Ryan meletakkan salinan pembahasan di meja ruang depan. Ia belum membuka sepatu ketika Syifa masuk membawa tas. Perempuan itu menunggu pintu ditutup, lalu meminta waktu mengganti pakaian sebelum mereka melanjutkan percakapan.
'Apa lagi yang mau dilanjutkan?' tanya Ryan.
'Kamu dari tadi ingin bicara.'
'Aku ingin kamu menepati yang kamu tulis.'
Syifa berhenti. Mereka baru pulang dari ruangan tempat arti tulisan tersebut dibahas. Ia tidak ingin mengulangi semuanya dengan suara lebih keras, tetapi mengetahui kemarahan Ryan tidak akan hilang hanya karena dirinya berjalan ke kamar.
Ia meletakkan tas, mengambil air, kemudian duduk di kursi yang berhadapan. Ryan tetap berdiri. Ia menunjuk salinan itu dan mengatakan dirinya tidak akan begitu mudah melepaskan sesuatu yang telah dijanjikan.
'Kamu boleh memeriksa lewat pendampingmu,' jawab Syifa. 'Kita belum memutuskan apa-apa tadi.'
'Kamu selalu menjawab begitu sekarang.'
'Karena memang belum.'
Ryan menarik kursi. Ia mengatakan dirinya telah menyenangkan Syifa selama perjalanan, menahan diri tidak menemui Sherly, dan datang ke klinik meskipun tidak ingin. Ia tidak dapat menerima semua itu disebut sekadar syarat yang dijalankan ketika imbalannya mulai dijelaskan dengan arti berbeda.
Syifa menatap kedua tangannya. Ia tidak dapat kembali mengatakan salah paham itu seluruhnya datang dari Ryan. Pada siang hari ia sudah mengakui bahwa sengaja membiarkan harapan lelaki itu tumbuh.
'Aku salah membiarkan kamu memahami sesuatu yang berbeda,' katanya.
'Kalau tahu salah, berikan yang kumaksud.'
'Itu bukan cara menyelesaikannya.'
'Lalu cara kamu?'
'Kita periksa pilihan yang benar-benar bisa disepakati. Bukan aku bilang iya sekarang supaya kamu berhenti marah.'
Ryan mengembuskan napas keras. Ia mengusap wajah, lalu mengambil kertas yang terdekat. Sudutnya terlipat di antara jari. Syifa memastikan yang dipegangnya hanya salinan catatan pertemuan, bukan perjanjian asli yang disimpan dalam map.
Ia tidak merebut kertas tersebut. Ia meminta Ryan meletakkannya jika mereka masih hendak membicarakan isinya. Lelaki itu akhirnya mendorongnya ke tengah meja, dengan bekas lipatan yang tidak lagi rata.
'Kamu sadar aku suamimu?' katanya kemudian.
Syifa memandangnya. Kalimat itu dapat berjalan ke banyak tempat yang dikenalnya, dan ia tidak ingin menunggu sampai terjebak menjawab seolah kewajiban dalam perkawinan dapat digunakan untuk menutup setiap pertanyaan.
'Aku sadar kita masih menikah. Aku juga sadar sedang mengurus perpisahan.'
'Kamu dulu tidak selalu begini.'
'Dulu aku belum tahu semua yang terjadi.'
Ryan terdiam. Syifa melanjutkan lebih pelan. Ia mengatakan dirinya juga tidak akan kembali memakai perhatian atau kedekatan sebagai janji yang sengaja dibuat agar Ryan berharap. Ia sudah melihat bagaimana rencananya sendiri memperpanjang keadaan yang melelahkan keduanya.
'Kalau aku bicara baik, bukan berarti aku menjanjikan rujuk,' katanya. 'Kalau aku tidak ingin dekat, aku ingin kamu menghormatinya.'
Ryan menatap pintu kamar. Ia tidak mendekat untuk menyentuhnya, tetapi bertanya apakah Syifa akan terus menganggap setiap hal yang dilakukannya sebagai ancaman.
'Aku sedang mengatakan yang kuinginkan sekarang. Bukan menuduh sesuatu yang belum kamu lakukan malam ini.'
Perempuan itu berdiri untuk mengambil baju ganti. Ryan tidak menghalangi. Ia tetap di ruang depan ketika Syifa masuk dan menutup pintu.
Di dalam, Syifa mengambil pakaian yang nyaman dari lemari. Ada beberapa benda yang sengaja diletakkan di bagian depan ketika ia masih ingin menarik perhatian suaminya. Ia mengembalikannya ke tempat penyimpanan tanpa membuat upacara untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah berubah.
Setelah berganti, ia merapikan tempat tidur dan berhenti pada sisi yang biasa ditempati Ryan. Ia tidak ingin melanjutkan kebiasaan yang membuat setiap malam harus ditafsirkan sebagai kesempatan untuk mengubah keputusan.
Ketika keluar, ia menyampaikan bahwa mereka perlu tidur terpisah.
Ryan menoleh dari telepon.
'Aku harus pergi dari rumah malam ini?'
'Tidak. Kamar sebelah bisa dipakai. Besok kita atur barang yang diperlukan tanpa mengambil keputusan saat marah.'
Lelaki itu memandangnya lama. Ia mengatakan rumah ini dahulu mereka tempati bersama, dan sekarang dirinya merasa menjadi tamu. Syifa memandang kunci rumah yang diletakkan di dekat piring kecil pada meja. Ia mengingatkan bahwa orang tuanya memang meninggalkan rumah itu kepadanya, tetapi ia tidak sedang meminta Ryan keluar tanpa kesempatan menyiapkan tempat tinggal.
'Untuk malam ini kita punya ruang terpisah,' katanya.
Ryan bangkit. Ia mengambil pakaian dan beberapa barang yang diperlukan dari kamar utama, berjalan melewati Syifa tanpa berdebat lagi. Ia sempat menanyakan tempat seprai bersih. Syifa menunjukkan raknya, lalu menunggu sementara Ryan mengambil yang diperlukan dan menyiapkan tempat tidur sendiri. Perempuan itu menunggu sampai pintu kamar sebelah ditutup sebelum kembali membereskan meja.
Salinan yang terlipat diratakan dengan telapak tangan. Ia menyimpannya di bagian yang sesuai, bukan membuangnya karena tidak menyukai kalimat yang terdapat di dalam. Besok keterangan itu masih perlu dibaca ketika mereka lebih tenang.
Dari dapur, ia mendengar Ryan membuka keran. Lelaki itu mengambil air dan kembali ke kamar lain. Rumah mempunyai suara yang sama, tetapi Syifa kini tidak harus menebak apakah setiap langkah akan berakhir di pintunya.
Ia mengirim pesan singkat kepada Lestari bahwa pembicaraan di rumah belum menghasilkan keputusan baru. Tidak ada kebutuhan agar pendampingnya menjawab malam itu. Ia hanya tidak ingin pertemuan berikut dibuka dengan dugaan bahwa keduanya telah menyetujui sesuatu sesudah pulang.
Sebelum tidur, Syifa memeriksa gerbang dan lampu dapur. Di rak ada cangkir Salimah yang baru dikeluarkannya. Ia memindahkannya sedikit agar tidak tersenggol saat orang mengambil gelas, kemudian kembali ke kamar.
Ryan tidak mengetuk lagi. Syifa duduk di tepi ranjang dan mendengar teleponnya bergetar satu kali. Pesan dari suaminya mengatakan ia akan membicarakan toko setelah memeriksa salinan dengan pendamping.
Ia membalas singkat bahwa dirinya bersedia pada waktu yang disepakati. Setelah itu ia meletakkan telepon, mematikan lampu, dan berbaring tanpa menyiapkan kalimat untuk membuat Ryan jatuh cinta lebih jauh. Marahnya masih ada, tetapi malam itu tidak lagi harus dipakai untuk menambah janji yang tidak hendak ditepati.