Syifa tiba bersama Lestari sebelum waktu yang tercantum pada panggilan. Ia memakai pakaian rapi yang dipilihnya sendiri, membawa identitas dan map yang telah diperiksa malam sebelumnya. Baju akad masih disimpan setelah pengaitnya diperbaiki. Ia sudah membicarakan dengan Ryan bahwa pakaian itu akan digunakan pada kesempatan sidang berikut yang mereka persiapkan, bukan dipakai untuk membuat keributan pada setiap kedatangan.
Ryan berada di tempat yang sama, tetapi tidak datang bersamanya. Ia berdiri ketika melihat Syifa, menanyakan apakah ada berkas yang perlu diberikan. Perempuan itu menunjukkan bagian yang memang hendak dicocokkan melalui pendamping, lalu mengingatkan agar ia tetap menyimpan miliknya sendiri.
Dina tidak ikut masuk bersama putranya. Ryan telah mengatakan ia akan mengikuti proses yang ditentukan dan mengabari hal yang perlu diketahui sesudahnya. Ia tidak ingin pembicaraan di ruang tunggu berubah menjadi pertemuan kerabat seperti di rumah.
Syifa duduk dengan kedua kaki menapak. Ada suara pintu dibuka, nama dipanggil, dan orang berjalan dengan berkas masing-masing. Ia pernah membayangkan tempat itu akan membuatnya langsung merasa berani. Kenyataannya, ia justru perlu menahan tangan agar tidak meremas sudut map.
Lestari bertanya apakah ia ingin minum. Syifa menggeleng, kemudian mengubah jawabannya dan mengambil botol. Ia tidak perlu berpura-pura tidak mempunyai kebutuhan hanya karena datang untuk menjelaskan keputusan yang dianggap penting.
Ketika giliran mereka tiba, keduanya mengikuti arahan. Keterangan awal dicocokkan dan pertanyaan dijawab tanpa saling memotong. Ryan menyebut identitasnya dengan suara yang lebih pelan daripada saat berdebat di rumah.
Ada bagian ketika keduanya diminta menjelaskan keadaan perkawinan dan kemungkinan penyelesaian. Syifa tidak membacakan seluruh pesan perselingkuhan di hadapan orang yang tidak memintanya. Ia menyampaikan alasan pokok dengan urutan yang telah diperiksa bersama Lestari.
Ryan mengakui pernikahan dengan Sherly telah dilakukan ketika perkawinannya dengan Syifa masih berjalan. Ia tidak mengulang cerita bahwa tidak ada pilihan selain menolong keluarga perempuan itu. Namun ketika ditanya mengenai keinginannya sekarang, ia menyatakan masih berharap hubungan pertamanya dapat dipertahankan.
Syifa mendengar sampai selesai.
'Saya tetap ingin melanjutkan proses,' katanya ketika mendapat kesempatan menjawab.
Tidak ada sorakan atau ucapan yang menyebut pihaknya telah menang. Pembicaraan diarahkan kepada langkah yang perlu ditempuh, termasuk kesempatan membahas kemungkinan perdamaian melalui proses yang ditentukan. Syifa memastikan ia memahami apa yang sedang diminta, bukan menafsirkan setiap jeda sebagai tanda gugatan harus dibatalkan.
Ryan menanyakan apakah pembicaraan mengenai toko dapat diselesaikan sekaligus. Keterangan mengenai hal yang masih diperiksa dibedakan dari sesuatu yang sudah disepakati. Belum ada keputusan bahwa pengelolaan toko selama ini memberinya hak atas seluruh barang dan bangunan.
Syifa mencatat bagian yang akan dibahas dengan Lestari sesudah keluar. Ia tidak menyerahkan daftar audit yang belum selesai sebagai jumlah final, dan tidak mengaku seluruh persoalan aset sudah beres hanya karena dirinya ingin perceraian segera diputus.
Pada kesempatan upaya perdamaian dalam rangkaian itu, mereka berbicara dengan mediator yang diarahkan melalui proses tersebut. Ryan mengulangi keinginannya mempertahankan perkawinan, lalu mengatakan sudah menjalankan perjalanan dan pemeriksaan yang diminta Syifa. Mediator memberi Syifa kesempatan menjawab tanpa meminta ia menerima harapan tersebut sebagai keputusan bersama.
'Saya tetap ingin berpisah,' katanya. 'Saya tidak pernah menjanjikan perjalanan itu membatalkan perceraian.'
Pembicaraan juga menyentuh apakah ada bagian yang dapat disepakati tanpa memaksa keduanya menyatakan rujuk. Urusan toko masih belum mempunyai arti yang sama dan perlu diperjelas. Mereka belum mencapai kesepakatan memulihkan perkawinan. Hasil pembicaraan akan diteruskan melalui proses yang dijelaskan, sementara hal yang disepakati kemudian dapat dilengkapi keterangannya. Syifa menulis bagian itu agar tidak kelak menyebut percakapan yang gagal merujukkan mereka sebagai putusan perceraian.
Setelah agenda hari itu selesai, keduanya masih harus mengikuti arahan berikutnya. Ada waktu yang perlu dicatat, ada berkas yang harus diperiksa lagi, dan ada pembicaraan yang memang belum menghasilkan persetujuan.
Di tempat menunggu, Ryan mendekat dengan tangan memegang kertas.
'Kamu tadi tidak ragu sama sekali?'
Syifa menatapnya. 'Aku ragu apakah bisa bicara tanpa menangis. Bukan ragu tentang apa yang ingin kusampaikan.'
'Aku masih berharap.'
'Aku dengar.'
'Kamu tidak mau memberi kesempatan?'
Syifa menyimpan botol sebelum menjawab. Ia telah memberi waktu untuk menjalankan lima hal yang disepakati. Ia pernah sengaja membuat Ryan merasa nyaman supaya kelak kehilangan itu lebih menyakitkan. Kini ia tidak ingin menyebut tindakan tersebut sebagai kesempatan rujuk hanya agar lelaki itu berhenti menanyakan.
'Aku tidak akan menjanjikan rujuk supaya hari ini lebih mudah,' katanya.
Ryan memandang ruang yang baru mereka tinggalkan. Ia mengatakan pemeriksaan, perjalanan, dan pekerjaannya di toko terasa seperti tidak dihitung. Syifa menjawab semuanya tercatat sebagai tindakan yang benar-benar dilakukan. Tidak satu pun harus dilupakan untuk membuat alasan perceraian tetap ada.
Lestari kembali setelah menyelesaikan urusan yang perlu ditanyakannya. Ia menjelaskan kepada Syifa apa yang harus disiapkan berikut dan mengingatkan agar surat yang diterima dibaca seluruhnya sebelum dijawab melalui pesan singkat kepada orang lain.
Ryan mendengarkan bagian yang berkaitan dengannya, kemudian memastikan di mana ia dapat menanyakan keterangan yang belum dipahami. Ia tidak meminta Syifa mengurus seluruh berkas pribadinya. Sesudah itu ia berjalan ke luar untuk menelepon Dina.
Syifa menunggu beberapa langkah dari pintu. Ia mendengar Ryan mengatakan proses belum selesai dan tidak ada toko yang diserahkan hari itu. Kalimat tersebut tidak dibantah oleh Syifa karena memang itulah yang terjadi.
Ketika telepon ditutup, Ryan menawarkan pulang bersamanya. Perempuan itu menjelaskan ia harus menemui Lestari sebentar untuk merapikan catatan, lalu kembali ke toko. Mereka tidak perlu mempertahankan penampilan pasangan yang selalu datang dan pergi dalam satu kendaraan.
Ryan mengangguk dan berpamitan. Syifa membalas sebelum kembali duduk. Pada buku kecilnya ia menuliskan langkah berikut dengan tanggal yang baru diterima. Di sebelahnya ia memberi tanda pada bagian yang perlu dibicarakan khusus mengenai perjanjian toko.
Lestari menunggu sampai ia selesai menulis, lalu menanyakan apakah ada kalimat hari itu yang tidak dipahaminya. Syifa menunjuk satu bagian. Penjelasan diberikan tanpa mengubah kertas tersebut menjadi kabar bahwa pernikahannya telah resmi berakhir.
Sebelum berangkat, Syifa memeriksa kembali salinan yang akan disimpan. Ada halaman yang masih tertinggal pada tumpukan lain. Ia kembali menanyakannya, menunggu petugas mencocokkan, lalu menerima bagian yang diperlukan tanpa mengambil dokumen milik orang di sebelahnya. Sesudah seluruhnya lengkap, barulah map ditutup.
Menjelang siang ia meninggalkan tempat itu dengan map yang tetap harus dijaga. Ia masih mempunyai rumah untuk dituju dan usaha yang perlu dikerjakan. Di antara keduanya kini ada langkah yang sudah benar-benar ditempuh, bukan hanya ancaman yang dikeluarkan saat marah. Syifa berjalan ke kendaraan, memastikan ponselnya dapat menerima panggilan Hadi, lalu pulang membawa pertanyaan yang lebih sedikit daripada ketika datang.