Syifa tiba di tempat konsultasi pada waktu yang dicatatnya. Ia membawa dua map dan sebuah buku kecil. Sebelum masuk, ia memeriksa kembali nama pada keterangan kontak yang diberikan Athar, lalu menyampaikan bahwa dirinya mempunyai janji untuk bertemu Bu Lestari.
Di ruang tunggu, ia sempat ingin menelepon sahabatnya. Ia tidak tahu kalimat pertama yang akan dipakai ketika seseorang yang belum dikenalnya bertanya mengapa ia ingin bercerai. Namun, sebelum panggilan dibuat, namanya sudah disebut.
Lestari mempersilakannya duduk dan menanyakan apa yang ingin dipastikan melalui pertemuan pertama itu. Syifa membuka buku, melihat daftar pertanyaan yang ditulis malam sebelumnya, lalu justru memulai dengan kalimat yang tidak tercatat.
'Saya tidak ingin toko orang tua saya hilang.'
Lestari tidak langsung menjawab bahwa semuanya pasti dapat diselesaikan. Ia meminta Syifa menceritakan asal toko tersebut dan dokumen apa yang dibawanya. Syifa mengeluarkan salinan yang selama ini disimpan bersama arsip keluarga, kemudian menjelaskan bahwa Ryan diminta mengelola setelah Wardi dan Salimah meninggal.
Ia menyebut keduanya sebagai ayah dan ibu, lalu berhenti untuk menerangkan bahwa mereka bukan orang tua kandungnya. Ada kekhawatiran lama yang kembali muncul: setiap kali asal dirinya diketahui, apakah orang lain akan mulai memandangnya sebagai seseorang yang tidak mempunyai hak?
Lestari tetap melihat dokumen, bukan menatap Syifa dengan rasa kasihan yang berlebihan.
'Saya perlu memeriksa dasar dan keterangan dalam berkasnya,' katanya. 'Kita tidak mengambil kesimpulan hanya dari sebutan yang dipakai orang lain.'
Syifa mengangguk dan meneruskan cerita. Ia menjelaskan pernikahannya dengan Ryan, kehadiran Sherly, serta kebohongan mengenai alasan pernikahan kedua. Lestari menanyakan urutan waktunya ketika beberapa kejadian mulai bercampur.
Syifa membuka buku dan menuliskan ulang tanggal yang diingat. Satu tahun hubungan Ryan dengan Sherly berbeda dari satu bulan pernikahan mereka. Ia tidak ingin marahnya membuat kedua hal itu terdengar sama, lalu Ryan memperoleh alasan untuk mengatakan dirinya keliru.
Ketika perjanjian dibuka, Lestari membacanya perlahan. Ia memastikan Syifa sendiri memahami lima hal yang sudah ditandatangani. Sherly tidak tinggal di rumah Syifa. Ryan tidak menemui Sherly selama proses. Mereka mengunjungi tempat lama, memeriksakan kesuburan, dan menghadiri sidang memakai pakaian akad dahulu.
'Baju yang dipakai saat menikah dulu,' Syifa menegaskan. 'Bukan menikah lagi.'
Lestari mengangguk dan mencatat penjelasan itu. Ia menanyakan apa yang sudah dijalankan. Syifa menyebut pemindahan barang Sherly, perjalanan tiga hari ke vila, serta kunjungan sesudahnya. Pemeriksaan belum dijadwalkan, dan proses pengadilan belum dimulai.
'Jadi ada beberapa hal yang masih berupa rencana,' kata Lestari.
'Iya.'
'Lalu apa yang akan diberikan kepada Ryan?'
Syifa mengatakan toko, kemudian menambahkan bahwa yang dimaksudnya adalah tempatnya saja. Barang, uang usaha, dan aset lain tidak ingin diserahkannya. Ia mengingat wajah Ryan ketika berbicara mengenai papan nama dan jenis barang yang akan ditambah.
Lestari meminta Syifa menunjukkan bagian yang membuat maksud tersebut dapat dipahami sama oleh Ryan. Syifa menelusuri halaman, lalu berhenti. Ia mengetahui apa yang direncanakannya, tetapi belum mengetahui apakah seluruh orang yang membaca kertas itu akan memahami hal yang sama.
'Saya ingin dia berharap,' katanya pelan.
'Berharap mendapat apa?'
Syifa menatap meja. Pertanyaan singkat itu lebih sulit dijawab daripada nasihat panjang agar ia menjadi orang yang sabar. Ia menjelaskan rencana membuat Ryan kembali mencintainya, kemudian meninggalkannya setelah semua pengkhianatan tidak lagi bisa disangkal.
Lestari membiarkannya selesai. Sesudah itu ia mengatakan rencana mengenai hubungan dan keputusan aset perlu dibicarakan dengan cermat. Ia belum akan menyarankan Syifa menyerahkan sesuatu atau menganggap sebuah kalimat otomatis melindungi seluruh barang yang ingin dipertahankannya.
Syifa mengusap ujung buku. Ia masih ingin Ryan merasakan kehilangan. Akan tetapi, ia tidak ingin membayar rasa puas tersebut dengan bagian warisan yang tidak dapat diperoleh kembali hanya karena dirinya kemudian menyesal.
Pembicaraan beralih kepada dana yang digunakan Ryan. Syifa menyerahkan salinan informasi dari Athar dan beberapa catatan yang telah diperolehnya sendiri. Lestari memisahkan laporan awal dari dokumen bank serta arsip toko yang masih perlu dilengkapi.
Syifa kemudian mengeluarkan bukti transfer ke rekeningnya sebelum perjalanan. Kali ini ia tidak menunggu sampai ditanya dua kali. Ia mengatakan telah memindahkan setengah saldo pribadi Ryan dan menggunakan sebagian untuk vila.
Lestari membaca keterangan tersebut. Ia menanyakan apakah asal setiap bagian uang pada rekening itu sudah diketahui Syifa. Perempuan itu menggeleng.
'Belum. Itu yang harus saya periksa.'
'Kalau begitu, kita tulis sebagai hal yang perlu dicocokkan. Jangan langsung disatukan dengan perhitungan dana toko.'
Syifa mencatatnya. Ia tidak merasa nyaman membuka tindakannya sendiri kepada orang baru, tetapi lebih takut jika nanti bagian itu muncul ketika dirinya sudah terlanjur menyatakan semua hitungannya benar.
Menjelang akhir pertemuan, Lestari menyusun daftar berkas yang masih diperlukan. Syifa akan mencari keterangan kepemilikan yang lebih lengkap dan catatan pengelolaan toko, lalu kembali membahas pilihan langkah berikutnya. Belum ada gugatan yang diajukan pada hari itu.
Mereka juga membicarakan bentuk pendampingan serta biaya yang berbeda dari konsultasi pertama. Syifa meminta keterangan tertulis untuk dipelajari sebelum memberi keputusan. Ia ingin tahu apa yang disetujuinya, bukan mengangguk karena merasa akhirnya ada orang yang dapat menyelamatkannya.
Setelah keluar, Syifa mengirim pesan kepada Athar bahwa pertemuan berjalan baik. Ia tidak mengatakan seluruh masalah selesai. Ia hanya memberi kabar bahwa ada beberapa hal yang kini harus diperiksanya lebih teliti.
Ryan mengirim pesan menanyakan kapan ia pulang. Syifa menjawab pertemuannya selesai dan ia sedang bersiap berangkat. Ketika Ryan bertanya apa yang dikatakan pengacara, ia memilih membicarakannya setelah memeriksa berkas yang masih kurang.
Di dekat pintu kendaraan, ia membuka lagi buku kecilnya. Pertanyaan tentang toko belum mempunyai jawaban akhir, tetapi sudah berubah menjadi pekerjaan yang jelas: mencari berkas, mencocokkan uang, dan memahami kalimat yang telanjur ditandatangani. Syifa menutup buku, membawa kedua mapnya pulang, dan bersiap menanyakan hal berikutnya tanpa kembali menyerahkan seluruh keputusan kepada Ryan.