Ryan memarkir kendaraan di dekat jalan masuk danau, lalu mematikan mesin sebelum mengambil ponsel. Ada pesan yang sempat masuk selama perjalanan. Syifa turun lebih dahulu dan menunggu di bawah pohon, membiarkan lelaki itu menyelesaikan jawabannya.
Danau itu masih mempunyai jalan setapak yang mereka ingat. Sebagian pagar sudah diganti, dan kios yang dahulu hanya satu kini bertambah. Syifa melihat tempat yang pernah dipakai untuk duduk bersama Ryan, lalu berjalan ke arahnya tanpa perlu dituntun.
'Kamu ingat jalan ke sini,' kata Ryan menyusul.
'Aku tidak pernah lupa.'
Ryan tersenyum. Ia mengira jawaban itu pertanda baik, sampai Syifa menambahkan bahwa melupakan tempat tidak pernah menjadi persoalan mereka. Lelaki itu berhenti sejenak, kemudian mengikuti ketika Syifa memilih jalur yang tidak terlalu ramai.
Mereka berdiri menghadap air. Angin mengangkat ujung kerudung Syifa, membuatnya merapikan sebelum kembali memandang ke depan. Ryan mengeluarkan kamera ponsel dan memintanya menoleh.
'Tidak usah foto aku.'
'Kenapa? Dulu kamu suka kalau difoto di sini.'
'Hari ini aku tidak ingin.'
Ryan menurunkan sedikit ponselnya, tetapi masih bertanya apa salahnya mempunyai satu gambar berdua. Syifa berbalik dan menatapnya. Ia mengingat betapa mudahnya dulu berdiri dekat suaminya, mempercayai bahwa senyum yang dilihatnya di layar adalah bagian dari kehidupan yang jujur.
'Aku tidak mau pulang membawa foto yang membuat semuanya terlihat baik-baik saja,' katanya.
'Kita tidak harus menunjukkan kepada siapa pun.'
'Aku juga tidak ingin menunjukkannya kepada diriku sendiri kalau aku belum merasa begitu.'
Ryan akhirnya memasukkan ponsel. Ia tidak ingin pertengkaran merusak kesempatan yang diperolehnya sejak di vila. Mereka melanjutkan berjalan, melewati sekelompok orang yang sedang membereskan tikar setelah makan.
Seorang anak kecil menolak diajak pulang karena masih ingin melihat air. Ibunya berjongkok, mengatakan mereka dapat datang lagi, lalu membantu memakai sandal yang tadi dilepas. Syifa tersenyum sebentar melihatnya.
Ryan memperhatikan arah pandangnya.
'Kamu masih ingin punya anak?'
Syifa menoleh. 'Aku pernah bilang keinginanku berubah?'
'Tidak. Aku cuma memikirkan kalau kita nanti sudah periksa.'
'Aku sudah pernah periksa, Mas. Kamu yang selalu menolak waktu aku mengajak.'
Ryan mengusap tengkuk. Ia mengatakan dirinya sedang banyak memikirkan sesuatu ketika itu. Syifa tidak segera membalas. Ia tahu kesibukan dapat menjadi jawaban untuk hampir semua permintaan yang tidak ingin dipenuhi, sementara waktu untuk mendatangi Sherly selalu ditemukan.
Ia kemudian menanyakan kapan Ryan akan menanyakan jadwal pemeriksaan yang telah menjadi bagian perjanjian. Lelaki itu mengatakan sesudah urusan perjalanan selesai. Syifa meminta agar kata sesudah tidak menjadi alasan untuk terus memindahkan hal yang tidak disukainya.
Ryan mengangguk tanpa terlihat benar-benar senang. Ia belum terbiasa melihat Syifa menunggu jawaban sampai jelas, bukan berhenti pada janji bahwa dirinya akan mengurus.
Jalur yang semula hendak dilewati ternyata ditutup karena bagian pagar sedang diperbaiki. Ryan hampir tetap melintas melalui sela yang terbuka, tetapi seorang petugas menunjukkan jalan lain. Syifa sudah berbalik sebelum ia selesai mengeluh tentang tambahan jarak.
Mereka berjalan memutar. Di satu bagian, Syifa berhenti membetulkan sandal yang terselip pada batu kecil. Ryan menunggu sambil membawa botol yang tadi dipegangnya. Ia menawarkan bantuan, lalu mengembalikan barang ketika Syifa sudah dapat berjalan lagi. Gerakan itu mengingatkan keduanya pada kebiasaan lama yang dahulu tidak pernah dipikirkan sebagai sesuatu yang harus dinilai. Syifa tetap mengucapkan terima kasih, tetapi tidak bersandar lebih dekat ketika mereka kembali berjalan.
Mereka membeli minuman dan duduk di bangku yang berada sedikit menjauh dari jalan utama. Ryan memutar botol di tangannya, kemudian menyebut rencana toko jika nanti menjadi miliknya. Ia membayangkan mengganti papan nama dan menambah beberapa jenis barang.
Syifa mendengarkan dengan wajah tenang.
'Kamu sudah memikirkannya sampai sana?'
'Harus ada rencana. Kan kamu sendiri yang bilang toko bukan cuma tempat menerima uang.'
'Punya rencana berbeda dengan sudah punya hak atas semuanya.'
Ryan menatapnya. 'Kamu tidak akan mengingkari kesepakatan, kan?'
'Kamu jalankan dulu bagianmu. Masih banyak yang belum selesai.'
Jawaban itu tidak membuat Ryan lega sepenuhnya, tetapi ia memilih tidak mendesak. Syifa melihat ke arah air lagi. Ada kepuasan mengetahui lelaki itu menggantungkan harapan pada sesuatu yang belum berada di tangannya, seperti dirinya dahulu menggantungkan harapan pada kesetiaan Ryan.
Namun, rasa puas tersebut tidak bertahan ketika ia teringat Wardi mengajarinya mengenali beberapa jenis kayu di toko. Tempat itu tidak dibangun untuk menjadi hadiah dalam perebutan harga diri. Ia meneguk minumannya, menyimpan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.
Ponsel Syifa berbunyi dengan pesan dari Athar. Ia mengonfirmasi pertemuan besok pagi sebelum kepulangannya sore hari dan mengatakan akan membawa keterangan kontak pendamping hukum yang dapat ditanyakan Syifa sendiri.
Syifa membalas bahwa ia akan datang. Ia tidak menambahkan cerita mengenai Ryan atau mengirim foto dari danau. Ia ingin berbicara langsung tentang langkah yang perlu dipersiapkan, bukan meminta sahabatnya terus mendengar setiap pertengkaran dari kejauhan.
Ryan menatap ponsel di tangan Syifa.
'Athar?'
'Iya. Aku mau berpamitan sebelum dia pulang.'
'Kamu akan ketemu dia di mana?'
'Di sungai dekat rumah.'
Ryan memasang tutup botol dengan gerakan lebih keras. Ia mengatakan Syifa tampak selalu mempunyai waktu untuk sahabatnya. Syifa memandangnya, tidak menyembunyikan kekesalan yang muncul.
'Kita baru tiga hari pergi. Hari ini aku juga di sini bersamamu.'
'Aku tahu.'
'Kalau kamu tidak suka aku menyebut namanya, jangan terus menanyakan hal yang jawabannya tentang dia.'
Ryan terdiam. Mereka duduk beberapa saat tanpa percakapan. Ketika hendak kembali, pesan Hadi masuk ke ponsel Ryan: lemari telah selesai dirapikan dan dimuat sesuai jam baru yang disepakati pelanggan. Ryan memperlihatkannya, lalu mengirim jawaban yang diperlukan.
Syifa mengangguk. Satu pekerjaan yang hampir bermasalah pagi itu akhirnya bergerak dengan benar. Ia menghabiskan sisa air, membawa botol kosong untuk dibuang pada tempatnya, dan berjalan menuju kendaraan.
Foto berdua tidak jadi diambil. Dalam perjalanan pulang, Ryan sesekali melirik Syifa, berusaha menebak apakah hari itu mendekatkannya atau justru memperlihatkan betapa jauh istrinya telah berjalan. Syifa melihat jalan dari balik kaca, memikirkan pertemuan besok serta berkas yang kini menunggu untuk benar-benar dibaca.