Ryan berhenti di depan pintu klinik dan meraba saku kemejanya. Ia membawa identitas, tetapi kembali memeriksa seolah kartu itu dapat menghilang sepanjang perjalanan dari kendaraan.
Syifa sudah berada di dekat tempat pendaftaran. Ia menunggu suaminya mendekat sebelum menyerahkan keterangan yang diminta. Jadwal tersebut diperolehnya setelah menghubungi klinik pada awal pekan. Ryan baru menyatakan bisa datang sesudah dua kali menanyakan apakah pemeriksaan benar-benar perlu dilakukan sekarang.
Dua nama dicatat. Syifa memastikan nomor kontaknya tercatat dengan benar. Petugas memberikan keterangan tentang giliran dan formulir yang perlu dilengkapi masing-masing. Ryan mengambil kursi paling ujung, sementara Syifa duduk dengan map kecil pada pangkuan.
'Kamu membawa kertas sebanyak itu?'
'Catatan pemeriksaanku dulu. Waktu mendaftar aku diminta membawa kalau masih ada.'
Ryan mengangguk, lalu melihat ke arah pintu. Syifa membuka formulir dan membaca pertanyaan satu per satu. Ada bagian yang tidak diketahuinya dengan tepat. Ia membiarkannya untuk ditanyakan, bukan menyalin jawaban supaya halaman segera terlihat penuh.
Suaminya menulis lebih cepat. Ketika ia berhenti, Syifa melihat beberapa baris belum disentuh.
'Bagian yang ini?' tanyanya.
'Nanti juga ditanya.'
'Kalau tidak ingat, bilang tidak ingat.'
Ryan menutup ujung kertas dengan tangan. Ia tidak suka merasa diperiksa oleh Syifa sebelum bertemu dokter. Perempuan itu memalingkan pandang dan melanjutkan formulirnya sendiri. Ia datang untuk menjalankan salah satu syarat, bukan mengawasi bagaimana Ryan memegang pena.
Seorang pasangan dipanggil lebih dahulu. Di tempat lain, ada orang datang sendiri sambil menelepon bahwa ia sudah sampai. Suara yang biasa itu sedikit mengurangi ketegangan Syifa. Tidak semua kursi di ruangan tersebut harus mempunyai cerita yang sama dengan miliknya.
Ketika nama mereka disebut, ia berdiri dan membawa map. Ryan menunggu ia bergerak sebelum mengikuti ke ruang konsultasi.
Dokter menanyakan alasan kedatangan dan riwayat yang perlu diketahui. Syifa menjelaskan sudah pernah mencari pertolongan mengenai keinginannya mempunyai anak. Ia menyerahkan catatan yang disimpan, lalu menjawab pertanyaan mengenai apa yang pernah dilakukan.
Ryan duduk dengan punggung tegak. Ketika ditanya mengenai pemeriksaannya sendiri, ia mengatakan belum pernah menjalani.
'Dulu belum sempat,' tambahnya.
Syifa menoleh. 'Aku beberapa kali mengajak. Mas tidak mau.'
Ruangan menjadi hening sejenak. Dokter kembali mengarahkan pertanyaan kepada Ryan, memberinya kesempatan menyampaikan apa yang diketahuinya sendiri. Syifa merapikan map di pangkuan. Ia tidak harus menjadikan setiap jawaban lelaki itu kesempatan membuktikan satu kebohongan lagi.
Pembicaraan berjalan lebih lama daripada yang diharapkan Ryan. Ada keterangan yang perlu dilengkapi, penjelasan mengenai tahapan yang mungkin diperlukan, serta persetujuan yang tidak boleh dianggap sudah ada hanya karena keduanya datang bersama.
Syifa bertanya apakah catatan lamanya berarti ia tidak memerlukan pemeriksaan lain. Dokter menjelaskan bahwa catatan tersebut akan dilihat bersama keadaan sekarang. Ia tidak memberikan kesimpulan hanya dari satu halaman yang dibawa.
Ryan kemudian menyebut kehamilan Sherly.
Ia mengatakannya seolah kalimat itu dapat menyingkat pertanyaan mengenai dirinya. Syifa menahan tangan pada tepi map, menunggu dokter menanggapi tanpa menambahkan cerita tentang pernikahan kedua.
Dokter meminta Ryan menjelaskan informasi yang memang diketahuinya dan mengingatkan bahwa konsultasi mereka tidak dapat dipakai untuk menyimpulkan seluruh keadaan orang yang tidak sedang diperiksa di ruangan itu. Ryan akhirnya berhenti mengajukan kehamilan tersebut sebagai jawaban bagi setiap pertanyaan.
Syifa mengalihkan perhatian pada penjelasan yang diberikan kepadanya. Ia ingin memahami langkah yang ditawarkan sebelum menyetujuinya. Ada bagian yang dapat dimulai sesuai kesiapan hari itu, sementara bagian lain memerlukan jadwal dan persiapan yang diterangkan petugas.
Tidak ada keputusan mengenai siapa yang harus dipersalahkan. Ketika Ryan bertanya apakah nanti bisa diketahui letak masalahnya, dokter menjelaskan tujuan pemeriksaan tanpa menyebut salah seorang sebagai orang yang gagal menjalankan perannya dalam pernikahan.
Syifa menunduk sebentar. Ia pernah begitu lama menerima pertanyaan mengenai anak seolah jawabannya harus datang dari dirinya seorang. Mendengar pembicaraan diarahkan kepada dua orang membuat dadanya terasa berbeda, meskipun hubungan mereka tidak serta-merta menjadi lebih mudah.
Sesudah konsultasi, mereka kembali ke tempat yang ditunjukkan. Petugas menjelaskan apa yang perlu dikerjakan dan keterangan berikutnya. Ryan meminta Syifa menunggu ketika ia memastikan satu pertanyaan mengenai jadwal yang tidak dipahaminya.
Perempuan itu mengangguk dan duduk. Ia membuka telepon, tetapi tidak mengirim kabar kepada Athar. Ini bukan hasil yang perlu segera diteruskan kepada sahabatnya. Ia ingin menyimpan penjelasan dengan benar sebelum menceritakannya kembali.
Ryan datang membawa kertas yang harus disimpannya.
'Ada yang tidak bisa langsung hari ini,' katanya.
'Aku dengar tadi.'
'Berarti kita harus datang lagi.'
'Sesuai yang dijelaskan. Bukan karena aku sengaja memperpanjang.'
'Aku tidak bilang begitu.'
Syifa menutup telepon. Mereka sama-sama lelah, tetapi ia tidak ingin kelelahan dipakai untuk meniadakan langkah yang baru dimulai. Ia meminta Ryan menyimpan keterangannya sendiri supaya tidak nanti mengatakan seluruh urusan berada dalam map miliknya.
Di meja pembayaran, keduanya menunggu rincian diberikan. Syifa memeriksa bagian yang dibayar hari itu dan yang belum dijadwalkan. Ia tidak memasukkan biaya yang belum terjadi ke catatan perjalanan vila atau pengeluaran toko.
Ryan mengambil dompet. Ia mengatakan akan membayar bagian yang menjadi tanggung jawabnya. Syifa membiarkannya berbicara langsung dengan petugas dan menerima bukti, lalu menyimpan miliknya secara terpisah.
Ketika keluar, matahari sudah lebih tinggi. Ryan berjalan lebih dahulu, berhenti di samping kendaraan sampai Syifa menyusul. Ia menanyakan apakah mereka hendak makan sebelum pulang.
Syifa mengatakan boleh, tetapi ia ingin mengabari Hadi mengenai waktu kedatangannya di toko terlebih dahulu. Ada pesanan yang harus diperiksa setelah makan, dan hari itu tidak akan selesai hanya dengan duduk di ruang tunggu.
Ia mengirim pesan pendek. Setelah itu ia memasukkan kertas jadwal ke bagian map yang mudah ditemukan, bukan ke dasar tas bersama benda lain. Dua nama telah dicatat pada pendaftaran pagi itu. Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan mengenai anak menjadi beban di rumah mereka, Ryan tidak bisa lagi mengatakan pemeriksaan tersebut hanya urusan Syifa.