Dina datang ke toko ketika Ryan sedang memeriksa kendaraan yang hendak mengantar contoh kursi. Ia membawa kantong kecil dan berdiri di dekat pintu sampai putranya melihat. Penjaga tetap meminta ia menunggu, sebagaimana perintah Syifa yang belum diubah.
Ryan mendekat, menerima kantong makanan, lalu menanyakan apakah ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Ibunya mengeluhkan bahwa ia diperlakukan seperti hendak mencuri. Ryan menoleh kepada penjaga, tetapi tidak meminta orang itu meninggalkan tempatnya.
'Kalau Mama mau bicara, kita di sini dulu.'
'Ini toko yang nanti jadi milik kamu juga.'
'Belum, Mah.'
Dina mendengus. Ia melihat melalui pintu yang terbuka, memperhatikan lemari dan meja yang berderet di ruang pajang. Baginya, semua itu sudah menjadi bagian dari sesuatu yang dijanjikan Syifa. Ia meminta Ryan jangan terlalu sibuk menyenangkan perempuan itu sampai lupa memastikan apa yang akan didapat.
Ryan merendahkan suara ketika ibunya menyebut Sherly. Ia tidak ingin pegawai yang memeriksa tali pengikat mendengar seluruh pertengkaran keluarga.
'Sherly perlu apa sekarang?'
'Kamu tanyakan sendiri kepada Mama terus. Dia bertanya kenapa suaminya tidak pernah datang.'
'Dia tahu perjanjiannya.'
'Dia juga istri kamu.'
Ryan mengusap wajah. Selama beberapa hari ia berhasil menunda persoalan dengan berkata semua akan selesai sesudah syarat dijalankan. Dina kini meminta jawaban yang lebih dekat daripada hari perceraian yang tanggalnya pun belum ada.
Ia mengatakan akan mengatur kebutuhan yang dapat disampaikan melalui ibunya. Namun ia tidak bersedia mengakhiri kesepakatan hanya karena merasa sedang didesak. Dina menatapnya seolah jawaban itu membuktikan sesuatu yang tidak disukainya.
'Jangan sampai setelah kamu turuti, yang didapat cuma janji.'
Sebelum pergi, Dina mengeluhkan bahwa ia masih harus meminjam telepon tetangga untuk menghubungi putranya. Ryan memeriksa ponsel dan menemukan nomor ibunya serta Sherly terblokir. Ia memulihkan keduanya agar kebutuhan dapat disampaikan, lalu menyimpan kembali nomor yang diperlukan. Ia belum menanyakan kapan dan oleh siapa pengaturan itu diubah.
Peringatan Dina tentang janji toko tetap terngiang ketika Ryan kembali ke dalam. Di meja belakang, Syifa sedang mencocokkan daftar barang dengan Hadi. Mereka berhenti sebentar untuk menunggu dua pegawai mengangkat kursi contoh tanpa membenturkannya pada bingkai pintu.
Syifa ikut mengantar sampai kendaraan. Ia meminta pengemudi menunggu kabar pelanggan sebelum menurunkan semua barang. Setelah kendaraan berangkat, barulah ia kembali mengambil buku.
'Mama datang?' tanyanya kepada Ryan.
'Mengantar makanan.'
'Penjaga sudah bilang.'
Ryan menyampaikan bahwa nomor Dina dan Sherly telah dapat menghubunginya lagi. Ia akan menjawab pesan mengenai kebutuhan melalui telepon, tanpa mengubah larangan pertemuan yang disepakati. Syifa tidak meminta ponselnya untuk memblokir ulang. Ia hanya menegaskan bahwa jika kelak perlu ada perubahan perjanjian, keduanya harus membicarakannya, bukan melakukannya diam-diam.
Ryan meletakkan kantong di meja. Ia ingin langsung menanyakan toko, tetapi Hadi masih mencatat sesuatu. Lelaki itu menunggu sampai pegawai senior tersebut berpindah untuk menerima pelanggan.
'Kamu sekarang sering sekali memeriksa semuanya.'
'Banyak yang belum kuketahui.'
'Dulu kamu tidak pernah mencurigai aku begini.'
Syifa menutup buku. Ia tidak mengingat setiap kunjungan lamanya sebagai masa tanpa masalah. Sebagian yang tidak dilihatnya memang terjadi karena ia mempercayakan pekerjaan kepada Ryan.
'Aku tidak sedang menuduh setiap orang di sini. Aku perlu tahu apa yang dikerjakan atas nama usahaku.'
'Usaha orang tua kamu.'
'Iya. Yang mereka tinggalkan kepadaku.'
Ryan melipat kedua tangan. Ia mengatakan setelah semua syarat dipenuhi, pembicaraan seharusnya menjadi lebih mudah karena toko tidak lagi perlu diperebutkan. Syifa bertanya apa yang dimaksud dengan toko ketika ia mengatakan demikian.
'Ya toko ini. Kamu mau bilang toko yang lain?'
'Bangunannya? Barang dagangannya? Uang yang dipakai membeli barang?'
'Kenapa harus dipisah begitu?'
'Karena itu bukan hal yang sama.'
Ryan mengangkat kantong makanan agar tidak menutupi buku pesanan, lalu meletakkannya kembali dengan suara keras. Ia merasa Syifa sedang mencari cara untuk membuat sesuatu yang sederhana menjadi sulit.
'Waktu kamu minta aku pergi ke vila, kamu tidak mengeluarkan pertanyaan sebanyak ini.'
'Aku bertanya sekarang sebelum kamu menganggap sesuatu sudah pasti.'
'Tapi kamu yang menjanjikan toko.'
Syifa merasakan dorongan untuk mengatakan bahwa Ryan memang seharusnya kecewa. Ia sudah membayangkan saat lelaki itu mengetahui tidak semua yang diharapkannya berada dalam janji. Namun di hadapannya ada pesanan pelanggan yang harus dikirim, upah yang harus dibayarkan, dan pegawai yang tidak pernah menyetujui menjadi bagian dari rencananya.
'Aku ingin kita membaca kembali maksudnya dengan jelas,' katanya.
'Berarti kamu mau mengubah?'
'Aku mau kita tahu apa yang sedang dibicarakan.'
Ryan menolak ketika Syifa mengusulkan waktu untuk duduk bersama pendamping yang dapat menjelaskan bagian tertulis. Ia mengatakan tidak ingin dibawa ke ruangan tempat semua orang sudah mendengar cerita Syifa lebih dahulu.
'Kamu bisa menanyakan kepada orang yang kamu pilih sendiri,' jawabnya. 'Aku tidak melarang.'
Ryan terdiam. Pilihan itu tidak memberinya alasan untuk mengatakan ia dipaksa menerima penjelasan sepihak, tetapi juga menuntutnya melakukan sesuatu selain menunggu Syifa menyerahkan kunci.
Dari depan toko terdengar panggilan Hadi. Pengemudi mengirim foto contoh kursi di tempat pelanggan. Ukuran dan jumlah sesuai, tetapi pelanggan meminta satu kursi dipindahkan agar tidak menutup jalan ke dapur.
Ryan mengambil telepon. Ia hampir menyuruh pengemudi segera kembali, lalu melihat Syifa menunggu. Ia meminta gambar ruang yang lebih lebar sebelum menyetujui posisi yang tidak menghalangi pintu.
Percakapan itu berlangsung beberapa menit. Ketika telepon dikembalikan, Hadi mencatat bahwa barang pinjaman sementara sudah diterima. Jadwal penggantian dengan pesanan yang benar masih harus dikonfirmasi begitu bagian dari pemasok datang.
Syifa menuliskan hal tersebut, lalu kembali kepada pembicaraan yang tertunda.
'Aku tidak meminta kamu meninggalkan kerjaan hari ini. Kita tentukan waktu setelah toko tutup.'
'Aku pikir dulu.'
'Baik. Tapi jangan membuat rencana mengganti nama dan menjanjikan barang kepada siapa pun sebelum kita membahasnya.'
Ryan menatapnya dengan wajah menegang. Ia belum pernah benar-benar mempertimbangkan bahwa papan nama baru yang dibayangkannya dapat berakhir sebagai perdebatan mengenai rak dan uang pembelian.
Dina menelepon ketika ia sedang membuka kantong makanan. Ryan membiarkan panggilan berhenti, lalu mengirim pesan singkat bahwa ia masih bekerja. Ia belum ingin menjelaskan kepada ibunya bahwa pertanyaan tentang apa yang akan diterimanya justru semakin banyak.
Syifa berpindah ke depan untuk menemui pelanggan yang menanyakan meja. Ia mendengarkan ukuran yang dibutuhkan dan memanggil pegawai yang memahami barang tersebut. Pelanggan membuka catatan ukuran ruang tamunya sebelum memilih model. Untuk pertama kalinya siang itu, pembicaraan mengenai toko kembali membicarakan sesuatu yang benar-benar ada di hadapan mereka, bukan hak yang belum disepakati.