Sherly memilih kedai yang berada di jalan ramai. Ia mengatakan kepada Dina hendak membeli keperluan, lalu benar-benar singgah di warung sebelum berjalan ke tempat yang disepakati. Kantong belanja diletakkan di samping kursinya supaya ia tidak harus memegang sesuatu ketika membuka telepon.
Reno datang sesudah minuman dipesan. Lelaki yang dahulu pernah berhubungan dengannya itu duduk tanpa menanyakan mengapa pertemuan harus dilakukan di tempat terbuka. Ia meletakkan ponsel di atas meja dan memandang wajah Sherly beberapa saat.
'Kamu susah sekali diajak bicara sekarang.'
'Aku minta kamu menjelaskan lewat pesan. Kamu yang tidak mau.'
'Ada yang lebih enak dibicarakan langsung.'
Sherly tidak membalas. Nama pada layar itu telah membuatnya takut selama beberapa malam, tetapi duduk berhadapan tidak serta-merta membuat semua kalimat Reno terdengar benar. Ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya diminta sebelum kembali menjanjikan sesuatu.
Reno membuka percakapan lama. Ada permintaan pinjaman yang dikirim Sherly beberapa bulan sebelum menikah, disertai bukti tiga kali pengiriman masing-masing dua juta rupiah. Ia menunjukkan jumlah keseluruhan, lalu mengingatkan bahwa uang itu tidak pernah disebut hadiah.
'Aku tidak bilang hadiah,' jawab Sherly.
'Berarti kamu ingat.'
'Aku juga sudah mengembalikan sebagian.'
Reno menggeser layar. Ia mengakui ada dua juta yang pernah diterima kembali. Sherly menyimpan bukti tersebut pada teleponnya sendiri, lalu menaruhnya di meja agar keduanya melihat tanggal yang sama.
Enam juta dipinjam. Dua juta sudah dibayar. Angka yang tersisa tidak sama dengan jumlah yang berkali-kali disebut Reno dalam pesannya.
'Empat juta,' kata Sherly. 'Yang belum selesai itu empat.'
'Kalau cuma uangnya, dari dulu sudah bisa kamu bereskan.'
'Kamu minta sepuluh.'
Reno bersandar. Ia mengatakan ada waktu dan perhatian yang telah diberikannya ketika Sherly masih membutuhkan dirinya. Ia juga tidak senang merasa ditinggalkan setelah perempuan itu memperoleh lelaki yang dianggap lebih mampu.
Sherly memegang sisi kursi. Ia tidak ingin menyangkal bahwa pernah memanfaatkan kesediaan orang lain mendengarkan. Namun ia tidak pernah menyetujui perhatian dihitung menjadi enam juta tambahan yang baru ditagih setelah menikah.
'Kapan aku setuju membayar yang selain pinjaman?'
'Jangan pura-pura tidak tahu maksudku.'
'Aku tanya karena tidak ada di catatan ini.'
Reno memutar ponsel. Sebuah foto lama muncul, memperlihatkan keduanya duduk berdekatan. Sherly mengenali tempat dan pakaian yang dipakainya. Ia tidak dapat mengatakan gambar tersebut dibuat dari sesuatu yang tidak pernah terjadi.
Lelaki itu menyebut Ryan mungkin tertarik melihat beberapa foto lain. Ia bertanya apakah suami Sherly mengetahui bagaimana perempuan itu membicarakannya dahulu. Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat Sherly melihat sekeliling.
Beberapa meja masih terisi. Pelayan sedang mengangkat gelas di dekat kasir. Sherly menarik napas dan memutuskan tidak akan berdiri mengikuti Reno jika diminta melanjutkan pembicaraan di tempat lain.
'Itu tidak membuat sisa pinjaman berubah,' katanya.
'Kamu sekarang berani.'
'Aku tidak punya sepuluh juta untuk kamu.'
'Suamimu punya toko.'
Sherly menatapnya. Kalimat itu membuat ia mengerti bahwa harapan mengenai uang Ryan juga dibawa sampai meja yang sama sekali tidak berkaitan dengan usaha Syifa.
'Toko itu bukan milikmu untuk dijadikan alasan menambah tagihan,' jawabnya.
Reno tersenyum tipis. Ia mengatakan Sherly dahulu tidak begitu hati-hati menyebut apa yang dapat dilakukan Ryan. Perempuan itu tidak mempunyai jawaban yang dapat menghapus perkataannya pada masa lalu. Ia pernah membesar-besarkan kemampuan lelaki yang didekatinya dan menyembunyikan bagian yang tidak menguntungkan.
Tetapi ia tetap meminta rincian tertulis untuk setiap jumlah yang dituntut. Jika ada bukti lain mengenai pinjaman, ia akan melihatnya. Ia tidak akan menyerahkan uang tambahan hanya agar foto yang memang ada tidak ditunjukkan kepada orang lain.
Reno mengetukkan jari ke meja. Ia mengingatkan bahwa Sherly yang meneleponnya pada malam setelah pindah dari rumah Syifa. Ketika itu perempuan tersebut mengeluh seolah masih dapat meminta dirinya menolong setiap kali hidup bersama Ryan tidak sesuai harapan.
'Aku seharusnya tidak menelepon untuk mengeluh begitu,' kata Sherly.
'Nah, sekarang mengerti.'
'Tapi itu bukan persetujuan membayar apa pun yang kamu minta.'
Pembicaraan berhenti beberapa saat. Sherly mengambil minuman, menyadari tangannya masih gemetar, lalu meletakkannya lagi sebelum tumpah. Ia tidak merasa menang. Utang empat juta tetap ada, dan Ryan belum mengetahui bagian yang dapat dipakai Reno untuk membuatnya takut.
Lelaki itu menyuruhnya menyiapkan uang lalu mengabari. Sherly menjawab ia belum menyetujui jumlah di luar pinjaman dan tidak akan menentukan pertemuan baru sebelum memeriksa kembali semuanya. Ia meminta Reno mengirimkan tuntutannya secara tertulis, bukan hanya mengatakan akan membereskan melalui orang lain.
Sherly memastikan barangnya tetap berada di dekat kursi. Ia memasukkan telepon kembali ke tas setelah menyimpan bukti pembayaran yang baru saja mereka cocokkan.
Reno berdiri lebih dahulu. Ia meninggalkan meja tanpa membayar minuman yang dipesannya. Sherly menunggu sampai lelaki itu berada di luar sebelum memanggil pelayan, memeriksa jumlah, lalu menyelesaikan pembayaran.
Di dekat kasir ia membuka telepon. Percakapan yang berkaitan dengan enam juta dan pengembalian dua juta disimpan berurutan. Ia juga mencatat tuntutan sepuluh juta serta ancaman mengenai foto yang baru diucapkan, tanpa mengubahnya menjadi sesuatu yang telah dibuktikan oleh orang lain.
Kantong belanjanya masih berada di samping kursi. Ia kembali mengambilnya dan berjalan pulang melalui jalan yang sama. Dina membuka pintu dengan wajah kesal karena ia pergi lebih lama daripada membeli barang.
'Antre?' tanya mertuanya.
Sherly hampir mengiyakan. Ia akhirnya hanya mengatakan ada urusan yang harus dibicarakan, tetapi belum sanggup menjelaskan semuanya saat itu. Dina menanyakan dengan siapa. Perempuan muda itu meminta waktu menyusun keterangan agar tidak kembali memberikan jawaban yang berubah-ubah.
Di kamar, Sherly duduk tanpa menutup pintu rapat. Ia meletakkan bukti pinjaman di samping catatan kebutuhan kehamilan. Keduanya berbeda dan sama-sama perlu dibereskan. Untuk pertama kalinya ia melihat bahwa menyebut calon bayi tidak akan membuat utang pribadi hilang, sebagaimana membayar utang tidak memberi Reno hak mengendalikan setiap hal yang harus dikatakan kepada suaminya.