Syifa berjalan meninggalkan rumah pada pagi hari kesembilan cuti Athar. Ryan mengetahui ia akan menemui sahabatnya sebelum kembali ke kota sore nanti. Ia sempat menawarkan mengantar, tetapi Syifa memilih berjalan karena sungai itu dekat dan ia ingin menenangkan pikirannya sepanjang jalan.
Ryan berdiri di depan pintu sampai Syifa berbelok. Ia masih tidak menyukai pertemuan tersebut. Namun, setelah melihat Syifa menanyakan urusan toko dengan tekun, ia tahu pertengkaran mengenai Athar hanya akan menambah pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya sendiri.
Di tepi sungai, Athar duduk pada batu besar yang biasa mereka tempati. Ia berdiri ketika melihat Syifa, lalu memindahkan barang kecil di sisinya agar perempuan itu dapat duduk tanpa menyentuh bagian yang basah.
'Kamu sudah siap berangkat?' tanya Syifa.
'Tinggal merapikan beberapa barang. Ayah menyuruhku membawa makanan seolah perjalanan ke kota memerlukan berhari-hari.'
Syifa tertawa. Ia tahu Athar sudah terlalu lama hanya menanyakan kabar Bagas dari kejauhan. Tambahan dua hari yang disetujui Satria memberinya kesempatan mengurus pekerjaan yang perlu diserahkan sekaligus duduk lebih lama bersama ayahnya.
Athar mengeluarkan selembar kertas berisi keterangan kontak. Ia mengatakan Syifa dapat menanyakan jadwal konsultasi, biaya, dan dokumen yang diperlukan sebelum memutuskan menggunakan jasa pendamping hukum itu.
'Aku belum mengatur keputusan apa pun atas namamu,' katanya.
Syifa menerima kertas tersebut. Ia berterima kasih, kemudian menanyakan apakah orang itu dapat membantunya memahami isi perjanjian yang sudah ditandatangani bersama Ryan. Athar mengatakan justru hal semacam itulah yang perlu dibicarakan dengan orang yang memahami, bukan hanya dengan dirinya.
'Termasuk soal toko?' tanya Syifa.
'Kamu pernah mengatakan hanya akan memberikan tempatnya, bukan seluruh aset dan barang. Tapi Ryan memahami hal yang sama atau tidak?'
Syifa tidak segera menjawab. Ia mengingat wajah Ryan yang membicarakan papan nama baru di danau. Lelaki itu tampak membayangkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada ruang kosong yang sejak awal ingin dilepaskannya.
'Aku ingin dia merasakan kehilangan,' katanya.
'Aku tahu.'
'Setiap aku mengingat mereka berselingkuh setahun, aku ingin dia tidak punya kesempatan membela diri lagi.'
Athar memandang aliran air. Ia tidak menyuruh Syifa segera memaafkan. Ia juga tidak mengulang saran balas dendam seolah dirinya tidak perlu memikirkan akibatnya. Ia mengatakan ia ingin sahabatnya dapat keluar dari pernikahan tanpa kehilangan sesuatu yang seharusnya dijaga.
Syifa menunduk dan merapikan tepi kertas. Ia masih belum ingin melepaskan rencana yang dibuatnya. Akan tetapi, ia tidak dapat menyangkal bahwa toko tersebut tidak akan dapat dilindungi hanya dengan membuat Ryan semakin berharap.
Pembicaraan beralih kepada informasi yang pernah diperlihatkan Athar melalui ponselnya sebelum ia menulis perjanjian. Syifa menanyakan gambar Sherly bersama seorang lelaki yang tidak dikenalnya. Ketika itu ia terlalu marah untuk menanyakan setiap rincian, tetapi gambar tersebut tetap teringat.
'Itu yang mau kutanyakan lagi,' katanya. 'Kamu sudah tahu siapa dia?'
Athar menjelaskan bahwa keterangannya belum cukup. Foto tersebut menunjukkan pertemuan, belum menjelaskan apa hubungan mereka pada waktu yang bersangkutan. Ia telah meminta orang yang menyelidiki untuk memastikan sumber dan waktunya, bukan hanya mengirim dugaan.
Syifa mengangguk. Ia tidak dapat mengatakan kehamilan Sherly milik siapa hanya dari sebuah foto. Ia juga tidak ingin Ryan kemudian menggunakan kekeliruan kecil untuk menyebut seluruh bukti perselingkuhannya sebagai fitnah.
'Kalau ada tambahan yang benar-benar bisa diperiksa, aku akan beri tahu,' ujar Athar.
'Aku juga akan memeriksa catatan toko sendiri.'
Athar tersenyum dan menanyakan apa yang terjadi ketika Syifa datang kemarin. Perempuan itu bercerita tentang lemari yang hampir dikirim sebelum pintunya rapi, lalu menyebut betapa banyak hal yang tidak diketahuinya mengenai pekerjaan harian.
Athar mendengarkan sampai Syifa selesai. Ia tidak mengatakan akan mengambil alih toko atau menyuruh Satria membeli semuanya agar Ryan tidak mempunyai harapan. Ia hanya bertanya siapa pegawai yang dapat menjelaskan catatan dengan baik.
Syifa menyebut Hadi. Ia akan kembali meninjau beberapa dokumen, tetapi terlebih dahulu ingin mengetahui apa yang harus dipastikan mengenai gugatan dan perjanjiannya.
Matahari mulai naik ketika mereka berdiri. Athar mengambil satu batu kecil, memutarnya pada jemari, lalu meletakkannya kembali tanpa dilempar. Syifa tersenyum mengingat kebiasaan mereka. Hari itu ia tidak ingin menambah jumlah batu yang harus dihitung untuk merasa sedikit lebih lega.
Mereka berjalan sampai percabangan yang menuju rumah masing-masing. Athar melambaikan tangan dan meminta Syifa memberi kabar jika ada kesulitan yang sungguh perlu dibantu. Syifa berterima kasih, lalu meneruskan langkah ke rumah.
Sore harinya, Bagas membantu mengangkat barang Athar ke mobil. Ros berdiri tidak jauh, menanyakan kapan ia akan datang lagi. Athar mengatakan ia belum dapat menentukan tanggal, tetapi tidak ingin menunggu dua tahun seperti sebelumnya.
Bagas menepuk bahunya. Ia tidak meminta penjelasan mengenai setiap hari cuti yang dihabiskan anaknya di luar rumah. Ia hanya mengingatkan agar berhenti jika lelah selama perjalanan yang hampir memakan setengah hari itu.
Athar berpamitan, memastikan barang yang perlu dibawa sudah masuk, lalu meninggalkan kampung sebelum terlalu sore. Ia akan kembali bekerja setelah tambahan cuti dua harinya berakhir, sesuai persetujuan Satria yang masih tersimpan.
Di rumah, Syifa menelepon nomor pada kertas yang diterimanya. Ia mendapat keterangan jadwal yang tersedia dan mencatat dokumen yang perlu dibawa. Pertemuan konsultasi dapat dilakukan pada awal pekan berikutnya. Syifa juga menanyakan biaya untuk pertemuan pertama dan cara membedakannya dari pendampingan perkara jika nanti diperlukan. Ia menuliskan jawaban sebelum menyetujui jadwal. Ada salinan yang dapat dibawa, sedangkan dokumen asli cukup ditunjukkan saat diminta. Setelah telepon ditutup, ia menyiapkan map terpisah agar tidak membawa seluruh arsip rumah dan rekening dalam keadaan tercampur.
Ia menyimpan kertas itu bersama perjanjian dan menutup map. Athar sudah dalam perjalanan kembali ke kota. Untuk langkah berikutnya, Syifa sendiri yang akan duduk di hadapan orang yang belum mengenalnya, menceritakan apa yang terjadi tanpa menjadikan sahabatnya juru bicara bagi hidupnya.