Pada pagi hari ketiga, Syifa menutup tas setelah memeriksa lemari dan kamar mandi. Ryan masih mencari sebuah kabel di antara barang yang sudah dikemas. Ia mengira Syifa memasukkannya ke kantong pakaian, tetapi benda itu ternyata tertinggal di dekat meja.
'Kalau tidak ketemu, nanti kamu menyalahkan aku,' kata Syifa sambil menunjukkannya.
Ryan tersenyum dan mengambil kabel itu. Ia ingin suasana tetap ringan sampai perjalanan selesai. Tiga hari tanpa perdebatan panjang dengan ibunya membuatnya merasa lebih mudah berbicara kepada Syifa. Ia hampir lupa bahwa ketenangan tersebut mempunyai tanggal berakhir.
Mereka menyelesaikan urusan vila, membawa barang ke mobil, lalu berangkat pulang. Syifa menyimpan keterangan biaya bersama bukti pembayaran yang sudah dimilikinya. Uang yang digunakan untuk menyewa tempat itu masih mengingatkannya pada ponsel Ryan dan tindakan yang dilakukannya sebelum berangkat. Ia tidak membuka catatan itu di dalam mobil.
Di perjalanan, Ryan menawarkan berhenti untuk makan. Syifa menyebut tempat yang mudah dimasuki dari jalan dan menolak ketika ia ingin berputar jauh demi warung yang pernah dikenalnya. Mereka masih harus pulang sebelum sore berakhir.
Ryan memesan makanan, lalu mengatakan ia merasa perjalanan kali ini menyenangkan. Syifa mengangguk tanpa memberikan jawaban yang lebih besar daripada yang ditanyakan. Lelaki itu memandangnya sebentar, seolah menunggu kalimat mengenai keinginan mengulang liburan setelah keadaan membaik.
'Kamu tidak senang?' tanyanya.
'Ada bagian yang menyenangkan.'
'Tapi?'
Syifa menaruh gelas. 'Tidak semua yang menyenangkan mengubah keputusanku, Mas.'
Ryan menatap meja. Ia masih ingin mengatakan Syifa terlalu cepat menyerah, tetapi teringat syarat yang harus diturutinya. Ia memilih menghabiskan makanan dan membicarakan perjalanan berikutnya menuju danau. Pembicaraan itu lebih aman baginya daripada kata-kata yang dapat membuat kesepakatan dibatalkan.
Ketika mobil memasuki kampung, Syifa melihat beberapa orang menoleh. Ia tidak tahu siapa yang sudah mendengar kabar kepergian mereka. Ia hanya ingin mandi dan membuka barang sebelum memikirkan percakapan lain.
Dina berada di depan rumahnya sendiri ketika mobil lewat. Ia mengangkat tangan, tetapi Ryan tidak berhenti karena pintu rumah Syifa sudah dekat. Syifa melihat mertuanya berbalik memanggil sesuatu ke dalam, lalu mulai berjalan menyusul.
Mereka tiba di rumah peninggalan Wardi dan Salimah. Pintu masih terkunci seperti ketika ditinggalkan. Ryan menurunkan tas, sementara Syifa membuka pintu dan memeriksa ruang depan. Tidak ada Sherly yang menunggu di balik pintu; pakaian serta barang perempuan itu memang sudah dibawa ke rumah Dina sebelum mereka pergi.
Dina tiba ketika tas terakhir baru diturunkan.
'Enak sekali kalian pergi berdua. Mama menunggu sampai digigit nyamuk.'
'Sudah aku bilang lewat telepon dua malam lalu, kami pulang hari ini, Mah,' jawab Ryan.
'Mama bicara tentang sebelum bisa menghubungi kamu. Kamu tahu Sherly bagaimana di rumah?'
Syifa meletakkan tasnya di dekat dinding. Ia tidak mengajak mertuanya masuk lebih jauh sebelum pertanyaan pertama dijawab. Ryan menanyakan apakah Sherly sakit atau membutuhkan pemeriksaan.
'Tidak sakit. Tapi kamar itu panas, uang juga sudah menipis. Janji kamu pasang AC belum ditepati.'
Ryan mengusap tengkuk. Ia memang pernah menjanjikan hal itu ketika memindahkan Sherly. Sekarang ia tidak dapat mengatakan seluruhnya selesai hanya dengan pulang ke kampung. Ia meminta ibunya menyebut kebutuhan yang harus segera disediakan dan membedakannya dari rencana membeli barang baru.
Dina tampak kesal mendengar jawaban yang tidak langsung menyelesaikan permintaannya.
'Kamu datang saja ke rumah. Biar dia bilang sendiri.'
Ryan melirik Syifa. Wanita itu menatapnya tanpa tersenyum.
'Kamu ingat yang kamu tandatangani?' tanyanya.
Ryan mengangguk. Ia mengatakan kepada Dina bahwa dirinya tidak akan datang menemui Sherly hari itu. Jika ada kebutuhan yang harus disampaikan, ibunya dapat membawa catatan. Syifa tidak mengatakan kehamilan boleh diabaikan, tetapi ia ingin Ryan mengakui bahwa ia sendiri telah menyetujui pembatasan sebelum mengejar toko yang diinginkannya.
'Tidak usah memperlakukan Mama seperti pesuruh,' balas Dina.
'Saya juga tidak ingin diperlakukan begitu, Bu,' kata Syifa.
Mertuanya menatapnya tajam. Syifa tidak meneruskan dengan teriakan. Ia membawa tas ke kamar dan membiarkan Ryan menghadapi pembicaraan dengan ibunya di ruang depan. Untuk beberapa saat terdengar suara Dina meninggi, kemudian lebih pelan ketika Ryan menyebut bahwa urusan mereka belum selesai.
Dina akhirnya pulang ke rumahnya. Sherly sudah menunggu di ruang tamu, berharap suaminya ikut datang. Ketika hanya mertuanya yang masuk, wajahnya langsung berubah.
'Mas Ryan mana?'
'Di sana. Katanya tidak boleh bertemu kamu.'
'Dia masih menuruti perjanjian itu?'
Dina meletakkan tas kecilnya di kursi. Ia ingin menyalahkan Syifa, tetapi tidak dapat menyangkal bahwa dirinya sendiri yang dahulu menyuruh Ryan menandatangani. Ia mengatakan Sherly dapat menulis kebutuhan yang ingin disampaikan. Perempuan muda itu mengambil kertas dengan gerakan kesal, mencantumkan beberapa barang, lalu berhenti pada permintaan pendingin udara.
Di rumah Syifa, Ryan menutup bagasi yang masih terbuka, lalu membawa barangnya ke dalam. Ia masuk ke kamar untuk berganti pakaian, kemudian menemukan Syifa sedang menaruh buku di meja.
'Aku tidak ke rumah Mama,' katanya.
'Aku dengar.'
'Kamu setidaknya bisa percaya aku mau menuruti kesepakatan.'
Syifa menoleh. 'Aku sedang melihat kamu menjalaninya. Kepercayaan tidak langsung kembali karena kamu tidak melanggar hari ini.'
Ryan ingin membantah, tetapi lelah perjalanan membuatnya memilih diam. Ia mengambil pakaian dan menuju kamar mandi. Syifa membuka tasnya, memisahkan bukti biaya dari pakaian yang harus dicuci, lalu menaruh kertas itu di dalam buku catatan.
Sebelum beristirahat, ia keluar menyiram tanaman yang tanahnya mulai kering. Satu pot digeser agar tidak terus terkena panas pada hari berikutnya. Syifa merapikan selang dan memeriksa keran sampai tertutup. Pekerjaan kecil di rumah itu tetap menunggunya, berbeda dengan kenangan yang dapat dipilih kapan hendak diceritakan.
Di luar, suara tetangga mulai berkurang ketika sore berubah. Syifa berada di rumahnya sendiri, tetapi belum merasa seluruh ruang telah kembali menjadi miliknya. Masih ada kesepakatan, barang Ryan, dan keputusan yang harus dituntaskannya sebelum pintu itu benar-benar dapat dibuka tanpa rasa cemas.