Ryan menyiapkan sendiri berkas yang akan dibawa pada jadwal berikutnya. Ia tidak menunggu Syifa bertanya di mana kertas disimpan. Pagi itu perempuan tersebut masih harus menerima kiriman untuk toko, sehingga mereka bersepakat berangkat dari tempat berbeda dan bertemu ketika waktunya mendengarkan penjelasan.
Syifa datang setelah kiriman diperiksa Hadi. Ryan sudah duduk di ruang tunggu, dengan tas di samping kaki dan pesan pengingat yang masih terbuka pada telepon. Ia menanyakan apakah pekerjaan di toko telah selesai.
'Bagian yang harus kulihat sudah. Pak Hadi melanjutkan yang lain.'
Ryan mengangguk. Untuk beberapa saat mereka hanya menunggu. Di antara keduanya tidak ada lagi formulir kosong yang harus diperebutkan siapa yang mengisinya, atau pertanyaan mengapa hanya Syifa yang perlu memeriksa diri.
Ketika dipanggil, Ryan berdiri lebih dahulu. Ia bertanya kepada petugas apakah Syifa dapat ikut mendengarkan dengan persetujuannya. Setelah dipastikan, mereka masuk dan duduk sebagaimana diarahkan.
Hasil ulang dibahas bersama catatan sebelumnya. Bagian yang dahulu belum dapat disimpulkan kini mempunyai keterangan yang lebih memadai. Dokter menjelaskan bahwa temuan tersebut tidak memberi dasar untuk menyatakan Ryan tidak dapat mempunyai anak. Namun penjelasan itu juga tidak dapat diubah menjadi jaminan mengenai kapan kehamilan akan terjadi.
Ryan meminta ditunjukkan perbedaan dengan lembar sebelumnya. Dokter menerangkan bagian yang dikonfirmasi, lalu memberinya kesempatan bertanya sampai ia tidak lagi menganggap pemeriksaan ulang sebagai hukuman karena telah datang terlambat.
Syifa mendengarkan tanpa mencari kata yang dapat dipakai membela harga dirinya di depan Dina. Ia ingin memahami apa yang benar-benar diterangkan. Untuk pemeriksaan yang telah disepakati dan dijalani keduanya, mereka tidak sedang menerima putusan bahwa Syifa adalah penyebab tunggal penantian dua tahun itu.
Pertanyaan selanjutnya menyangkut pilihan pribadi bila mereka hendak menjalani penelusuran atau perencanaan kehamilan lebih jauh. Syifa mengatakan keadaan perkawinan mereka sedang diproses dan ia tidak ingin mengambil keputusan bersama mengenai program berikut hanya karena berada di ruangan yang sama.
Dokter menerima penjelasan tersebut. Tidak ada jadwal untuk keduanya yang langsung dibuat tanpa persetujuan. Ryan dapat mengurus kebutuhan kesehatan pribadinya, sebagaimana Syifa dapat menanyakan pilihannya sendiri.
Ryan memegang kertas lebih erat. Di wajahnya muncul sesuatu yang serupa dengan kecewa, tetapi ia tidak meminta dokter meyakinkan Syifa agar berubah pikiran. Ia menanyakan keterangan apa yang perlu disimpannya dan ke mana harus menghubungi jika masih ada hal yang tidak dipahami.
Di luar ruangan, ia membayar urusan yang menjadi bagiannya dan memastikan bukti tidak tertinggal pada meja. Syifa menunggunya dekat pintu, menyisakan kursi untuk orang yang baru datang.
'Berarti poin yang itu sudah kita jalankan,' kata Ryan ketika mendekat.
Syifa mengangguk. 'Kita berdua sudah datang dan mendengar penjelasannya.'
'Kamu tidak akan bilang aku menghindar lagi?'
'Untuk yang sudah kamu lakukan, tidak.'
Ryan melihat berkasnya. Ia mengatakan dahulu merasa malu jika harus menjalani pemeriksaan yang tidak pernah dibicarakan dengan teman-temannya. Ketika Syifa mengajak, ia memilih menganggap perempuan itulah yang perlu mencari jawaban.
'Lebih mudah bilang kamu yang periksa,' katanya.
Syifa tidak segera menjawab. Selama ini ia telah membantah dugaan tersebut dengan mengingatkan bahwa perkawinan mereka dijalani berdua. Mendengar Ryan menyebut alasan yang sesungguhnya tidak mengubah hari-hari ketika ia harus menahan pertanyaan seorang diri.
'Tapi aku yang menerima omongan Mama,' katanya akhirnya.
Ryan mengangguk pelan.
'Aku tahu sekarang.'
'Bukan baru sekarang itu terjadi, Mas.'
'Iya.'
Keduanya berjalan keluar. Ryan menawarkan mengantar Syifa ke toko, lalu baru mengingat mereka datang dengan kendaraan berbeda. Ia tertawa tanpa suara, sedikit malu karena pikirannya masih mengikuti kebiasaan pergi bersama.
Syifa menunjukkan tempat kendaraannya diparkir. Mereka tidak perlu membuat perjalanan tambahan untuk mengembalikan barang hanya supaya dapat duduk berdampingan. Ryan mengiyakan dan mengatakan ia akan kembali ke toko setelah membeli kebutuhan untuk dirinya.
Sebelum berpisah, ia menanyakan apa yang akan dikatakan kepada Dina. Syifa menjawab ia tidak akan memberikan seluruh hasil milik Ryan. Namun ia ingin tuduhan yang dahulu dibiarkan itu dihentikan.
Ryan mengatakan ia akan bicara. Perempuan itu tidak menyebut janji tersebut sudah ditunaikan. Ia hanya mengangguk, menunggu tindakan yang dapat didengarnya sendiri kelak.
Di toko, Hadi sedang menata lembar penerimaan barang. Syifa meletakkan map klinik dalam tas, bukan di antara dokumen usaha yang dapat dibuka pegawai. Ia kemudian menanyakan apakah ada perbedaan antara daftar dan kiriman.
Ada satu kain pelapis yang warnanya tidak sesuai pilihan pelanggan. Hadi sudah memisahkannya dan menunggu jawaban pemasok, sehingga belum ada barang yang dikerjakan menggunakan bahan keliru. Syifa memeriksa contoh yang dahulu disetujui dan meminta foto keduanya disimpan berdampingan.
Ryan tiba ketika ia hendak menelepon pelanggan. Ia membawa kantong kecil, meletakkannya pada meja miliknya, lalu mendekat untuk mendengar persoalan barang.
Pemasok membalas sebelum toko tutup. Bahan yang benar tersedia dan dapat ditukar pada pengiriman esok. Hadi meminta konfirmasi jumlah, sementara Syifa menjelaskan pilihan itu kepada pelanggan. Orang tersebut tetap memilih warna semula dan bersedia menunggu setelah melihat foto barang yang dipisahkan. Syifa mencatat persetujuannya, lalu meminta bahan pengganti diperiksa sebelum dipakai. Ryan menyerahkan bagian pembicaraan yang sudah diselesaikannya kepada Hadi agar tidak dikerjakan dua kali.
Percakapan berlangsung mengenai warna dan waktu kerja. Tidak ada orang yang perlu mengetahui dari mana mereka baru pulang untuk dapat meneruskan tugasnya. Syifa merasa lega karena hari itu dapat kembali mempunyai pekerjaan biasa setelah sebuah janji yang lama ditunda akhirnya benar-benar dijalankan.
Menjelang sore ia membuka perjanjian di rumah. Pada catatannya sendiri, ia menuliskan tanggal pemeriksaan terakhir dan menyimpan keterangan terkait dalam map terpisah. Poin keempat tidak lagi menjadi ancaman yang terus dipindahkan ke hari lain.
Ia berhenti sebelum halaman ditutup. Masih ada sidang dengan pakaian akad, masih ada definisi toko dan persoalan uang. Ryan telah melakukan sesuatu yang dahulu ditolaknya. Syifa dapat mencatat itu sebagai kenyataan tanpa menghapus alasan mengapa ia tetap menyiapkan perceraian.