Malam setelah kepulangan mereka, Syifa menaruh bukti pembayaran vila di atas meja kamar. Pakaian perjalanan sudah dipisahkan untuk dicuci. Ia membuka kembali catatan pada ponselnya, membaca keterangan transfer yang dilakukannya sebelum berangkat.
Setengah saldo rekening pribadi Ryan telah dipindahkannya ke rekening sendiri. Dari uang itulah ia membayar sewa vila, seperti yang direncanakannya ketika hendak membuat Ryan sibuk jauh dari Sherly dan Dina. Kini bukti pembayaran itu berada di hadapannya, tidak lagi sekadar rasa puas karena dapat melakukan sesuatu di belakang suami yang sudah membohonginya.
Syifa menyalin tanggal dan jumlah yang tampak pada bukti. Ia membedakan uang yang masuk dengan pengeluaran selama perjalanan, lalu memberi tanda pada bagian yang masih harus diperiksa. Ia belum mempunyai alasan untuk mengatakan setiap rupiah dari rekening pribadi Ryan merupakan uang yang diambil dari toko.
Ada rasa enggan ketika menuliskan bagian itu. Ia ingin mengingat dirinya sebagai orang yang sedang mengambil kembali sesuatu yang direbut. Namun, nama pada rekening dan asal tiap transaksi tidak dapat diubah hanya karena ia sedang terluka.
Syifa menutup layar sebentar. Ia teringat betapa mudahnya Ryan dahulu meminta kepercayaan, sementara ia tidak pernah menanyakan laporan lebih jauh. Sekarang ia tidak ingin mengulangi kebiasaan yang sama dengan menganggap catatannya sendiri boleh luput dari pertanyaan.
Ryan mengetuk pintu ketika ia kembali memegang pena.
'Kamu sedang apa?'
'Mencatat biaya perjalanan.'
'Masih ada yang belum dibayar?'
'Vila sudah dibayar. Aku sedang merapikan buktinya.'
Ryan masuk setelah Syifa mengizinkan. Ia melirik kertas, tetapi tidak membaca semua angka. Pikirannya masih tertuju kepada Dina yang pulang dengan marah dan Sherly yang mengirim daftar kebutuhan melalui ibunya.
'Mama mengirim catatan,' katanya.
Syifa meletakkan pena. 'Ada yang harus segera dibeli?'
'Ada beberapa keperluan sehari-hari. Mama juga menulis soal AC.'
'Kamu sendiri yang janji itu kepada Sherly.'
'Aku tahu.'
Ryan mengeluarkan uang tunai yang masih dibawanya, menghitung, lalu berhenti sebelum mengatakan akan mengambil uang dari toko besok. Syifa memperhatikan jeda tersebut. Ia tidak tahu apakah Ryan mulai mengerti atau hanya merasa tidak bebas mengatakan sesuatu di depannya.
'Kalau untuk kebutuhan mereka, bilang itu kebutuhan mereka,' ujar Syifa. 'Jangan dicatat sebagai pembelian barang toko.'
Ryan menatapnya. 'Kamu sekarang mau memeriksa semuanya?'
'Aku mau tahu apa yang terjadi pada usahaku.'
'Selama ini aku yang mengurus.'
'Dan selama itu juga kamu membayar kehidupan Sherly tanpa bilang kepadaku.'
Ryan meremas sedikit uang yang sedang dihitungnya. Ia ingin menyebut betapa banyak pekerjaan yang dilakukannya setelah orang tua Syifa meninggal. Namun, mengucapkannya sekarang hanya akan membawa pembicaraan kembali kepada alasan ia bersedia menuruti perjanjian.
Ia mengatakan akan mengantar keperluan melalui Dina, bukan menemui Sherly. Syifa mengangguk dan membiarkannya keluar untuk menyelesaikan hal tersebut. Ia tidak mengikuti ke pintu depan atau berusaha mendengar seluruh pembicaraan dengan mertuanya.
Setelah Ryan kembali, Syifa sudah menyimpan bukti perjalanan dalam sampul tersendiri. Ia memisahkannya dari berkas informasi yang diberikan Athar. Laporan mengenai uang toko harus diperiksa dengan sumber yang dapat dicocokkan, bukan hanya dengan kemarahan yang muncul setiap melihat nama Sherly.
Ponselnya bergetar. Athar menanyakan apakah mereka sudah sampai di rumah.
Syifa menjawab bahwa perjalanan selesai sore tadi. Ia menambahkan bahwa dirinya ingin mulai memeriksa urusan toko secara langsung. Athar menelepon setelah menanyakan apakah ia mempunyai waktu untuk berbicara.
'Kamu masih di kampung?' tanya Syifa.
'Masih. Tapi lusa sore aku kembali.'
'Bukannya cutimu sudah selesai?'
'Hari ini yang ketujuh. Dua malam lalu aku minta tambahan dua hari kepada Pak Satria. Sudah disetujui setelah pekerjaan yang perlu diserahkan kubereskan.'
Syifa terdiam sejenak. Ia berterima kasih karena Athar masih memikirkan keadaan di sekitarnya. Lelaki itu mengatakan ia juga perlu menghabiskan waktu dengan Bagas, sesuatu yang terlalu lama hanya digantikannya dengan kiriman uang.
'Jangan sampai pekerjaanmu jadi kacau karena aku,' ujar Syifa.
'Aku sudah mengurus izinnya. Kamu tidak harus memikirkan itu.'
Athar kemudian mendengarkan rencana Syifa ke bank dan toko. Ia tidak menyuruhnya mengambil data dari ponsel Ryan lagi. Ia mengatakan lebih baik Syifa menanyakan dokumen apa yang dapat diperolehnya sendiri sebagai pihak yang berwenang atas urusan tersebut.
Syifa mengangguk meskipun Athar tidak melihatnya. Ia mengatakan ingin berpamitan sebelum lelaki itu pulang. Mereka menyepakati pagi pada hari terakhir tambahan cuti, di sungai dekat rumah seperti dahulu.
Sesudah sambungan ditutup, Syifa membuka kembali catatan tempat yang ingin dikunjungi bersama Ryan. Ada warung yang pernah menjadi tempat mereka berhenti dan danau yang masih belum didatangi dalam perjalanan kali ini. Ia menuliskan urutan untuk hari berikutnya, menyisakan pagi untuk urusan bank serta toko.
Ryan masuk membawa air minum. Ia bertanya apakah Syifa masih mau menemaninya makan sebelum tidur. Syifa belum lapar, tetapi ikut duduk di meja ketika lelaki itu menghangatkan makanan.
Ryan mencoba membicarakan roti di vila, dan Syifa sempat tersenyum. Ia dapat merasakan betapa mudahnya kebiasaan lama menariknya kembali kepada percakapan yang nyaman. Justru itulah bagian dari rencana yang dibuatnya. Ia ingin Ryan menemukan lagi rasa yang dahulu dibuangnya begitu mudah.
Namun, sebelum meninggalkan meja, ia mengingatkan bahwa besok dirinya akan datang ke toko setelah urusan di bank. Ryan meletakkan sendok sedikit lebih keras daripada sebelumnya.
'Aku akan ada di sana,' jawabnya.
Syifa tidak meminta lelaki itu terlihat senang. Ia kembali ke kamar dan memeriksa kartu identitas yang hendak dibawa. Berkas kepemilikan yang biasa disimpan orang tuanya tidak langsung dimasukkan semua; ia memilih salinan yang dapat dibawa untuk pertemuan pagi itu dan meninggalkan aslinya di tempat aman. Ia menaruh sampul bukti di dalam tas, lalu memeriksa jadwal bank sebelum mematikan lampu. Malam itu ia belum memperoleh jawaban mengenai seluruh uang yang berpindah tangan. Setidaknya, ia sudah berhenti membiarkan pertanyaan tersebut menghilang hanya karena seseorang mengajaknya mengenang hari yang menyenangkan.