Ryan datang dengan selembar daftar yang dibuatnya sendiri. Ia telah menghubungi pendamping yang dipilihnya untuk menanyakan perjanjian, lalu meminta orang itu ikut pada pembicaraan yang waktunya disepakati bersama Syifa. Lestari hadir untuk mendampingi perempuan tersebut, bukan menyatakan bahwa semua orang di ruangan harus menerima versinya.
Di atas meja, daftar Ryan dibuka sebelum perjanjian. Ia menuliskan bangunan, persediaan barang, uang yang dipakai untuk membeli stok, serta perlengkapan yang selama ini mendukung pekerjaan toko.
Syifa membaca satu per satu. Ada barang pelanggan yang sempat dimasukkan ke dalam kelompok persediaan. Ia menunjukkannya, lalu meminta bagian itu dipisahkan sebelum mereka berbicara mengenai apa yang dapat dijanjikan.
Ryan mencoret satu baris. Ia mengatakan maksudnya semua yang memang milik usaha, bukan meja yang sudah dibayar orang lain. Namun baginya koreksi tersebut tidak mengubah hal paling penting: ketika Syifa mengatakan toko, ia membayangkan usaha yang dapat diteruskan bekerja.
'Aku tidak berpikir diberi gedung lalu mulai dari kosong,' katanya.
Syifa menatap tulisan pada halaman. Ia tahu jawaban itu akan datang, tetapi tetap merasa sulit mengucapkan bagian yang selama ini memberinya rasa puas.
'Yang kumaksud tempatnya,' jawabnya. 'Bukan semua barang dan uangnya.'
Ryan meletakkan pena.
'Kamu baru bilang sekarang?'
'Aku pernah membicarakannya dengan Athar sebelum menulis perjanjian. Tapi aku tidak menjelaskan kepadamu sebagaimana harusnya.'
Nama sahabatnya membuat wajah Ryan mengeras. Ia bertanya apakah mereka berdua sudah menertawakannya sejak ia setuju menjalankan syarat. Syifa menahan keinginan membalas dengan mengingatkan setahun kebohongan yang dilakukannya.
'Aku tidak sedang menceritakan ini untuk menertawakanmu.'
'Tapi itu rencanamu.'
Syifa terdiam. Lestari membiarkannya menjawab sendiri, tidak mengubah kalimat tersebut menjadi tuduhan yang otomatis dapat dibantah oleh pendamping.
'Aku ingin kamu berharap mendapat lebih banyak,' katanya akhirnya. 'Lalu mengetahui yang kamu pikirkan tidak semuanya ada.'
Ryan mendorong kursinya sedikit ke belakang. Ia menunjuk daftar perjalanan, pemeriksaan, dan larangan bertemu Sherly. Semua dijalaninya dengan bayangan bahwa ada sesuatu yang besar menunggu setelah perceraian.
'Jadi kamu memang mau menjebak aku.'
'Aku ingin membalas. Iya.'
Ruangan hening. Syifa tidak menambahkan kata tetapi pada pengakuan itu. Ryan berselingkuh dan memakai kebohongan untuk mempertahankan kenyamanan. Ia sendiri kemudian memilih membiarkan arti sebuah janji menjadi bagian dari pembalasannya. Menyebut salah satu tidak membuat yang lain tidak terjadi.
Pendamping Ryan meminta mereka kembali melihat kalimat yang ditulis. Maksud yang hanya disimpan dalam pikiran salah satu pihak tidak cukup dijadikan pemahaman bersama. Apa yang hendak diserahkan, syaratnya, serta bagian yang masih diperselisihkan perlu diperjelas sebelum siapa pun bertindak seolah barang sudah menjadi miliknya.
Lestari mengiyakan perlunya pembahasan itu. Ia tidak menyebut bangunan otomatis jatuh kepada Ryan. Ia juga tidak mengatakan Syifa bebas mengabaikan setiap kalimat yang pernah disetujuinya.
Syifa mengambil buku dan menunjukkan pemisahan yang sedang dibuat di toko. Barang pesanan, barang usaha, dan catatan kewajiban tidak boleh dilempar menjadi satu jumlah hanya supaya salah satu pihak merasa menang.
Ryan memandangnya dengan marah.
'Kalau cuma bangunan, barangnya kamu bawa ke mana?'
'Itu harus dipikirkan sebelum ada perpindahan. Bukan dikeluarkan begitu saja setelah kamu menerima kunci.'
'Selama ini kamu memikirkan sampai mana?'
Pertanyaan itu membuat Syifa menunduk. Ia memang membayangkan kekecewaan Ryan lebih jelas daripada pekerjaan memindahkan usaha. Ada pegawai yang harus tetap bekerja, pelanggan yang telah membayar, dan warisan yang tidak ingin dilepaskannya hanya untuk mempertahankan kebanggaan.
'Belum cukup jauh,' jawabnya.
Ryan tidak langsung menanggapi. Kemarahannya menemukan tempat yang tidak bisa ditutup dengan jawaban bahwa Syifa hanya korban. Namun ketika ia kembali menyebut semua barang sebagai hak yang sudah dijanjikan, pendampingnya meminta ia membedakan tuntutan dari sesuatu yang benar-benar disepakati.
Mereka kemudian membahas pilihan yang masih dapat diperiksa. Bila ada penyerahan bangunan, rincian dan konsekuensinya perlu jelas. Bila keduanya memilih mengubah atau melepaskan bagian tawaran, itu pun harus melalui persetujuan yang dapat dibaca masing-masing.
Mereka juga membuka salinan berkas tempat usaha yang telah dicocokkan. Ryan membaca bagian yang selama ini hanya disebutnya sebagai toko keluarga. Ia meminta kesempatan memeriksa salinan melalui pendampingnya sebelum memberi jawaban baru. Syifa menyetujui cara penyerahannya, dengan catatan dokumen asli tetap disimpan pada tempat yang sudah diketahui. Tidak ada kertas asli yang dibawa pulang sebagai pengganti kepastian hak.
Tidak satu pilihan diputus pada pertemuan tersebut. Syifa meminta waktu untuk menilai akibatnya terhadap usaha. Ryan mengatakan dirinya juga perlu memikirkan kembali apa yang telah dikejarnya.
Di tengah pembicaraan, telepon Ryan bergetar. Ia melihat nama ibunya, lalu membalik layar tanpa menjawab. Kali ini Syifa tidak merasa perlu menebak apa yang akan dikatakan Dina. Yang dihadapinya sudah cukup berat tanpa menambahkan suara dari tempat lain.
Lestari merangkum bagian yang sudah diakui dan yang belum disepakati. Keterangan itu dibaca kembali agar pengakuan maksud Syifa tidak kelak berubah menjadi cerita bahwa seluruh barang telah diserahkan hari itu.
Ryan menerima salinan. Ia tidak menandatangani keputusan melepaskan tuntutan, sebab keputusan tersebut memang belum dibuat. Namun ia juga tidak dapat pulang membawa kunci baru dan menyebut pengelolaan toko sudah berganti.
Di halaman, ia menghentikan langkah Syifa.
'Kamu senang melihat aku berharap?'
Perempuan itu memegang map lebih erat.
'Waktu marah, aku pikir aku akan senang.'
'Dan sekarang?'
'Aku melihat yang kupertaruhkan bukan cuma perasaanmu.'
Ryan menatapnya beberapa saat, lalu berjalan ke kendaraan. Syifa tidak memanggil untuk meminta ia segera memahami dirinya. Ia masih harus menanggung akibat dari rencana yang sengaja dibuat, meskipun alasan memulainya tidak dapat dilupakan.
Sebelum pulang, ia menulis satu pertanyaan untuk pertemuan berikut: bagian mana yang benar-benar ingin dipertahankan, dan apa yang harus dibereskan agar keputusan tidak lagi bergantung pada kebingungan orang lain.
Ia menutup buku setelah selesai. Kali ini ia tidak menyimpan arti tambahan dalam kepalanya sambil membiarkan Ryan berjalan dengan arti yang berbeda. Persoalan belum selesai, tetapi pertengkaran mereka akhirnya menyebut hal yang memang diperebutkan.