Bu Murni datang ke toko menjelang makan siang dengan wadah yang dibungkus kain. Ia tidak langsung masuk ke ruang belakang. Dari dekat pintu ia menanyakan apakah Syifa sedang dapat ditemui, lalu menunggu pegawai menyampaikan kedatangannya.
Syifa keluar sambil membawa buku kecil. Ia tersenyum ketika melihat tetangganya, kemudian mempersilakan duduk pada kursi yang tidak sedang diperiksa pelanggan.
'Anaknya bagaimana, Bu?'
'Sudah sehat. Sekarang justru susah disuruh diam.'
Syifa tertawa. Ia masih ingat perempuan itu datang meminjam uang ketika demam anaknya belum turun dan upah suami belum diterima. Beberapa minggu terasa panjang karena begitu banyak kejadian di rumahnya sendiri, sementara di rumah sebelah hidup tetap mempunyai kecemasan yang perlu diurus.
Bu Murni membuka tas, mengeluarkan uang yang dilipat dalam kertas.
'Ini yang waktu itu, Nak. Baru seratus ribu dulu. Sisanya menyusul.'
Syifa melihatnya, lalu mengingat dua ratus ribu yang pernah dipinjamkan. Ia dahulu sudah mengatakan tidak perlu memaksa jika keadaan memang belum memungkinkan. Bu Murni menjelaskan upah suaminya akhirnya diterima sebagian, sehingga ia ingin mencicil sebelum uang kembali habis untuk kebutuhan lain.
'Kalau Ibu masih perlu untuk anak, tidak usah sekarang.'
'Yang untuk rumah sudah dipisahkan. Ibu mau yang ini kamu terima.'
Syifa tidak terus menolak sampai tetangganya harus menjelaskan seluruh isi dompet. Ia menerima seratus ribu, menyebut jumlah yang masih tercatat agar tidak keliru, lalu menyimpannya terpisah dari uang toko.
Bu Murni mengangguk lega. Sesudah itu ia menyerahkan wadah makanan yang dibawa. Katanya ia memasak lebih banyak dan teringat Syifa beberapa kali pulang ketika hari sudah sore.
'Jangan bilang makanan ini buat membayar sisanya,' kata Syifa.
'Bukan. Kalau buat bayar, Ibu harus jual dahulu, baru bawa uangnya.'
Keduanya tertawa. Syifa membawa wadah ke meja belakang dan mengambil piring. Ia meminta Bu Murni ikut makan karena sudah terlanjur datang pada jam yang tepat. Perempuan itu sempat menolak, lalu menerima setelah Syifa menyiapkan satu tempat lagi.
Hadi sedang menutup map ketika mereka lewat. Ia menyapa tetangga pemilik, lalu menanyakan keterangan pesanan yang baru dicatat. Syifa menjawab bagian yang diketahuinya dan meminta sisanya diperiksa pada lembar sebelumnya.
Bu Murni mendengarkan tanpa menambahkan pendapat seolah dirinya pegawai lama. Ia baru datang sebagai tetangga yang membawakan makanan. Ketika Hadi pergi, ia bertanya apakah Syifa sekarang harus berada di toko setiap hari.
'Belum semuanya bisa saya serahkan,' jawab Syifa. 'Tapi saya juga tidak mungkin memegang setiap pekerjaan sendiri.'
'Belajar sambil jalan pasti capek.'
'Iya. Saya dulu tidak banyak bertanya.'
Bu Murni tidak mengatakan semua akan mudah karena usaha itu milik orang tua Syifa. Ia melihat buku yang penuh catatan, lalu memindahkan wadah agar tidak mengenai halaman. Mereka makan sambil membicarakan anaknya yang kini kembali meminta bermain di luar.
Seorang pegawai sempat masuk membawa pertanyaan tentang tempat menyimpan bungkus barang. Syifa menunjukkan rak yang sudah dipakai, lalu kembali meraih sendok. Ia hampir membiarkan nasinya dingin sambil mencari halaman lain, tetapi Bu Murni menggeser wadah mendekat dan mengingatkan bahwa kertas tidak akan pergi selama ia makan beberapa suap. Syifa menutup bukunya sambil tersenyum malu.
Ryan masuk saat Syifa sedang menambahkan lauk. Ia mengenali Bu Murni dan bertanya apakah ada keperluan. Perempuan itu mengatakan hanya mengantar makanan serta mengembalikan sebagian pinjaman.
Syifa memperhatikan suaminya, tetapi Ryan tidak meminta uang tersebut dimasukkan ke kas. Ia mengambil gelas dan duduk pada kursi yang masih kosong setelah dipersilakan.
Pembicaraan menjadi lebih hati-hati. Bu Murni tidak menanyakan Sherly atau gugatan. Ia bertanya mengenai barang yang disusun di depan dan mengatakan beberapa model kursi tampak berbeda dari yang dahulu dilihatnya ketika lewat.
Ryan menjelaskan seperlunya. Ketika ada panggilan dari gudang, ia bangkit dan meninggalkan gelas yang belum kosong. Bu Murni menunggu sampai ia cukup jauh sebelum menanyakan apakah kehadirannya membuat Syifa tidak nyaman.
'Tidak, Bu. Saya senang ada yang mengajak makan, bukan cuma membicarakan masalah.'
Perempuan itu tersenyum. Ia menawarkan bantuan jika Syifa suatu hari perlu ditemani menyiapkan makan atau keluar mengurus sesuatu. Namun ia segera menambahkan bahwa urusan toko tidak diketahuinya.
'Ibu tidak bisa menggantikan Pak Hadi menghitung barang.'
'Saya juga tidak akan meminta begitu.'
Syifa menjelaskan ada kalanya pegawai membutuhkan makan ketika pekerjaan pengiriman belum selesai. Jika Bu Murni bersedia menerima pesanan masakan pada hari tertentu, mereka dapat membicarakan jumlah dan harga terlebih dahulu. Ia tidak ingin makanan hari ini membuat tetangganya dianggap akan terus memasak tanpa bayaran.
Bu Murni tampak berpikir. Ia harus melihat kebutuhan di rumah dan tidak dapat menjanjikan siap setiap hari. Syifa mengiyakan. Mereka sepakat pembicaraan itu baru tawaran, bukan pekerjaan yang harus dimulai esok.
Sesudah makan, keduanya mencuci piring yang digunakan. Syifa mengembalikan wadah bersih dan meminta Bu Murni menyampaikan kabar jika anaknya kembali sakit, bukan menunggu sampai tiga hari hanya karena merasa merepotkan.
'Ibu juga jangan menanggung semua sendiri,' jawab tetangganya.
Syifa mengangguk. Ia mengantar sampai pintu, lalu berhenti ketika Bu Murni hendak membawa wadah yang ternyata belum dikeringkan bagian tutupnya. Mereka tertawa lagi dan kembali sebentar untuk mengambil kain.
Hal kecil itu membuat siang terasa lebih ringan. Tidak ada keputusan mengenai perceraian yang berubah setelah makan. Hadi tetap mengurus pesanan, Ryan kembali memeriksa pekerjaan, dan Syifa masih mempunyai daftar yang harus dibaca.
Namun ketika ia duduk kembali, ia tidak langsung membuka map. Ia mencatat pengembalian seratus ribu dari Bu Murni pada buku pribadi, kemudian mengirim pesan bahwa makanan tadi enak dan wadahnya sudah benar-benar lengkap.
Balasan tetangganya datang sebelum ia selesai menaruh telepon. Bu Murni mengatakan lain kali Syifa boleh makan di rumahnya tanpa perlu menunggu seseorang membawa pinjaman atau kabar buruk. Perempuan itu membaca kalimat tersebut dua kali, lalu mengambil buku toko dengan perasaan yang sedikit lebih lapang.