Mereka makan di tempat yang tidak jauh dari klinik. Ryan memilih meja dekat dinding dan meletakkan kertas jadwal pada kursi kosong. Syifa memindahkannya ke dalam tas sebelum pelayan datang membawa minuman.
Ryan menunggu sampai makanan diletakkan, kemudian menanyakan apakah ia merasa lebih tenang sesudah pagi itu.
'Aku senang kamu akhirnya datang,' jawab Syifa.
'Kalau nanti ternyata kita masih bisa punya anak, kamu mau memikirkan lagi?'
Sendok Syifa berhenti di atas piring. Ryan tidak perlu menjelaskan apa yang hendak dipikirkan. Ia sudah melihat arah pembicaraan itu sejak lelaki tersebut mulai bertanya mengenai hasil yang belum mereka terima.
'Kamu berharap pemeriksaan tadi membatalkan yang lain?'
'Aku cuma bertanya. Kita dulu sama-sama ingin.'
'Aku masih ingin punya anak. Tapi masalah kita bukan cuma belum punya anak.'
Ryan mengambil gelas, meneguk air, lalu mengatakan tidak semua kesalahan harus berakhir dengan perceraian. Syifa mendengar kalimat itu sambil melihat kendaraan yang lewat di luar. Ia pernah menghabiskan banyak malam memikirkan bagaimana membuat rumah mereka lebih tenang. Pada malam yang sama, Ryan mempunyai orang lain untuk didatangi.
'Aku tidak akan memutuskan sesuatu hanya karena kamu sekarang datang ke klinik,' katanya.
'Berarti apa pun yang kulakukan tidak ada gunanya?'
'Ada gunanya buat pemeriksaanmu. Ada gunanya karena ini bagian yang kamu setujui. Tapi bukan berarti semua yang lain hilang.'
Ryan menunduk dan mulai makan. Syifa membiarkannya. Ia tidak ingin menjelaskan luka yang sama sampai nasi mereka dingin, lalu pulang dengan janji baru yang tidak mempunyai tindakan.
Telepon dari Hadi masuk ketika mereka hampir selesai. Kendaraan pemasok yang membawa bagian kursi sudah tiba, tetapi salah satu peti mempunyai tanda yang tidak sesuai dengan pesanan. Sopir hendak segera melanjutkan perjalanan dan meminta toko menerima dahulu agar bongkaran tidak menghambat pengiriman berikut.
Syifa menanyakan apakah peti sudah dibuka. Hadi mengatakan belum karena daftar di luarnya berbeda dan jumlahnya harus dipastikan sebelum tanda terima diberikan.
'Saya pulang ke toko sekarang. Minta tunggu sebentar, Pak.'
Ryan meminta telepon dan menanyakan siapa sopirnya. Ia mengenali nama yang disebut, lalu mengatakan pemeriksaan tidak akan lama apabila barang ditempatkan di sisi yang dapat dibuka tanpa menutup jalan.
Mereka membayar makanan dan segera berangkat. Sepanjang perjalanan, pembicaraan mengenai anak tidak diteruskan. Ryan mengemudi sambil menelepon pemasok menggunakan sambungan yang dapat dipakai tanpa memegang ponsel, menanyakan apakah ada perubahan pada catatan pengiriman.
Syifa mendengarkan jawaban yang terdengar terputus. Orang di ujung sana masih perlu mencari lembar keberangkatan. Ryan akhirnya meminta jawaban tertulis ketika sudah ditemukan, lalu mengakhiri panggilan sebelum memasuki halaman toko.
Sopir menunggu di dekat kendaraan dengan wajah tidak sabar. Dua pegawai sudah menyiapkan tempat untuk memeriksa peti. Hadi membawa daftar pesanan dan menunjukkan tanda yang dipersoalkan.
Ryan memandangnya, kemudian menoleh kepada sopir.
'Yang ini untuk toko kami?'
'Daftarnya begitu, Pak. Saya cuma membawa.'
'Kita periksa isinya dulu.'
Tali pengikat dilepas. Syifa mundur agar pegawai mempunyai ruang mengangkat penutup. Di dalamnya ada bagian kursi yang bentuknya tidak sesuai dengan model yang sedang dikerjakan. Jumlahnya benar, tetapi tidak dapat dipakai begitu saja pada barang pelanggan.
Sopir meminta peti diterima dengan catatan supaya ia tidak harus mengangkatnya kembali. Hadi menunggu keputusan. Syifa memandang kursi yang penyangganya belum lengkap, lalu menanyakan kapan bagian yang benar dapat sampai jika peti itu memang tertukar.
Ryan kembali menghubungi pemasok. Kali ini ia memperlihatkan foto isi dan label. Syifa mendengar ia menyebut nomor pesanan satu per satu, lebih teliti daripada ketika dahulu mengatakan toko tidak mempunyai masalah.
Jawaban datang setelah beberapa menit. Pemasok menemukan bahwa label dan isi berasal dari dua pengiriman berbeda. Mereka perlu mencocokkan letak peti lain sebelum menjanjikan waktu penggantian.
Syifa merasakan marah yang hampir diarahkan kepada sopir hanya karena orang itulah yang ada di hadapannya. Ia menahan diri dan meminta keadaan barang dicatat. Hadi mengambil gambar sebelum pegawai menutup kembali peti yang salah.
Mereka tidak menandatangani penerimaan seolah pesanan sudah sesuai. Ryan dan pemasok menyepakati apa yang dicatat pada lembar pengiriman, sementara sopir mengabari tempat tujuannya berikut. Pekerjaan terlambat, tetapi kekeliruan tidak disembunyikan di gudang untuk ditemukan ketika pelanggan sudah datang.
Sesudah kendaraan berangkat, Syifa menelepon pemesan kursi. Ia menjelaskan bahwa bagian yang datang belum sesuai dan barang pinjaman sementara masih dapat dipakai sebagaimana kesepakatan. Ia tidak menawarkan tanggal baru sebelum memperoleh kepastian.
Pelanggan mengeluh karena acara keluarganya tinggal menunggu jam. Syifa mendengarkan sampai selesai, memastikan jumlah kursi sementara cukup, lalu meminta izin mengabari lagi begitu pemasok memberikan jawaban.
Hadi menulis waktu panggilan. Pegawai lain mengembalikan kursi yang belum selesai ke tempat yang tidak mengganggu pekerjaan berikutnya. Syifa membantu memindahkan buku pesanan dari meja yang akan dipakai membungkus barang.
Sebelum map ditutup, Syifa menemukan nomor telepon pelanggan tercatat berbeda pada lembar pengiriman. Ia membandingkannya dengan panggilan yang baru dilakukan, lalu meminta Hadi mengoreksi salinan untuk pengemudi. Mereka menandai lembar lama agar nomor keliru itu tidak kembali dipakai saat barang yang benar akhirnya dikirim.
Ryan berdiri di seberang meja. Keringat membuat kerahnya sedikit basah. Ia bertanya apakah Syifa masih mengira dirinya tidak melakukan apa pun untuk toko.
'Aku melihat kamu menelepon dan mengurus salah kirim tadi,' jawabnya.
'Tapi kamu masih mau pergi.'
Syifa meletakkan buku perlahan.
'Bekerja dengan benar hari ini tidak membuat perselingkuhanmu tidak pernah terjadi, Mas.'
Ryan mengalihkan pandang. Ada pembicaraan yang tampaknya ingin ia lanjutkan, tetapi Hadi memanggil untuk meminta nomor pesanan lain. Lelaki itu mengambil kertas dan berjalan mendekat.
Syifa tetap di meja sampai catatan terakhir selesai. Ia tidak ingin menyangkal pekerjaan yang benar-benar dilakukan Ryan hanya karena sedang marah. Ia juga tidak ingin menjadikan satu sore bekerja bersama sebagai alasan untuk menutup hal yang sudah membuatnya meminta perceraian.