Syifa mencium bau bawang ketika membuka pintu rumah. Ryan berada di dapur dengan lengan digulung dan wajan yang masih diletakkan di atas kompor. Di meja ada dua piring, gelas berisi air, serta sayuran yang tidak dipotong sama besar.
'Kamu masak?' tanya Syifa.
'Kelihatan seperti apa?'
Ia tidak menjawab sindiran ringan itu. Tas diletakkan pada kursi, lalu ia mencuci tangan. Ryan menyuruhnya menunggu sebentar karena lauk belum selesai. Syifa mengambil serbet yang terlalu dekat dengan api dan memindahkannya tanpa mengubah letak barang lain.
Ryan mencoba mengangkat makanan dari wajan. Sebagian menempel, membuatnya mengeluh karena alat itu dianggap sudah tidak bagus. Syifa menunjukkan bahwa api dapat dikecilkan lebih dahulu. Lelaki itu melirik, lalu memutar tombol tanpa meminta ia mengambil alih.
Mereka baru makan setelah lauk yang semula disiapkan sudah kehilangan panas. Ryan mengatakan ia membeli bahan dalam perjalanan dari toko. Ia tidak menyebut makan malam itu bagian dari syarat, seolah ingin membedakannya dari kunjungan ke vila dan danau.
Syifa mencoba sayur. Garamnya lebih banyak daripada yang biasa ia gunakan. Ryan menanyakan rasanya dengan wajah menunggu, dan ia memilih mengatakan yang sebenarnya sebelum lelaki itu menambahkannya ke piring sendiri.
'Agak asin.'
Ryan mengambil sendok, mencicipi, lalu tertawa pendek.
'Aku menambah dua kali. Kupikir yang pertama kurang.'
'Besok kalau mau tambah, dicoba dulu.'
'Kamu sudah merencanakan aku masak lagi?'
Syifa terdiam sejenak. Ryan tersenyum, mengira gurauannya berhasil, kemudian mengambil air untuk mengurangi rasa yang tertinggal di mulut. Perempuan itu melanjutkan makan tanpa menjadikan kalimat besok sebagai janji kehidupan yang kembali seperti dahulu.
Di tengah makan, Ryan bercerita tentang pelanggan yang memeriksa meja sore tadi. Pekerjaan yang tersisa akhirnya selesai dan orang itu membawa barang setelah memastikan keadaannya. Ia tampak lega dapat menyampaikan sesuatu yang tidak harus dibela dengan alasan.
Syifa mendengarkan. Ia sudah menerima kabar dari Hadi, tetapi tidak memotong hanya untuk menunjukkan bahwa ia mengetahui lebih dahulu. Ketika Ryan menyebut satu bagian yang masih perlu diperiksa esok, ia menuliskannya pada kertas kecil di dekat meja.
'Kamu tidak bisa berhenti mencatat sekarang,' kata Ryan.
'Aku takut lupa. Besok ada beberapa pekerjaan lain.'
'Dulu kita makan tidak ada buku toko di meja.'
'Dulu juga banyak yang tidak kucatat.'
Ryan meraih piring lauk. Untuk beberapa menit mereka berbicara mengenai makanan dan barang yang perlu dibeli untuk rumah. Syifa merasakan kenyamanan yang sudah lama tidak berada di meja itu. Justru karena mengenalinya, ia tidak ingin salah menyebutnya sebagai sesuatu yang utuh.
Sesudah makan, ia membantu membawa piring ke dapur. Ryan mengatakan akan mencucinya. Perempuan itu mengelap meja dan mendengar bunyi air yang berjalan terlalu lama sebelum lelaki itu menemukan sabun.
'Aku bisa melakukan ini lagi,' katanya dari belakang.
Syifa menoleh.
'Aku tidak bilang kamu tidak bisa.'
'Maksudku, kita tidak harus terus seperti sekarang.'
Ryan mematikan keran. Ia menyeka tangan, lalu mendekat ke meja tanpa menyentuh Syifa. Makanan yang dibuatnya tampaknya memberi keberanian untuk kembali membicarakan harapan yang belum mau diterima istrinya.
Ia mengatakan perjalanan mereka tidak seluruhnya buruk. Ada bagian ketika Syifa tertawa sungguhan, bukan hanya menjawab karena diperlukan. Ia ingin tahu mengapa bagian itu tidak boleh dianggap berarti.
'Berarti,' jawab Syifa. 'Tapi tidak berarti yang lain tidak pernah terjadi.'
'Aku sudah berusaha.'
'Aku melihatnya.'
'Terus apa yang kurang?'
Syifa meletakkan kain. Pertanyaan itu terdengar seperti daftar yang dapat dilengkapi sampai ia berkewajiban menyerahkan jawaban yang disukai Ryan. Ia sendiri pernah membuat daftar agar lelaki itu menjalankan sesuatu sebelum ditinggalkan. Kini ia merasakan betapa mudah keduanya berbicara seolah hati orang lain dapat dipindahkan setelah semua kotak diberi tanda.
'Aku tidak punya tambahan syarat makan malam,' katanya. 'Aku juga tidak mau menjanjikan jawaban yang belum kurasakan.'
Ryan memandang meja yang sudah bersih. Ia bertanya apakah pembahasan toko akan lebih mudah jika Syifa tidak lagi merasa marah. Perempuan itu mengembuskan napas. Bahkan di antara piring yang baru dicuci, bayangan tentang apa yang akan diterima masih muncul.
'Kita bahas toko dengan berkasnya, Mas. Jangan ditaruh di tengah pembicaraan yang ini.'
Lelaki itu tidak menjawab. Ia kembali ke dapur dan membereskan wajan. Syifa masuk ke kamar, mengambil telepon, lalu duduk beberapa saat tanpa menghubungi siapa pun.
Athar menelepon ketika ia baru selesai memeriksa pesan kerja. Sahabatnya bertanya apakah waktu itu masih dapat digunakan berbicara. Syifa menyetujui, tetapi meminta ia menunggu sampai pintu kamar ditutup supaya suara televisi dari ruang depan tidak mengganggu.
'Ada yang terjadi?' tanya Athar setelah mendengar napasnya.
Syifa bercerita tentang makan malam. Ia tidak menertawakan masakan Ryan atau menjadikannya bukti baru bahwa lelaki itu tidak dapat mengurus dirinya. Yang membuatnya lelah justru keinginan membalas setiap ingatan hangat dengan mengingatkan luka yang lain.
'Aku yang ingin dia berharap,' katanya. 'Sekarang setiap dia berharap, aku marah.'
Athar tidak segera menawarkan kesimpulan.
'Kamu masih ingin menjalankan rencana awalmu?'
'Aku belum tahu bagaimana berhenti marah.'
'Itu berbeda dengan harus terus membuat dia jatuh cinta supaya nanti lebih sakit.'
Syifa memejamkan mata. Ia pernah mendengar Athar mendukung dirinya untuk tidak membiarkan Ryan lolos begitu saja. Kini sahabatnya tidak berpura-pura bahwa dukungan itu tidak pernah diberikan. Ia mengakui mereka sama-sama memulai dengan keinginan membalas.
Namun Athar mengatakan keputusan berikut tetap perlu dilihat dari apa yang benar-benar melindungi Syifa, bukan dari betapa kecewanya Ryan kelak.
Percakapan berakhir setelah telepon kerja masuk ke ponsel Athar. Ia meminta izin menutup untuk mengurus sesuatu yang belum selesai di kantornya. Syifa mengiyakan, lalu duduk mendengar rumah yang mulai lebih sunyi.
Di dapur, wajan sudah bersih. Ia mengambil kain yang tertinggal dekat kompor dan menjemurnya. Makan malam itu benar-benar terjadi. Ia dapat mengakuinya tanpa berjanji makan di meja yang sama untuk selamanya, dan tanpa perlu merusaknya hanya agar rencana balas dendam tetap terlihat benar.