Syifa membuka lemari ayahnya setelah sarapan. Selama ini ia hanya mengambil map yang letaknya paling depan, tempat surat rumah dan beberapa kertas toko disimpan. Pagi itu ia mengeluarkan seluruh isi rak tengah, lalu meletakkannya di atas kain agar halaman yang mulai rapuh tidak tercampur dengan debu.
Ada amplop berisi foto lama, kuitansi perbaikan atap, serta catatan pembelian meja yang ternyata sudah tidak dipakai lagi. Ia sempat berhenti pada tulisan Wardi di sudut sebuah halaman. Ayahnya menambahkan ukuran dengan tinta berbeda, lalu mencoret angka pertama begitu tebal sampai kertasnya hampir berlubang.
Dahulu Syifa sering kesal ketika diminta mencari penggaris yang terselip di antara buku. Kini ia menyentuh bekas garis itu sebelum memindahkan halaman ke tumpukan yang akan disimpan kembali.
Ryan masuk ketika lantai sudah dipenuhi beberapa kelompok kertas.
'Cari apa?'
'Berkas toko yang diminta Bu Lestari.'
'Yang kemarin kuberikan kurang?'
'Ada yang belum lengkap. Aku juga perlu memastikan mana dokumen asal, mana catatan pengelolaan sesudahnya.'
Ryan bersandar pada pintu. Ia melihat map yang dibuka Syifa, lalu mengatakan beberapa kertas lama mungkin sudah tidak diperlukan karena nama usaha tetap sama. Syifa tidak membantah dengan penjelasan yang belum dipahaminya. Ia hanya memindahkan gelas dari lantai sebelum siku lelaki itu menyenggolnya.
'Aku akan tanya kepada orang yang menyimpan arsipnya.'
'Kamu percaya orang luar lebih daripada aku?'
'Aku sedang mencari kertas, Mas. Kalau kamu tahu tempatnya, bantu tunjukkan.'
Ryan menatap rak sebentar. Ia mengambil sebuah map tipis dari bagian bawah, mengatakan Wardi dahulu membawa map itu ketika mengurus sesuatu. Syifa menerimanya dan berterima kasih. Di dalamnya ada salinan yang belum dilihatnya kemarin, beserta nama kantor pada tanda terima.
Ia menghubungi nomor yang tercetak setelah memeriksa kembali daftar dari Lestari. Orang yang menjawab meminta Syifa menjelaskan keperluan serta membawa identitas dan berkas yang sudah ada. Tidak semua keterangan dapat diberikan melalui telepon.
Pertemuan baru tersedia menjelang siang. Syifa mencatat waktunya, memasukkan kembali foto keluarga ke amplop, kemudian menutup lemari. Ia membawa dokumen asli dalam tempat berbeda dari salinan supaya tidak sembarangan menyerahkan semuanya.
Di kantor tersebut, petugas memeriksa nama dan tanda terima lebih dahulu. Syifa duduk menunggu sementara beberapa halaman dicocokkan dengan arsip yang dapat ditemukan. Ia tidak langsung memperoleh selembar kertas yang menyatakan seluruh pertengkarannya selesai.
Ada berkas yang sesuai dengan salinan di tangannya. Ada pula keterangan yang memerlukan pemeriksaan lanjutan karena penjelasan Syifa belum disertai dokumen pendukung. Ia mencatat apa yang perlu diminta kembali, lalu menanyakan bagaimana memperoleh salinan melalui cara yang benar.
Ketika pembicaraan menyentuh status dirinya sebagai anak angkat, suara Syifa mengecil. Petugas menanyakan dokumen yang dimilikinya tanpa mengubah pertanyaan itu menjadi tuduhan. Syifa membuka bagian lain pada map dan menyadari ia telah menyiapkan jawaban membela diri sebelum seseorang benar-benar menuduhnya.
Ia menarik napas, kemudian menjelaskan apa yang diketahui dan apa yang belum pernah ditanyakan kepada Wardi.
Menjelang pulang, ia memperoleh keterangan tentang berkas yang sudah dapat dicocokkan serta langkah untuk bagian yang masih kurang. Syifa tidak menandai semuanya selesai. Ia memisahkan catatan itu agar Lestari dapat menilai dokumennya sendiri, bukan menerima kesimpulan yang dibuatnya di ruang tunggu.
Ponselnya berbunyi sebelum ia mencapai kendaraan.
Pak Hadi menanyakan pesanan kursi yang dijanjikan selesai pekan itu. Pemasok belum mengirim bagian yang diperlukan, sedangkan pelanggan hendak menggunakannya untuk acara keluarga. Ryan sedang berbicara dengan orang lain dan belum memberikan jawaban mengenai pilihan yang boleh ditawarkan.
'Saya ke toko sekarang, Pak. Jangan janjikan penggantian dulu sebelum kita lihat barangnya.'
Ketika tiba, Syifa mendapati dua kursi sudah dipisahkan dari kelompok lain. Salah satunya goyah karena bagian penyangga belum terpasang sebagaimana mestinya. Seorang pegawai menunjukkan pesan dari pemasok, lalu menggeleng ketika ditanya apakah barang yang kurang dapat diambil hari itu.
Syifa meminta Hadi membuka pesanan pelanggan. Jumlah, model, dan tanggal yang dijanjikan dibaca kembali. Ia lalu bertanya kepada pegawai apakah ada kursi lain dengan ukuran yang dapat digunakan sementara, tanpa mengakuinya sebagai pesanan yang sudah selesai.
Ryan datang ketika mereka sedang memindahkan satu contoh.
'Kita bisa bilang pengiriman mundur sehari.'
'Kalau acaranya besok, sehari itu penting,' jawab Syifa.
'Belum tentu pelanggan keberatan.'
'Makanya kita tanyakan, bukan memutuskan untuk mereka.'
Hadi menelepon setelah pilihan yang mungkin diberikan disepakati. Pelanggan ternyata sudah menyiapkan tempat untuk kursi tersebut. Ia tidak menginginkan model lain sebagai pengganti tetap, tetapi bersedia melihat contoh yang dapat dipinjamkan sementara apabila tidak ada tambahan biaya.
Syifa meminta persetujuan Ryan mengenai pengangkutan dan memastikan siapa yang mengurus barang kembali. Lelaki itu mengeluh tentang pekerjaan tambahan, tetapi akhirnya membantu menghitung ruang kendaraan.
Belum semua urusan selesai sore itu. Pelanggan masih harus melihat contoh, dan waktu kedatangan bagian yang kurang belum pasti. Namun Hadi kini mempunyai jawaban yang dapat disampaikan tanpa menyebut pesanan siap padahal kursinya masih goyah.
Sebelum pulang, Syifa menyaksikan contoh kursi diperiksa sekali lagi. Ia menahan seorang pegawai yang hampir membawa kursi bermasalah bersama barang lain, lalu membantu memberi penanda agar tidak tertukar.
Di rumah, ia mengirim foto catatan arsip kepada Lestari melalui cara yang sebelumnya disepakati. Ia menanyakan kapan dapat membawa salinan lengkap dan membahas persiapan gugatan. Pendamping itu menjawab akan memeriksa lebih dahulu sebelum menentukan dokumen berikutnya.
Syifa meletakkan ponsel di samping buku. Hari itu tidak memberinya keputusan pengadilan atau kepastian mengenai toko. Akan tetapi, ia telah melihat sendiri apa yang terjadi jika pekerjaan diserahkan pada kata nanti tanpa orang yang benar-benar memeriksa.
Ia menulis tanggal serta nomor pesanan pada catatan kursi, kemudian menyiapkan pertanyaan untuk Ryan. Setelah selama ini hanya mendengar bahwa toko baik-baik saja, ia ingin mengetahui bagaimana janji kepada pelanggan dibuat, sebelum janji tentang seluruh usaha itu kembali dipakai untuk menuntut sesuatu darinya.