Kipas yang dibawa Dina dari ruang tengah berputar di depan pintu kamar. Sherly duduk pada tepi ranjang dengan rambut diikat asal. Udara terasa lebih mudah bergerak ketika pintu terbuka, tetapi setiap langkah mertuanya dapat terlihat dari tempatnya duduk.
Ia meraih gelas dan mendapati airnya tinggal sedikit. Di ruang depan televisi masih menyala. Dina sedang menonton sambil melipat pakaian, sesekali mengangkat kepala ketika Sherly lewat menuju dapur.
'Mau makan lagi?' tanyanya.
'Minum, Mah.'
'Lauknya masih ada kalau mau.'
Sherly mengangguk tanpa mengambil piring. Ia tidak sedang ingin berdebat mengenai makanan. Sejak Ryan pergi bersama Syifa, banyak pertanyaan yang semula diarahkannya kepada suami kini kembali kepadanya melalui jawaban Dina yang pendek.
Ia mengisi gelas, membawa sepotong buah yang tadi disisihkan, lalu kembali ke kamar. Ponsel yang ditinggalkan pada ranjang memperlihatkan pesan baru. Nama yang muncul membuat langkahnya berhenti.
Lelaki yang diteleponnya pada malam itu bertanya mengapa ia tidak mengangkat panggilan sebelumnya. Sherly membaca, lalu melihat ke pintu. Dina tidak mengikutinya, tetapi suara televisi membuatnya tidak yakin seberapa jauh percakapan biasa dapat terdengar.
Ia menjawab bahwa tidak bisa menelepon.
Balasan datang cepat. Lelaki itu mengingatkan bahwa dulu Sherly sendiri yang mencarinya ketika ia mempunyai masalah. Sekarang, setelah menikah, ia seolah tidak mengenal orang yang pernah mendengarkan semua rencananya.
Sherly mematikan layar. Selama beberapa menit ia hanya memandang gelas yang baru dibawa. Ia tahu suara pria itu tidak didengar Dina ketika pintu dibuka. Namun pertanyaan mengenai siapa yang diajak bicara belum hilang dari rumah.
Ponsel kembali bergetar.
Kali ini lelaki itu meminta bertemu. Ia mengatakan ada urusan yang tidak ingin dibicarakannya melalui pesan. Sherly membalas bahwa ia tidak akan pergi malam itu dan meminta apa yang diperlukan ditulis saja.
Pesan berikutnya lebih panjang. Ada permintaan uang yang tidak dijelaskan dengan bukti, disertai keluhan mengenai janji Sherly pada masa mereka masih sering bertemu. Perempuan itu membacanya dua kali, berusaha memisahkan apa yang benar-benar pernah dikatakannya dari kalimat yang sengaja dibuat untuk menakutinya.
Ia memang pernah mempunyai hubungan dengan lelaki tersebut. Ia juga pernah membicarakan Ryan dengan cara yang kini tidak ingin diingatnya. Tetapi ia tidak merasa sudah menyetujui setiap jumlah yang dapat diminta setelah keadaan berubah.
'Aku tidak akan kirim uang hanya karena kamu menyuruh,' ketiknya.
Ia menghapus kalimat itu sebelum dikirim. Setelah menarik napas, ia menulis permintaan agar lelaki itu menjelaskan apa yang dianggap belum diselesaikan. Tidak ada janji membayar atau datang yang ditambahkannya.
Dari ruang depan, Dina memanggil.
Sherly meletakkan ponsel menghadap ke bawah dan keluar membawa gelas. Mertuanya menunjuk beberapa pakaian yang sudah dilipat, meminta ia membawa bagian miliknya agar kursi dapat dipakai.
'Ryan belum menghubungi kamu?' tanya Dina.
'Belum, Mah.'
'Mama tadi kirim pesan. Dia masih di toko.'
Sherly mengambil pakaian. Ia ingin mengatakan bahwa bekerja tidak membuat seseorang kehilangan seluruh waktu untuk menanyakan kabar istri. Namun ia tahu Dina akan menjawab dengan Syifa dan perjanjian itu lagi.
'Kebutuhan yang saya tulis sudah Mama sampaikan?'
'Sudah. Jangan semuanya harus selesai sekaligus.'
'Saya cuma ingin tahu dia menjawab apa.'
Dina mematikan televisi sebentar. Ia mengatakan Ryan masih berusaha memastikan toko yang dijanjikan kepadanya. Jika Sherly terus menambah pertengkaran, anaknya akan semakin sulit menyelesaikan urusan dengan Syifa.
Sherly berdiri dengan tumpukan kain di tangan. Ia tidak menyukai cara hidupnya sekarang diletakkan di belakang urusan toko. Sebelum menikah, Ryan selalu menemukan kata untuk meyakinkan bahwa semuanya dapat diatur. Kini setiap jawaban membutuhkan kesabaran dari pihaknya.
'Saya bukan barang yang ditaruh dulu sampai tokonya selesai, Mah.'
Dina menatapnya. 'Tidak ada yang bilang kamu barang.'
'Tapi saya disuruh menunggu terus.'
'Kamu tahu dari awal dia punya istri.'
Ucapan itu membuat Sherly terdiam. Ia memang tahu. Mengetahui tidak membuat keinginannya dipenuhi sekarang, dan tidak memberinya jawaban yang dapat digunakan untuk menutup pembicaraan.
Ia membawa pakaian ke kamar. Dina menyalakan televisi kembali, lebih keras daripada sebelumnya. Pintu tetap dibiarkan terbuka karena kipas berada di dekatnya.
Di layar ponsel ada dua pesan tambahan. Lelaki itu mengatakan Sherly tidak dapat terus bersembunyi di belakang pernikahan barunya. Ia menyebut sesuatu dari percakapan lama mereka dan menanyakan apakah Ryan sudah mengetahui semuanya.
Sherly duduk, meremas tepi kain di pangkuannya. Ia hampir menelepon untuk menyuruhnya berhenti, lalu teringat betapa mudahnya suara sendiri terdengar dari ruang depan.
Ia memilih menjawab melalui tulisan. Ia meminta lelaki itu tidak menghubungi orang lain untuk menekannya dan mengulangi bahwa setiap tuntutan harus dijelaskan. Setelah pesan terkirim, ia menyimpan percakapan itu, bukan menghapusnya seperti yang semula terpikir.
Tangannya masih gemetar ketika ia mengambil buah. Ia makan sedikit agar tidak duduk memandangi layar terus. Sesudah itu ia membuka nomor Ryan dan menulis bahwa dirinya ingin bicara mengenai kebutuhan yang sudah dititipkan kepada Dina.
Sebelum mengirim, ia membaca ulang pesannya kepada Ryan. Kalimat tentang datang malam itu dihapus karena ia tahu suaminya akan menjadikannya pertengkaran mengenai perjanjian. Ia menulis kebutuhan yang paling mendesak saja, tanpa mengarang keadaan darurat agar Ryan terpaksa datang.
Ia belum menambahkan persoalan lelaki tersebut. Ia tahu menyembunyikannya dapat menambah kesulitan, tetapi belum sanggup membayangkan pertanyaan yang akan datang jika Ryan melihat percakapan itu.
Balasan suaminya masuk ketika Dina mematikan lampu ruang tengah. Ryan mengatakan akan menyampaikan uang untuk keperluan yang sudah dicatat melalui ibunya. Untuk pembicaraan lain, ia meminta Sherly bersabar sampai bisa diatur.
Sherly membaca kata bersabar tanpa menjawab. Ia memindahkan pakaian ke rak sempit, merapikan gelas agar tidak tersenggol, lalu meletakkan ponsel di tempat yang masih dapat dilihatnya. Kipas terus berputar di pintu. Malam berjalan tanpa panggilan baru, tetapi percakapan yang disimpannya kini terasa memenuhi kamar lebih banyak daripada barang-barang yang dibawanya dari rumah Syifa.