Lestari meminta Syifa membaca kembali urutan kejadian sebelum mereka membicarakan berkas gugatan. Di meja ada beberapa salinan yang baru dilengkapi, catatan mengenai toko, serta perjanjian yang telah berkali-kali dibuka sampai tepi halamannya tidak lagi rata.
Syifa menemukan satu kejadian tertulis terlalu dekat dengan yang berikutnya. Ia menjelaskan bahwa Ryan membawa Sherly pulang lebih dahulu, sedangkan pertengkaran mengenai toko baru terjadi setelah beberapa hari. Lestari memperbaiki catatan, lalu memintanya memastikan bagian lain.
'Ada yang ingin Ibu tambahkan sebelum kita lanjut?'
Syifa berhenti pada bagian mengenai perkawinannya. Dua tahun tidak terasa singkat ketika dijalani, tetapi dapat diringkas menjadi beberapa baris dalam keterangan yang perlu dipahami orang lain. Ia teringat malam ketika Wardi dan Salimah masih ada, lalu suara rumah yang berubah sesudah keduanya meninggal.
Ia meminta waktu sebentar sebelum meneruskan.
Lestari tidak mengisi keheningan dengan pertanyaan baru. Ia menyusun salinan yang sudah diperiksa, memisahkannya dari bagian yang masih menunggu kelengkapan. Syifa meneguk air dan kembali membaca.
Pembicaraan selanjutnya menyangkut apa yang hendak dimohonkan dan keterangan yang mendukungnya. Lestari menjelaskan bagian yang akan disiapkan serta hal yang belum dapat dianggap diputus hanya karena Syifa menginginkannya. Gugatan juga tidak dengan sendirinya menyelesaikan seluruh pertengkaran mengenai uang dan janji toko.
Syifa menanyakan apakah Ryan harus menyetujui setiap kalimat agar ia dapat meneruskan langkah. Mereka membicarakan proses yang akan ditempuh tanpa membuat perjanjian pribadi itu seolah dapat mengatur seluruh tindakan pengadilan.
Ketika sampai pada syarat pakaian akad, Lestari memandangnya lebih lama.
'Ibu masih ingin menjalankan bagian ini?'
Syifa mengangguk. Ia ingin Ryan melihat lagi pakaian yang dipakainya ketika berjanji di depan keluarganya. Keinginan itu belum hilang, walaupun kini terdengar lebih sulit ketika harus dijelaskan kepada orang yang tidak ikut menyimpan kenangan tersebut.
'Bagian itu pernah membuat saya merasa punya kendali,' katanya.
'Baik. Tapi jangan sampai urusan pakaian membuat Ibu merasa tidak boleh hadir atau menunda langkah kalau keadaan tidak sesuai rencana.'
Syifa mencatatnya. Ia tidak ingin sebuah baju mendapat kuasa baru untuk menghentikan keputusan yang justru hendak dibuatnya sendiri. Mereka kembali memeriksa dokumen sebelum pertemuan berakhir.
Di luar kantor, ia menghubungi Hadi. Kursi pesanan akhirnya dapat diselesaikan setelah bagian yang benar sampai. Pegawai sedang memeriksa barang sebelum memastikan waktu penggantian kursi sementara kepada pelanggan.
Syifa meminta kabar setelah pemeriksaan selesai. Ia akan datang ke toko sebelum pulang, tetapi tidak perlu menghentikan pekerjaan hanya untuk menunggunya menyentuh setiap barang.
Ketika ia tiba, salah satu kursi sudah diletakkan pada lantai yang rata. Pegawai mencoba sandarannya dan menunjukkan sambungan yang kemarin belum dapat dipasang. Syifa memeriksa bersama Hadi, lalu menanyakan apakah pelanggan sudah mendapat pilihan waktu.
Pelanggan dapat menerima penggantian sore hari. Kursi sementara akan dihitung kembali saat diambil, bukan ditinggalkan tanpa tanda. Ryan sedang mengatur kendaraan dan tidak perlu diingatkan untuk memisahkan barang yang dibawa dari barang yang akan kembali.
Syifa memberi tahu ia hendak pulang setelah satu urusan selesai. Ryan mengira ia ingin membicarakan toko lagi dan menyiapkan jawaban pendek.
'Bukan sekarang. Aku mau mengambil baju akad.'
Wajah Ryan berubah. Ia bertanya apakah tanggal sidang sudah ada.
'Belum. Aku sedang melengkapi persiapannya.'
'Kenapa buru-buru mengeluarkan baju kalau belum ada tanggal?'
'Karena aku belum tahu keadaannya setelah disimpan.'
Ryan tidak melanjutkan. Syifa mengambil tas dan pulang sebelum kendaraan pengiriman berangkat. Di rumah ia membuka lemari yang berbeda dari tempat arsip ayahnya. Kotak pakaian berada di bagian atas, terbungkus agar tidak terkena debu.
Ia menurunkannya perlahan. Bau kain yang lama disimpan muncul ketika penutup dibuka. Baju itu masih dapat dikenali seketika, meskipun bagian yang dahulu tampak begitu cerah kini terlihat berbeda di bawah cahaya kamar.
Syifa membentangkannya pada kasur dan memeriksa jahitan. Ada pengait yang longgar serta bagian kecil yang perlu dibersihkan dengan cara yang tidak merusak kain. Ia memotret bagian tersebut sebelum menghubungi orang yang biasa menerima perbaikan pakaian di kampung.
Percakapan berlangsung singkat. Ia menjelaskan yang ingin diperbaiki tanpa mengatakan sedang menyiapkan pesta. Orang itu meminta melihat barangnya lebih dahulu. Karena tempatnya masih buka, Syifa membawa baju dalam kantong terpisah dan berjalan ke sana.
Di meja jahit, pengait diperiksa sebelum kain ditarik. Penjahit menunjukkan benang yang sudah terlepas dan meminta Syifa mencoba apakah bagian lain masih nyaman. Perempuan itu berganti di tempat yang disediakan, lalu berdiri sejenak tanpa tersenyum kepada cermin. Ukurannya masih dapat dipakai. Penjahit dapat memasang kembali pengait itu sambil Syifa menunggu. Setelah jahitannya diperiksa, ia menerangkan cara membersihkan bagian yang terlihat kusam tanpa menarik hiasannya. Syifa mencatat penjelasan tersebut dan membayar pekerjaan yang sudah selesai. Ia membawa bajunya pulang dalam kantong yang sama, lalu membentangkannya sebentar sebelum disimpan kembali.
Ryan pulang ketika ia hendak memasukkan baju kembali. Ia berdiri di dekat pintu kamar, memandangi kain yang pernah dilihatnya pada hari akad.
'Kamu masih menyimpannya rapi.'
'Itu baju yang kupakai waktu menikah.'
'Aku tahu.'
Syifa melipat lengan dengan hati-hati. Ryan mengatakan ia masih ingat bagaimana dirinya menunggu sebelum acara dimulai, takut salah menjawab sesuatu yang sudah berulang kali dilatih. Perempuan itu mendengarkan, tetapi tidak membantu mengubah ingatan tersebut menjadi alasan agar persoalan hari ini dilupakan.
'Bajumu ada di mana?' tanyanya.
Ryan tidak langsung menjawab. Ia membuka bagian lemarinya, mencari di antara pakaian yang jarang digunakan, lalu mengeluarkan kantong yang berbeda. Keduanya memeriksa keadaan baju masing-masing tanpa mencoba berdiri bersama di depan cermin.
Ponsel Syifa berbunyi. Hadi mengabarkan kursi pesanan sudah diterima dan kursi sementara kembali dengan jumlah sesuai. Perempuan itu berterima kasih, meminta bukti disimpan, lalu menutup percakapan.
Satu pekerjaan akhirnya selesai tanpa perlu dibuat seolah tidak pernah bermasalah. Syifa memandang baju di tangannya. Yang ini belum selesai. Ia hanya mengetahui pengait mana yang harus diperbaiki, dan langkah apa yang harus dibawanya kepada Lestari pada pertemuan berikut.