Dina meminta melihat toko pada pagi yang lebih sepi. Ryan menyampaikan permintaan tersebut kepada Syifa, lalu menunggu jawabannya sebelum mengajak ibunya masuk. Penjaga tetap berada di tempat. Izin kunjungan hari itu tidak mengubah tugasnya untuk mencegah orang mengambil barang tanpa persetujuan pemilik.
Syifa memperbolehkan keduanya melihat bagian yang hendak dibahas, dengan Hadi mendampingi agar pekerjaan tidak terganggu. Ia tidak meninggalkan seluruh kunci pada Ryan atau meminta pegawai menganggap Dina pemilik baru.
Dina berjalan melewati ruang pajang. Pandangannya berhenti pada beberapa lemari yang tampak baru, lalu pada meja yang sudah diberi tanda pesanan.
'Kalau barang ini tidak ikut, orang beli apa?' tanyanya.
'Harus ada barang yang dibeli untuk usaha berikutnya,' jawab Ryan.
'Berarti kamu membeli semuanya lagi?'
'Kalau memang mau meneruskan di sini, iya. Atau memilih cara lain.'
Hadi tidak menyela pembicaraan keluarga itu. Ia hanya menunjukkan bahwa beberapa barang sudah mempunyai pemesan sehingga tidak dapat dipakai untuk menghitung modal yang akan diberikan. Dina mendengar, lalu meminta Ryan berhenti di dekat meja belakang.
Ibunya semula membayangkan kunci berpindah dan orang-orang tetap bekerja sebagaimana biasa. Kini ia melihat meja yang kosong dari persediaan tidak akan menghasilkan uang hanya karena gedungnya tetap berdiri.
Namun bangunan itu sendiri juga tidak menjadi sesuatu yang tidak berharga. Dina mengatakan dapat disewakan apabila Ryan belum ingin mengisi barang. Ia tidak menganggap semua pilihan harus dibuang hanya karena Syifa akhirnya menjelaskan arti tawarannya.
Dina menanyakan nilai sewanya. Ryan tidak menjawab dengan angka yang dibuat di tempat. Ia belum memeriksa keadaan bangunan untuk tujuan itu, belum mengetahui siapa yang benar-benar berminat, dan tidak ingin menjanjikan pemasukan kepada ibunya hanya dari perkiraan saat berkeliling.
Ryan mengangguk. Ia sudah menanyakan kemungkinan tersebut kepada pendampingnya, bukan menerima begitu saja bahwa bangunan kosong berarti tidak ada yang dapat diperoleh. Yang belum selesai adalah apakah itu benar menjadi kesepakatan yang hendak dibuat keduanya.
Syifa mendekat ketika Hadi dipanggil pegawai. Ia membawa salinan daftar yang membedakan barang usaha dan pesanan. Dina bertanya apakah semua barang akan dibawa ke tempat lain jika bangunan diserahkan.
'Kami belum menyetujui penyerahan,' jawab Syifa. 'Kalau pilihan itu dibahas, akibatnya harus dihitung. Pegawai dan pesanan tidak bisa ditinggalkan begitu saja.'
'Mama cuma mau tahu apa yang akan diterima Ryan.'
'Itu yang sedang diperjelas.'
Dina menatapnya. Ia ingin menanyakan mengapa tidak sejak awal Syifa mengatakan semuanya dengan terus terang. Perempuan itu tidak mendahului membela diri. Ia sudah mengakui niat membalas, dan mengetahui pengakuan tersebut tidak menjadikan semua akibatnya berhenti.
'Saya tidak mau mengulang maksud yang disembunyikan,' kata Syifa. 'Karena itu kita lihat dengan jelas sekarang.'
Kunjungan berakhir ketika pelanggan datang. Syifa kembali menyapa orang tersebut. Ryan mengantar ibunya keluar melalui pintu yang sama, sementara penjaga mencatat waktu mereka meninggalkan area penyimpanan.
Di rumah Dina, pembicaraan dilanjutkan tanpa Syifa. Sherly berada di kamar dan tidak diminta duduk bersama Ryan. Putranya hanya berhenti di teras, sebagaimana sebelumnya, karena belum ada perubahan mengenai pertemuan dengan istri keduanya.
Dina menyuruhnya memikirkan keuntungan yang masih dapat didapat. Ia tidak ingin Ryan pulang dengan tangan kosong setelah semua pertengkaran. Ia juga tidak suka melihat Syifa sekarang berbicara seolah mengetahui setiap hal yang dahulu diurus putranya.
Ryan membuka salinan yang dibawanya. Ada catatan pemeriksaan uang yang belum selesai. Kewajiban terhadap pelanggan serta pemasok yang sah tetap pekerjaan usaha, bukan seluruhnya utang pribadi yang dapat dilemparkan kepadanya. Namun pengeluaran yang benar-benar dipakai untuk dirinya harus dapat dijelaskan.
'Kalau kamu dapat bangunannya, bukannya bisa dipakai membayar yang lain?' tanya Dina.
'Belum tentu begitu caranya, Mah. Yang itu perlu diperiksa sendiri.'
'Jangan sampai kamu mengembalikan uang terus tidak dapat apa-apa.'
Ryan menutup map. Ia teringat bagaimana dulu Wardi memintanya membantu mengelola. Pada waktu itu ia merasa dipercaya, lalu lama-kelamaan memperlakukan kepercayaan sebagai bukti bahwa dirinya berhak menentukan lebih banyak daripada yang pernah diberikan.
Ia tidak menceritakan renungan tersebut sebagai pidato kepada ibunya. Ia hanya menanyakan sesuatu yang membuat Dina berhenti merapikan ujung kain.
'Kalau aku tidak mengejar toko sejak awal, Mama masih menyuruhku menjalankan semua syarat?'
Dina tidak langsung menjawab.
'Itu kan jalan yang dia tawarkan.'
'Aku juga menginginkannya.'
'Terus sekarang mau apa?'
Ryan memandang jalan di depan rumah. Ia belum dapat menyebut keputusan tanpa merasa sedang kehilangan sesuatu yang sudah telanjur dibayangkan sebagai milik sendiri. Ia tahu melepaskan tuntutan bukan berarti perselingkuhannya akan dilupakan, atau utang yang terbukti nanti akan hilang.
Dari dalam terdengar Sherly meminta Dina mengambilkan sesuatu. Ryan menunggu ibunya kembali, tidak masuk untuk menyelesaikan pembicaraan sambil bertemu diam-diam. Ketika Dina duduk lagi, ia mengatakan akan menyampaikan pilihan sesudah berbicara dengan pendampingnya.
Sore itu ia kembali melewati toko. Beberapa pegawai sedang menurunkan barang dari kendaraan. Ryan berhenti untuk membantu memegang pintu agar sudut meja tidak membentur bingkai. Ia mengenali urutan kerja yang selama ini memberinya rasa penting.
Syifa berada di dalam bersama pelanggan. Ia tidak keluar untuk menanyakan hasil pembicaraan Dina. Ryan melihat Hadi membawa bukti penerimaan, lalu menyadari usaha tersebut dapat tetap mempunyai pekerjaan tanpa harus menunggu keinginannya menjadi pemilik.
Sesudah barang masuk, ia menyerahkan pintu kepada pegawai dan mengambil telepon. Ia meminta waktu berbicara dengan pendamping yang telah membantunya memahami salinan. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana membuat seluruh toko diserahkan malam itu, melainkan bagaimana menyatakan pilihan yang benar-benar bersedia ditanggungnya.
Balasan datang ketika ia hendak berangkat. Mereka dapat membahasnya sebelum pertemuan berikut bersama Syifa. Ryan menyimpan waktu tersebut pada kalender kerjanya dan menyalakan kendaraan.
Dina menelepon di perjalanan, tetapi ia baru menghubungi kembali setelah berhenti. Ia mengatakan belum ada keputusan yang ditandatangani. Untuk pertama kalinya, ia tidak menambahkan janji bahwa ibunya tinggal menunggu sampai toko itu menjadi miliknya.