ia tidak perlu membiarkan seseorang berjalan dengan arti yang sengaja disembunyikan.