Syifa tiba di bank lebih pagi daripada waktu yang diperkirakannya. Ia masih harus menunggu pelayanan dibuka dan mendapat giliran, sehingga duduk sambil memeriksa salinan yang dibawa. Untuk pertama kalinya sejak Ryan mengelola toko, ia datang membawa pertanyaan sendiri, bukan sekadar meminta lelaki itu mengambil uang.
Petugas meminta identitas dan menanyakan transaksi yang ingin diperiksa. Syifa mulai dari rekeningnya sendiri: uang yang masuk dari rekening Ryan sebelum perjalanan, kemudian pengeluaran untuk menyewa vila. Ia meminta salinan yang dapat dipakai mencocokkan catatan di rumah.
Ketika pertanyaannya beralih kepada rekening yang dipakai untuk usaha, petugas tidak langsung mencetak seluruh hal yang dimintanya. Dokumen serta kewenangan mengakses rekening itu perlu dipastikan lebih dahulu. Syifa mendengarkan penjelasan mengenai berkas yang masih harus dibawa dan menuliskannya agar tidak salah mengingat.
Ia sempat merasa kesal. Toko tersebut peninggalan orang tuanya, tetapi sekarang ia baru menyadari bahwa mengetahui siapa pemilik bangunan tidak sama dengan memegang setiap dokumen pengelolaan uang. Selama ini ia membiarkan Ryan mengatur terlalu banyak hal yang tidak pernah ditanyakannya.
Syifa keluar dengan salinan transaksi pribadinya dan daftar kebutuhan untuk urusan usaha. Ia belum mempunyai seluruh jawaban, tetapi tahu bagian mana yang dapat diperiksanya tanpa membuka kembali ponsel suaminya.
Ryan sudah berada di toko ketika ia datang. Dua penjaga yang dibayarnya menyapa di depan, lalu memberi jalan. Beberapa pegawai menoleh, tidak tahu apakah kedatangan pemilik akan disertai pertengkaran lain.
Di dekat meja administrasi, seorang lelaki sedang berbicara dengan pengangkut mengenai lemari yang belum dimuat. Syifa mengenal wajahnya dari kunjungan bersama Wardi dahulu, tetapi tidak pernah terlibat dalam pekerjaan hariannya.
'Pak Hadi, ada masalah?' tanya Ryan mendekat.
Lelaki itu menoleh. 'Pelanggan minta barangnya datang sebelum siang. Bagian bawah pintunya masih perlu diperiksa.'
Syifa menghampiri. Hadi menunjukkan goresan serta celah yang membuat pintu lemari tidak menutup rapi. Ryan mengatakan bagian itu dapat dijelaskan kepada pelanggan setelah barang sampai. Hadi tampak ragu, lalu memandang lembar pesanan di tangannya.
'Kemarin pelanggan sudah bertanya apakah barangnya sama dengan yang dilihat di toko,' katanya.
Syifa meminta lembar tersebut. Ada tanda pembayaran yang sudah diterima dan keterangan waktu pengiriman. Ia membaca pelan, mencoba menghubungkan nama yang tertulis dengan orang yang pernah dilihatnya datang.
'Pelanggan sudah tahu bagian ini belum rapi?' tanyanya.
'Belum, Bu,' jawab Hadi.
'Kalau begitu, kita telepon dulu. Jangan sampai mereka sudah menunggu lalu menerima sesuatu yang tidak dijelaskan.'
Ryan menarik napas. Ia tidak suka pekerjaannya dipertanyakan di depan pegawai. Namun, Syifa sudah meminta Hadi menunjukkan bagian mana yang dapat diperbaiki hari itu dan berapa lama waktu yang diperlukan.
Hadi memanggil pekerja yang menangani perapian. Mereka memeriksa tanpa membuka bagian lain yang masih baik. Setelah memperoleh perkiraan waktu, Syifa menghubungi nomor pelanggan pada lembar pesanan dengan pendampingan Hadi agar tidak salah menjelaskan.
Pelanggan marah karena sudah mengatur waktu di rumah. Syifa meminta maaf atas keterlambatan pemberitahuan, lalu menyampaikan dua pilihan yang dapat dilakukan toko: menunggu perapian dan mengatur ulang jam, atau membicarakan barang pengganti yang memang tersedia setelah pelanggan melihatnya.
Ia tidak menjanjikan barang baru yang belum diketahui ada. Hadi mencari catatan persediaan sementara Ryan berdiri tidak jauh, menyimak pembicaraan.
Pelanggan akhirnya bersedia menerima lebih sore setelah bagian tersebut diperbaiki. Syifa mengulang waktu yang disepakati dan meminta Hadi mencatat perubahan pada lembar yang sama. Pengangkut diberi kabar sebelum kendaraan terlanjur berangkat.
Sesudah persoalan itu bergerak, Syifa menanyakan berapa lama Hadi bekerja di sana. Lelaki itu menyebut dirinya sudah mengenal pekerjaan toko sejak Wardi masih mengurusnya langsung. Ia lebih sering menangani barang serta catatan pengiriman daripada urusan rumah tangga keluarga pemilik.
'Kalau saya tidak memahami satu laporan, saya boleh bertanya kepada Bapak?' tanya Syifa.
'Tentu, Bu. Kalau bagian saya tahu, saya jelaskan. Kalau bukan, kita cari catatannya.'
Syifa mengangguk. Jawaban itu lebih menenangkan daripada janji bahwa semua pasti baik-baik saja. Ia meminta waktu melihat pembukuan setelah Hadi selesai mengatur pengiriman.
Ryan mengajaknya ke ruang yang lebih sepi.
'Kamu sengaja menunjukkan aku tidak bisa mengurus toko?'
'Aku tadi melihat pesanan yang belum sesuai. Menurutmu harus kubiarkan berangkat?'
'Masalah seperti itu biasa.'
'Kalau biasa, mestinya ada cara menjelaskannya kepada pelanggan sebelum dia marah.'
Ryan diam. Syifa kemudian mengeluarkan daftar dokumen yang diminta bank. Ia meminta lelaki itu menunjukkan berkas pengelolaan rekening usaha yang masih dipegangnya dan salinan transaksi yang dapat dicocokkan.
'Kamu sudah punya berkas dari Athar,' kata Ryan.
'Aku ingin memeriksa dengan catatan toko dan dokumen yang benar-benar kita pegang. Ada yang kamu keberatan tunjukkan?'
Ryan tidak langsung menjawab. Ia masih berharap beberapa lembar yang pernah dicetak orang suruhan Athar hanya bagian yang kebetulan ditemukan. Melihat Syifa membawa daftar sendiri membuatnya sulit berlindung di balik anggapan bahwa istrinya tidak mengerti usaha.
Ia mengambil dua map dari lemari. Tidak semuanya langsung diberikan; beberapa keterangan masih harus dicari. Syifa menandai apa yang sudah diterima dan meminta sisanya disiapkan, lalu menaruh salinan di dalam tas.
Menjelang siang, Hadi memberi kabar bahwa lemari sedang diperbaiki dan pelanggan telah menerima pesan perubahan jadwal. Syifa berterima kasih atas pekerjaannya. Ia akan datang lagi untuk meninjau catatan dengan lebih tenang. Sebelum pergi, ia melihat Hadi menempelkan keterangan baru pada barang agar tidak ikut dimuat bersama pesanan lain. Lemari yang semula hampir dibawa keluar tetap berada di tempat pemeriksaan, sementara pekerjaan pengiriman yang tidak bermasalah dapat diteruskan oleh pegawai lainnya tanpa harus menunggu pesanan yang sedang diperbaiki.
Di luar toko, Ryan memegang kunci mobil. Perjalanan ke tempat lama yang dijadwalkan Syifa belum dimulai, tetapi pagi itu sudah terasa berbeda baginya. Istrinya bukan hanya mengajak mengenang perhatian yang pernah diberikannya. Ia kini mulai bertanya tentang hal-hal yang selama ini dibiarkan berada dalam genggamannya sendiri.