Pada awal pekan ketiga sejak Ryan membawa Sherly ke rumah, Syifa duduk di samping Lestari dengan berkas yang sudah diperiksa kembali. Ia tidak membawa seluruh isi lemari. Dokumen yang diminta telah dipisahkan, sedangkan salinan cadangan diletakkan di bagian tas yang berbeda.
Di tempat pendaftaran, ada keterangan yang perlu dicocokkan sebelum proses dilanjutkan. Syifa menjawab pertanyaan mengenai alamatnya dengan menyebut rumah yang selama ini ditempatinya. Alamat Dina tidak digunakan sebagai alamat suaminya hanya karena Sherly tinggal di sana.
Lestari meminta ia melihat kembali halaman yang ditunjukkan. Syifa membaca nama, keterangan perkawinan, dan bagian lain yang sempat terasa sulit ketika disusun. Ia mengangguk setelah memastikan yang tercantum sesuai dengan keputusan yang diberikannya.
Pekerjaan itu memerlukan waktu menunggu. Syifa membeli air ketika diberi kesempatan keluar sebentar, lalu kembali ke kursi yang sama. Tidak ada Ryan yang harus disenangkan pada pagi itu. Yang ada justru rasa takut karena langkah yang beberapa hari hanya diucapkan kini benar-benar sedang dilakukan.
Ia memandang map di tangannya. Kalimat ingin bercerai dahulu dapat keluar bersamaan dengan marah. Duduk di sini tidak membuat marahnya hilang, tetapi juga memberinya cukup waktu untuk membayangkan kehidupan setelah keputusan tersebut tidak lagi dapat disembunyikan di balik pertengkaran.
Ketika berkas diterima melalui proses yang sedang ditempuh, Syifa menyimpan keterangan yang diberikan. Lestari menjelaskan apa yang akan mereka tunggu berikutnya dan bagian yang belum boleh dianggap selesai. Syifa mencatatnya pada halaman baru, tidak menulis tanggal perceraian yang belum ada.
Sebelum berpisah, ia memeriksa kembali keterangan biaya yang telah disetujuinya dengan Lestari. Bukti pembayaran disimpan bersama catatan perkara, terpisah dari kuitansi toko. Ia meminta diberi tahu jika ada kebutuhan lain sebelum mengeluarkan uang, supaya tidak mengira setiap permintaan melalui telepon berasal dari pendampingnya.
Di luar, ia mengirim pesan kepada Hadi bahwa dirinya akan datang sesudah makan. Ia lalu menghubungi Ryan. Bukan untuk meminta izin setelah langkah ditempuh, melainkan memberitahukan sesuatu yang akan memengaruhi keduanya.
'Aku sudah mengurus pendaftaran hari ini,' katanya.
Ryan tidak menjawab beberapa saat.
'Kamu benar-benar mengajukan?'
'Iya.'
'Bukannya kita belum selesai membahas toko?'
'Itu masih harus dibahas. Aku tidak mengatakan semuanya sudah selesai.'
Ryan menanyakan apakah Syifa sengaja menunggu dirinya bekerja agar ia tidak dapat datang. Perempuan itu menjawab bahwa persiapan sudah berkali-kali dibicarakan. Ia tidak menyembunyikan tujuannya ketika menemui Lestari.
Lelaki itu mengakhiri percakapan dengan suara pendek. Syifa menatap layar yang kembali gelap, kemudian memasukkannya ke tas. Ia tidak menelepon Athar untuk meminta seseorang mengatakan bahwa hari itu berjalan sempurna. Ia perlu makan sebelum kembali menghadapi pekerjaan.
Beberapa hari kemudian, pemberitahuan kepada Ryan berlangsung melalui proses yang telah diterangkan, bukan melalui kabar dari tetangga. Lelaki itu membaca keterangan yang diterimanya sampai dua kali. Syifa berada di rumah ketika ia datang membawa kertas tersebut.
'Kamu puas sekarang?'
Syifa meletakkan kain yang baru diangkat dari jemuran.
'Aku tidak sedang merayakan apa-apa.'
'Aku sudah menuruti yang kamu minta.'
'Belum semua. Dan sejak awal ini perjanjian sebelum cerai, Mas. Bukan janji aku membatalkan cerai kalau kamu mau ikut ke vila.'
Ryan memandang kertas di tangannya. Ia mungkin sudah mengetahui kalimat itu, tetapi selama beberapa hari berharap perjalanan dan perhatian yang kembali muncul dapat membuat artinya berubah.
Syifa memintanya membaca keterangan tentang langkah berikutnya. Jika ada yang tidak dipahami, ia dapat bertanya melalui cara yang sesuai, bukan menjadikan setiap halaman sebagai alasan untuk menuntut jawaban ketika keduanya sedang marah.
Ryan masuk ke kamar. Pintu tidak dibanting, tetapi ditutup cukup keras untuk membuat Syifa berhenti melipat. Perempuan itu menunggu bunyinya reda, lalu mengambil kembali kain yang terjatuh dari pangkuannya.
Di rumahnya sendiri, Dina menerima telepon dari putranya menjelang sore. Ia sedang mencuci wadah ketika mendengar kata pendaftaran. Air dibiarkan mengalir sebentar sebelum ia menyadari tangannya sudah tidak bergerak.
Ia bertanya apakah toko telah dijamin akan menjadi milik Ryan. Putranya menjawab belum ada pembicaraan yang membuatnya tenang. Dina menutup keran, menyeka tangan, lalu mengatakan akan datang.
Sherly muncul di pintu kamar ketika mertuanya mengambil kerudung.
'Mau ke mana, Mah?'
'Bicara sama Ryan.'
'Tentang apa?'
Dina menjelaskan singkat. Sherly melihat wajahnya, lalu bertanya apakah ia perlu ikut. Mertuanya menolak. Sherly masih tinggal di rumah itu sesuai kesepakatan yang belum diubah, dan kehadirannya hanya akan menambah pertengkaran.
Dina berjalan ke rumah Syifa. Ia tidak langsung masuk karena gerbang tertutup. Setelah dipanggil, Ryan keluar dan membukanya. Syifa masih berada di ruang depan, dengan pakaian bersih yang sudah selesai dilipat.
'Kenapa sampai didaftarkan sekarang?' tanya Dina.
Syifa mempersilakannya duduk sebelum menjawab. Ia mengatakan niatnya tidak baru muncul hari itu. Dina mendengar langsung permintaan cerai serta menyaksikan penandatanganan lima syarat.
'Mama pikir kalau kalian sudah pergi bersama, bisa berubah.'
'Saya tidak pernah menjanjikan itu, Mah.'
Dina menoleh kepada putranya. Ryan tidak membantu membenarkan harapan tersebut. Ia hanya meminta ibunya bicara lebih pelan karena jendela depan masih terbuka.
Syifa mengambil air untuk tamu. Ketika kembali, ia meminta agar pembicaraan mengenai rumah dan toko tidak dicampur menjadi ancaman. Ia tidak akan menyelesaikan semuanya dalam satu sore hanya karena kertas pemberitahuan sudah diterima Ryan.
Dina akhirnya minum. Ia belum menerima keputusan Syifa, tetapi tidak memperoleh kalimat yang dapat dibawa pulang sebagai janji pembatalan. Setelah percakapan berakhir, Ryan mengantarnya sampai gerbang tanpa mengikuti ke rumah ibunya.
Syifa memeriksa salinan yang disimpannya sekali lagi sebelum tidur. Pagi ketika berangkat mengurus pendaftaran sudah terasa jauh, padahal kehidupan di rumah masih penuh suara yang sama. Ia mengembalikan kertas ke map, menaruhnya pada tempat yang aman, lalu menyiapkan pakaian kerja untuk esok. Langkah berikutnya belum berlangsung. Namun ia tidak lagi harus berpura-pura bahwa semua yang terjadi hanya pertengkaran yang akan dilupakan setelah makan malam.