Syifa sedang membuka kardus kecil ketika seorang perempuan datang bersama Dina. Ia mengenali wajah kerabat itu dari beberapa pertemuan keluarga Ryan, meskipun selama ini mereka tidak pernah berbicara lama. Dua gelas yang dibawanya dari dapur diletakkan di meja sebelum ia menanyakan kabar.
Dina duduk paling dekat pintu. Ia melihat kardus berisi barang rumah yang belum selesai dikeluarkan, lalu bertanya apakah Syifa hendak berpindah.
'Bukan, Mah. Barang lama saya rapikan.'
Perempuan yang datang bersamanya mengangguk seolah pertanyaan tersebut hanya pembuka. Ia lalu mengatakan kabar mengenai gugatan sudah terdengar. Menurutnya, sayang bila rumah tangga diakhiri ketika orang masih dapat mencoba berbicara.
Syifa memindahkan kardus agar tidak menghalangi jalan. Ia duduk, mendengarkan sampai kalimat tamunya selesai. Ada bagian mengenai kesabaran perempuan, bagian mengenai keadaan Ryan yang dianggap tidak mudah, dan bagian mengenai anak yang katanya dapat membuat hati berubah.
'Ryan memang salah,' ujar perempuan itu. 'Tapi kalau dia menikah karena terdesak, mungkin kalian bisa pelan-pelan.'
Syifa melihat Dina. Ibu mertuanya membetulkan letak tas tanpa menanggapi asal kalimat tersebut.
'Terdesak oleh siapa?' tanya Syifa.
'Saya dengar ada urusan keluarga Sherly. Jangan-jangan kamu belum tahu semuanya.'
'Saya tahu yang dulu Ryan ceritakan. Saya juga tahu ada bagian yang berbeda dari cerita itu.'
Tamu tersebut menunggu. Syifa dapat mengambil telepon, menunjukkan laporan, lalu membuat ruangan itu penuh bukti yang selama ini dibawanya kepada Lestari. Namun pintu depan terbuka dan seorang tetangga baru melewati jalan di luar.
Ia tidak ingin riwayat perkawinannya berubah menjadi bahan yang dapat diulang lengkap dengan wajah Sherly dan jumlah uang yang belum selesai diperiksa.
'Saya tidak akan membicarakan seluruh keterangan pribadi di sini,' katanya. 'Kalau ada yang ingin ditanyakan kepada Ryan, sebaiknya dia sendiri yang menjawab.'
Dina mengatakan putranya masih bekerja. Syifa menjawab ia dapat menunggu jika memang ingin mendengar penjelasan dari orang yang bersangkutan. Ia tidak mengusir, tetapi juga tidak mengisi kekosongan dengan membela setiap keputusan yang telah diambil.
Perempuan itu minum, kemudian bertanya apakah toko akan tetap diberikan. Syifa merasakan pembicaraan beralih ke tempat yang sudah diduganya.
'Masih dibahas dengan jelas. Belum ada perpindahan kepemilikan.'
'Tapi jangan sampai Ryan merasa dibohongi juga.'
Syifa mengatupkan tangan. Ia tidak menyukai kata juga, seolah dua tahun perkawinannya dapat diseimbangkan begitu saja dengan harapan Ryan memperoleh barang. Namun ia mengakui perjanjian mengenai toko tidak boleh dibiarkan dengan arti yang sengaja berbeda.
'Itu sebabnya saya minta pembahasannya tertulis,' jawabnya.
Dina menatapnya, mungkin baru menyadari jawaban itu tidak sama dengan ancaman untuk mengambil semuanya kembali. Syifa tidak menjanjikan bangunan atau usaha saat itu. Ia hanya tidak memberi ruang bagi tamu menyimpulkan bahwa kunci toko telah sah menjadi milik Ryan.
Telepon berbunyi dari dalam tasnya. Hadi meminta persetujuan mengenai waktu pengiriman berikutnya. Syifa meminta izin menjawab sebentar, lalu berdiri agak menjauh supaya suara pelanggan tidak diperdengarkan kepada orang yang tidak berkepentingan.
Ketika kembali, tamunya menanyakan mengapa Syifa sekarang begitu sibuk mengurus usaha. Perempuan itu menjawab bahwa ada pekerjaan yang memang perlu diketahuinya sebagai pemilik. Dina tidak menyela, tetapi meletakkan gelas dengan bunyi yang cukup keras.
Ryan pulang sebelum pembicaraan berakhir. Ia terkejut melihat tamu, lalu menyapa dan bertanya apakah ada keperluan khusus. Ibunya menjawab mereka ingin membantu supaya semua orang berpikir lebih tenang.
Syifa mengambil satu gelas tambahan. Ia tidak meninggalkan ruangan agar Ryan dapat menceritakan versi yang tidak didengarnya, tetapi juga tidak berdiri di samping kursi seperti hendak menuntut jawaban di depan umum.
Kerabat itu mengulang kalimat mengenai perkawinan kedua yang terjadi karena tekanan. Ryan memandang ibunya, lalu beralih kepada Syifa. Untuk beberapa saat ia tampak hendak menerima saja keterangan yang dapat mengurangi kesalahannya.
'Dulu aku memang bilang ada urusan yang membuatku harus menikah,' katanya akhirnya.
'Nah, itu yang saya dengar.'
'Tapi aku sudah berhubungan dengan Sherly sebelum itu.'
Dina menegakkan punggung. Ryan menatap gelas yang baru diletakkan Syifa, lalu mengatakan hubungan tersebut tidak dimulai karena orang tua Sherly meminta pertolongan. Ia telah menyembunyikannya dari istrinya.
Kerabat itu berhenti mengangguk. Ia menanyakan berapa lama, dan Ryan mengusap tengkuk sebelum menjawab bahwa kedekatan mereka telah berjalan sekitar setahun.
Suara di ruangan terasa lebih pelan. Syifa mendengar pengakuan yang informasinya tidak baru, tetapi berbeda ketika keluar dari mulut Ryan tanpa harus ia lemparkan bukti di meja.
Ia tidak merasa menang seperti yang pernah dibayangkannya. Yang dirasakannya justru letih karena kalimat sederhana itu dapat menghemat begitu banyak pertengkaran jika dikatakan sejak awal.
Dina mengatakan setiap orang dapat melakukan kesalahan. Ryan mengiyakan, tetapi tidak memakai kalimat tersebut untuk menarik kembali pengakuannya. Ia mengatakan pembicaraan mengenai gugatan dan toko sedang dijalani, dan tidak semua dapat diputus melalui kunjungan keluarga sore itu.
Tamu mereka menghabiskan air. Ia tidak langsung menyatakan sepakat dengan Syifa, tetapi tidak kembali menyebut Ryan dipaksa menikah sebagai alasan untuk meminta perempuan itu mengalah.
Menjelang pamit, Syifa mengembalikan wadah makanan yang dibawa Dina pada kunjungan sebelumnya. Ryan membantu mengambil tas ibunya, lalu mengantar keduanya sampai gerbang. Tidak ada permintaan agar Dina kehilangan rumahnya atau Sherly dipindahkan kembali ke rumah Syifa.
Setelah tamu pulang, Ryan berdiri di ruang depan.
'Aku sudah bilang,' katanya.
Syifa mengangguk. 'Aku dengar.'
Ia tidak menambahkan ucapan terima kasih karena Ryan akhirnya mengakui perbuatannya sendiri. Ia juga tidak mengecilkan bahwa pengakuan tersebut sungguh terjadi. Syifa mengambil gelas, membawanya ke dapur, lalu kembali merapikan kardus. Barang yang semula hanya separuh dikeluarkan kini dapat ditaruh pada tempatnya sebelum malam. Di dasar kardus ia menemukan cangkir Salimah yang dibungkus kain. Pegangannya masih utuh. Syifa membukanya perlahan, mencuci bagian yang berdebu, lalu menaruhnya di rak yang mudah dijangkau. Ia ingin memakainya besok pagi, bukan membiarkannya kembali tersimpan sampai kunjungan berikut membuat pekerjaan itu tertunda.