Dina menunggu Ryan di teras rumahnya pada sore hari. Putranya mengatakan akan datang sebentar untuk menyerahkan keperluan yang sudah dibelikan. Ia tidak masuk ke ruang tengah dan tidak memanggil Sherly dari kamarnya. Kesepakatan yang dibuat bersama Syifa belum diubah.
Kantong belanja diletakkan pada kursi. Dina melihat isinya, lalu menanyakan apakah hanya itu yang dapat dibawa. Ryan menunjukkan bagian yang sesuai daftar dan mengatakan sisanya akan dibicarakan jika memang diperlukan.
'Kamu sudah periksa lagi?' tanya ibunya sesudah barang dipindahkan.
Ryan mengangguk.
'Kata dokternya bagaimana?'
Ia tidak menyerahkan kertas atau menyebut hasil Syifa. Ia mengatakan pemeriksaan yang disepakati sudah dijalani keduanya dan ada penjelasan yang telah diterimanya mengenai hasil pribadi. Tidak ada dasar untuk melanjutkan tuduhan bahwa Syifa seoranglah yang membuat mereka belum mempunyai anak.
Dina melipat kantong kosong. Ia mengatakan dirinya hanya menginginkan cucu, bukan sengaja menyakiti siapa pun.
'Kalau Mama belum tahu, jangan ditetapkan seolah itu salah Syifa,' jawab Ryan.
'Kamu sekarang membela dia terus.'
'Aku yang dulu membiarkan Mama mengatakan itu.'
Dina menatapnya. Ryan berbicara pelan, lebih banyak menatap kantong belanja daripada wajah ibunya. Ia tidak menyebut permintaan maaf kepada Syifa yang tidak hadir, tetapi juga tidak menarik kembali kalimat tersebut. Ia mengambil kantong yang masih akan dibawa pulang, lalu mengingatkan agar kebutuhan Sherly disampaikan dengan jelas.
Dari kamar, Sherly hanya mendengar sebagian percakapan. Ia tidak mendekat karena tidak ingin Dina mengatakan dirinya sengaja mencuri waktu untuk bertemu. Namun ketika suara kendaraan Ryan menjauh, ia keluar dan menanyakan apakah semua barang sudah diberikan.
Dina menyuruhnya memeriksa sendiri. Sherly membawa daftar, mencocokkan beberapa keperluan, kemudian menanyakan pembicaraan mengenai dokter yang sempat terdengar.
'Mereka sudah periksa,' jawab Dina. 'Ryan tidak mau cerita banyak.'
'Terus?'
'Katanya jangan menyalahkan Syifa.'
Sherly menatap tulisan pada daftar tanpa membacanya. Ia tahu pemeriksaan tersebut bagian dari perjanjian. Meski demikian, kabar bahwa Ryan mendengarkan penjelasan dokter menimbulkan kecemasan yang berbeda dari soal pendingin kamar atau uang belanja.
Pria dari masa lalunya masih menyimpan foto dan percakapan. Ryan belum melihat semuanya. Sherly khawatir ia akan memakai informasi apa pun untuk mempertanyakan kehamilannya, bahkan bila informasi itu tidak membuktikan sesuatu.
Dina menyangka ia kecewa karena kebutuhan belum lengkap.
'Kalau ada yang mendesak, bilang. Jangan baru malam-malam panik.'
'Saya ada jadwal periksa kandungan, Mah.'
'Kapan?'
Sherly menunjukkan catatan. Kunjungan berikutnya sudah direncanakan, tetapi ia belum menentukan siapa yang akan menemani. Ia tidak ingin pergi dengan orang yang belum diketahuinya hanya karena Ryan tidak boleh datang.
Dina membaca tanggal, lalu menanyakan biaya dan tempatnya. Setelah Sherly menjelaskan yang diketahui, ia mengatakan dapat menemani jika memang itu yang diinginkan.
Perempuan muda itu mengangguk. Ia hampir menambahkan permintaan agar Ryan saja yang datang, tetapi berhenti. Ia tidak hendak membatalkan kebutuhan pemeriksaan hanya supaya suaminya terpaksa melanggar kesepakatan.
Pada hari yang dijadwalkan, keduanya berangkat setelah Dina menyelesaikan pekerjaan rumah. Sherly membawa catatan pemeriksaan sebelumnya di dalam tas. Ia memeriksanya berkali-kali di ruang tunggu, memastikan halaman yang diperlukan tidak tertinggal.
Catatan awal menunjukkan perkiraan usia kehamilan sekitar delapan minggu pada pekan ketika Ryan membawanya pulang ke rumah Syifa. Kini, setelah kira-kira tiga minggu berlalu, usia itu sekitar sebelas minggu. Ia telah mengetahui kehamilannya sebelum menikah. Ketika Ryan memperkenalkannya kepada Syifa, pernikahan mereka baru berusia satu bulan.
Keterangan tersebut tidak membuat Sherly dapat mengabaikan semua tanggal sesuka hati. Ia mengingat apa yang pernah disampaikan kepada Ryan, lalu menutup buku sebelum Dina membaca dari balik bahunya.
Saat dipanggil, Sherly menyatakan bersedia ditemani mertuanya. Pemeriksaan berlangsung sesuai kebutuhan yang dijelaskan petugas. Ia menjawab pertanyaan mengenai keadaan yang dirasakan dan menanyakan hal yang belum dipahami tanpa membiarkan Dina selalu mendahului.
Di satu bagian, ia meminta berbicara sebentar tanpa pendamping. Dina tampak heran, tetapi akhirnya menunggu di luar setelah dipersilakan. Sherly tidak langsung membicarakan lelaki lama atau meminta kepastian ayah bayi. Ia menyampaikan kecemasannya dan meminta penjelasan tentang apa yang memang dapat diketahui melalui pemeriksaan kehamilan yang dijalani.
Jawaban yang diterimanya tidak mengubah kunjungan itu menjadi penyelidikan terhadap orang yang tidak hadir. Sherly mendengarkan, kemudian memastikan keterangan untuk kunjungan berikut serta kebutuhan yang benar-benar dianjurkan.
Ketika ia keluar, Dina sudah berdiri dekat pintu.
'Ada yang tidak boleh Mama dengar?'
'Ada yang ingin saya tanyakan sendiri.'
Dina tampak hendak mendesak. Sherly menunjukkan bagian catatan yang berkaitan dengan jadwal dan meminta agar mereka membicarakan perjalanan pulang lebih dahulu. Ia tidak menyerahkan seluruh buku hanya untuk membuktikan bahwa dirinya tidak menyembunyikan sesuatu.
Sherly menyimpan bukti biaya pemeriksaan untuk disampaikan kepada Ryan. Uang yang diberikan melalui Dina dipakai sesuai kebutuhan yang tadi dibicarakan.
Di luar, mereka membeli air. Sherly minum sedikit dan duduk sebelum menuju kendaraan. Dina menanyakan apakah Ryan perlu dikabari. Perempuan itu menjawab ia akan mengirim keterangan yang memang perlu diketahui suaminya sesudah sampai di rumah.
Ia melakukannya sore itu. Pesan berisi kabar pemeriksaan dan keperluan berikut dikirim tanpa tambahan ancaman bahwa Ryan harus memilihnya malam itu juga. Ia masih marah karena terus menunggu, tetapi membutuhkan jawaban yang dapat dipakai, bukan pertengkaran yang kembali berhenti pada nama Syifa.
Ponsel menampilkan balasan dari nomor lain sebelum Ryan menjawab. Lelaki lama itu menanyakan mengapa permintaannya belum dipenuhi. Sherly memotret satu bagian percakapan yang memuat tuntutan, lalu menyimpannya bersama pesan sebelumnya.
Ia belum tahu bagaimana membuka semua itu kepada Ryan. Namun catatan dalam tasnya membuat ia mengerti bahwa kebohongan tidak dapat diselesaikan hanya dengan memindahkan tanggal atau menyebut kehamilan setiap kali seseorang menanyakan hal yang lain.
Dina mengetuk sebelum masuk membawa makanan. Sherly menoleh, sedikit terkejut karena kali ini pintu tidak langsung didorong. Ia menerima piring dan menggeser buku pemeriksaan ke tempat aman, lalu makan sebelum melanjutkan pesan yang belum mampu dijawabnya.