Warteg Bu Masnah mulai ramai ketika Syifa dan Ryan datang menjelang siang. Mereka baru meninggalkan toko setelah urusan pengiriman lemari ditangani. Syifa memilih tempat makan itu sebelum melanjutkan perjalanan ke danau, bukan karena Ryan berhasil membujuknya datang.
Bu Masnah mengangkat wajah dari balik tempat lauk dan mengenali mereka.
'Makan di sini atau dibawa pulang?'
'Di sini, Bu,' jawab Syifa.
Ia menunjuk dua lauk, kemudian bergeser memberi tempat kepada pembeli lain. Ryan masih menatap susunan makanan, tampaknya mencari sesuatu yang tidak terlihat. Ketika ia bertanya mengenai telur balado, Bu Masnah mengatakan lauk itu baru akan ditambah.
Ryan menoleh kepada Syifa. 'Dulu kamu pasti minta itu.'
'Kalau masih ada.'
'Aku ingat kamu tidak suka menunggu sampai kehabisan.'
Syifa tersenyum kecil. Mereka memang pernah beberapa kali makan di tempat ini sebelum hari diisi urusan toko. Waktu itu Ryan mengingat kesukaannya tanpa harus diberi daftar. Sekarang perhatian yang sama terasa seperti sesuatu yang dikenakan kembali setelah lama disimpan.
Mereka duduk pada meja dekat dinding. Ryan menggeser kursi agar tas Syifa tidak berada di jalan orang lewat, lalu mengambil dua gelas air yang dipesan. Gerakannya tampak hati-hati, berbeda dengan pagi ketika ia merasa disalahkan di depan Hadi.
Syifa menyadarinya dan membiarkan Ryan menyelesaikan usaha kecil itu. Ia tidak ingin seluruh waktu bersama hanya dipenuhi pertanyaan mengenai rekening. Ada tempat lain yang sedang ingin disentuhnya: perasaan yang dahulu diberikan begitu mudah dan kemudian dianggap tidak akan pergi.
Bu Masnah datang membawa tambahan telur dalam piring kecil. Ia mengatakan mereka boleh membaginya jika tidak ingin menunggu porsi berikutnya. Ryan segera mendorong piring itu kepada Syifa.
'Untuk kamu.'
'Kamu juga dari tadi mencarinya.'
'Aku mencari karena kamu suka.'
Syifa menatapnya sebentar. Ia ingin merasa puas mendengar jawaban tersebut. Namun, yang muncul justru ingatan tentang dirinya menyiapkan sarapan sementara Ryan menyendokkan makanan untuk Sherly dengan perhatian yang sama. Ia mengambil sebagian kecil dan meletakkan piring di tengah.
'Kita bagi saja.'
Ryan tersenyum seolah telah memperoleh sesuatu. Ia mulai bercerita mengenai kejadian lama ketika mereka kehujanan sepulang dari toko dan berhenti membeli makanan. Syifa mengoreksi bagian yang keliru: malam itu mereka tidak makan di dalam karena tempat sudah hampir tutup, melainkan membawanya pulang.
'Iya, kamu terus menyuruhku cepat,' kata Ryan.
'Karena nasinya sudah tidak panas.'
'Bukan karena kamu takut aku makan bagianmu?'
Syifa tertawa pendek. Bu Masnah yang lewat ikut tersenyum tanpa menanyakan alasan mereka kembali duduk berdua. Syifa menghargai sikap itu. Ia tidak perlu menerangkan keadaan rumah tangganya di antara orang yang sedang memilih lauk.
Ryan melihat senyum tersebut dan mulai merasa lebih yakin. Ia bertanya apakah Syifa masih menganggap semua yang pernah mereka jalani tidak berarti. Syifa meletakkan sendok agar tidak menjawab sambil terburu-buru.
'Aku tidak pernah bilang semuanya tidak berarti.'
'Lalu kenapa seolah tidak ada yang bisa kupertahankan?'
'Kamu baru ingin mempertahankannya setelah aku tahu ada yang kamu lakukan di belakangku.'
Ryan menunduk. Ia mengatakan hubungan mereka tidak selalu buruk, dan Syifa mengangguk karena memang ada banyak hari ketika ia merasa dicintai. Hal itulah yang membuat kebohongan setahun menjadi lebih menyakitkan daripada yang dapat diterangkan dengan kemarahan satu malam.
'Aku pulang, kita makan, kita bicara seperti biasa,' ujar Syifa. 'Ternyata ada orang lain yang kamu biayai dari tempat yang sama. Aku tidak tahu bagian mana yang harus kuingat tanpa bertanya lagi.'
Ryan memandang piringnya. Ia ingin menjawab bahwa dirinya tetap mencintai Syifa, tetapi teringat bagaimana kata tersebut selalu ditolak setelah perselingkuhannya terbongkar. Ia memilih mengatakan akan berusaha menuruti rencana mereka.
Syifa menyambutnya dengan suara yang kembali lembut. Ia menanyakan apakah Ryan sudah cukup makan sebelum berangkat. Perubahan nada itu membuat lelaki tersebut mengangkat wajah, belum memahami bahwa Syifa sedang berusaha menumbuhkan kembali harapan yang kelak ingin ditinggalkannya.
Ponsel Ryan berbunyi ketika mereka hampir selesai. Pesan dari Hadi menanyakan satu keterangan alamat pelanggan yang tadi belum lengkap. Ryan mulai mengetik berdasarkan ingatan, lalu Syifa menanyakan apakah alamat itu sama dengan yang tercantum pada lembar pesanan.
Ryan berhenti. Ada dua pelanggan dengan nama panggilan yang hampir sama. Ia membuka foto catatan yang dikirim Hadi, membaca kembali, kemudian menelepon sebentar untuk memastikan keterangan yang benar.
Sesudah panggilan berakhir, ia mengaku hampir menyebut arah yang berbeda. Syifa tidak menambahkan teguran di depan pembeli lain. Ia hanya meminta informasi yang sudah benar dikirim ke pengangkut sebelum kendaraan berangkat sore nanti.
Ryan melakukan hal tersebut, lalu menyimpan ponsel. Wajahnya menunjukkan kesal karena urusan pekerjaan kembali masuk di tengah pertemuan. Syifa melihatnya dan bertanya apakah ia sungguh ingin toko itu menjadi miliknya setelah mereka bercerai.
'Tentu,' jawab Ryan.
'Berarti urusan seperti itu tetap harus kamu hadapi, Mas. Toko bukan hanya tempat menerima uang.'
Ryan merapikan tisu di dekat piring. Ia mengatakan sudah tahu karena selama ini ia yang bekerja. Syifa tidak membantah panjang. Ia hanya memandangnya cukup lama, lalu berdiri untuk membayar makanan.
Ryan menawarkan membayar, tetapi Syifa mengatakan akan menggunakan uang yang memang dibawanya untuk perjalanan hari itu. Bu Masnah sempat memberikan uang kembali lebih banyak karena menghitung dua pembayaran bersamaan. Syifa menunjukkan selisihnya sebelum beranjak, lalu menunggu sampai hitungan diperbaiki. Pemilik warteg berterima kasih sambil menggeleng kepada dirinya sendiri, kemudian kembali melayani pembeli yang datang membawa rantang. Syifa menyimpan bukti belanja bersama catatan lain dan berpamitan kepada Bu Masnah.
Di luar, udara lebih panas daripada ketika mereka masuk. Ryan mengambil posisi di dekat pintu mobil dan menunggu Syifa duduk. Ia masih merasakan tawa yang muncul saat membicarakan nasi dingin, tetapi kini tawa itu bercampur pertanyaan mengenai toko yang akan diperolehnya. Syifa memasang sabuk, menyebut arah danau, lalu membiarkan Ryan memulai perjalanan berikutnya.