Bau roti yang terlalu lama dipanaskan membuat Syifa menoleh dari jendela. Ryan berdiri di dekat meja dapur, mengibaskan selembar kertas ke arah pemanggang. Di piring, dua potong roti sudah berwarna jauh lebih gelap daripada yang seharusnya.
'Kamu bangun karena baunya?' tanyanya.
'Aku sudah bangun dari tadi.'
Ryan meletakkan kertas, lalu mencoba mengangkat roti tanpa membuat remahnya jatuh ke mana-mana. Ia berniat menyiapkan sarapan sebelum Syifa keluar kamar. Sekarang ia justru memerlukan bantuan mencari piring lain untuk menaruh bagian yang gagal.
Syifa mengambil piring dari rak yang telah dilihatnya kemarin. Ia tidak menertawakan Ryan, tetapi sudut bibirnya bergerak ketika lelaki itu menyalahkan panas alat yang belum dikenalnya.
'Kamu yang meninggalkannya sambil mencari kopi.'
'Aku cuma sebentar.'
'Rupanya sebentar menurut roti berbeda.'
Ryan tertawa. Suara itu membuat suasana dapur terasa akrab, seolah mereka hanya sedang mengulang liburan biasa. Syifa memisahkan bagian yang masih dapat dipakai, menaruh roti baru, lalu mengatur meja sementara Ryan memeriksa air.
Mereka sarapan di dekat pintu teras pada pagi hari kedua. Cahaya jatuh pada kursi yang dahulu pernah dipakai Syifa ketika menunggu orang tuanya menelepon. Ia masih ingat Wardi menanyakan apakah perjalanan mereka terlalu melelahkan, sementara Salimah berkali-kali berpesan agar ia tidak malu meminta bantuan kepada petugas vila.
'Dulu Ibu menelepon hampir setiap pagi,' katanya.
Ryan mengangguk. 'Ayahmu juga menanyakan keadaan kendaraan.'
'Mereka sampai menyiapkan tiket dan tempat ini. Aku waktu itu mengira setelah menikah semua harus kita urus sendiri.'
'Mereka memang ingin kita nyaman.'
Syifa memandang meja. Kedua orang tuanya sudah tidak ada untuk melihat bagaimana perhatian yang dahulu mereka berikan berakhir menjadi bahan tawar-menawar. Rumah yang mereka tinggalkan telah dipakai untuk menampung kebohongan, sedangkan toko yang seharusnya dijaga justru membayar kehidupan perempuan lain.
Ryan menambahkan kopi tanpa menyadari perubahan wajahnya. Ia mengatakan mereka dapat datang ke tempat seperti ini lebih sering nanti jika urusan sudah selesai. Syifa meletakkan sendok.
'Urusan yang mana, Mas?'
Ryan terdiam sejenak. 'Maksudku kalau kita sudah tidak terus bertengkar.'
'Aku sedang menjalankan yang kita sepakati.'
'Iya, aku tahu.'
Ia mengatakannya dengan cepat, tidak ingin merusak pagi yang baru saja terasa menyenangkan. Syifa melihat cara lelaki itu menghindari kata cerai. Ada kepuasan kecil mengetahui Ryan mulai tidak nyaman mendengar akhir yang ditujunya sendiri. Lalu ia merasa lelah karena harus mengukur setiap senyum seolah sedang menghitung hasil pekerjaan.
Setelah meja dibersihkan, Syifa mengajak berjalan di sekitar vila. Mereka tidak pergi jauh. Di dekat jalan masuk terdapat warung kecil yang baru membuka sebagian kursinya. Syifa membeli air dan beberapa keperluan yang habis, sementara Ryan memeriksa pesan pekerjaan dari toko.
Ia hampir menjawab salah satu pertanyaan mengenai pengiriman, kemudian menyadari Syifa berada di sampingnya. Ia menunjukkan layar dan mengatakan pegawai ingin memastikan waktu pelanggan mengambil barang.
Syifa membaca pesan tersebut. Ia tidak mengetahui seluruh pesanan yang sedang ditangani. Selama ini ia menyerahkan urusan seperti itu kepada Ryan dan baru mendengar angka ketika membutuhkan uang belanja.
'Jawab yang benar. Jangan sampai pelanggan datang lalu barangnya belum siap,' katanya.
Ryan mengangguk dan mengetik. Ia tampak ingin menjelaskan panjang mengenai betapa sibuknya menjaga toko. Syifa sudah berjalan lebih dahulu, membawa kantong yang tidak terlalu berat. Ia tidak sedang berlibur untuk mendengar alasan mengapa uang toko boleh digunakan di luar kebutuhan usaha.
Di jalur kembali, Ryan mengambil kantong itu dari tangan yang ditawarkan kepadanya. Mereka melewati tanaman yang tumbuh di sisi jalan. Syifa berhenti melihat satu bunga yang hampir jatuh tertiup angin, lalu meneruskan langkah ketika Ryan memanggil dari depan.
'Kamu selalu berhenti lihat bunga,' katanya.
'Kalau aku tidak berhenti, kamu juga jarang menoleh.'
Ryan tidak menemukan jawaban yang ringan. Ia berjalan lebih lambat sampai Syifa berada di sisinya lagi. Untuk beberapa menit, mereka hanya mendengar suara langkah serta kantong belanja yang bergeser di tangan.
Siang hari Syifa membaca buku di ruang depan. Ryan duduk tidak jauh, mencoba mengajaknya mengingat permainan yang pernah dilakukan saat bulan madu. Syifa menjawab beberapa pertanyaan, lalu menanyakan apakah Ryan masih mengingat janji untuk mendampinginya ketika menghadapi ibunya.
Pertanyaan itu membuat lelaki tersebut menutup mulut. Ia mengatakan tidak ingin membicarakan pertengkaran pada hari yang tenang. Syifa menutup buku dengan jari masih berada di antara halaman.
'Buat kamu tenang karena yang terjadi bisa disimpan dulu. Aku membawanya ke mana-mana, Mas.'
'Aku sudah minta maaf.'
'Aku dengar.'
Syifa membuka buku lagi. Ia tidak bermaksud menghentikan seluruh perjalanan hari itu. Ia masih ingin Ryan mengingat bagaimana rasanya berada bersamanya, lalu merasakan kehilangan ketika semua berakhir. Namun, ia mulai mengetahui bahwa menjalankan rencana itu juga menghabiskan tenaga dirinya sendiri.
Sore menjelang, Ryan menyiapkan makanan yang akan dimasak dengan lebih berhati-hati daripada roti pagi tadi. Syifa membantu bagian yang memang ingin dikerjakannya. Mereka makan di meja yang sama dan sempat tertawa ketika Ryan bertanya apakah ada penilaian untuk usahanya hari itu.
'Setidaknya rotinya bukan satu-satunya makanan kita,' jawab Syifa.
Sesudah makan, mereka membereskan barang yang tidak akan dipakai lagi. Besok perjalanan tiga hari itu berakhir. Syifa menaruh buku dan beberapa pakaian ke tas, lalu memeriksa catatan tempat yang masih ingin didatanginya sebelum perceraian.
Ryan melihat kertas itu dari pintu. Ia menanyakan apakah danau masih termasuk dalam daftar. Syifa mengangguk. Tempat itu sudah dimintanya sebelum mereka berangkat. Mereka akan menentukan waktu setelah pulang dan memastikan pekerjaan toko tidak ditinggalkan tanpa pengaturan. Ryan menyetujui, masih memikirkan apa yang akan diperolehnya jika seluruh keinginan Syifa dituruti.
Di luar, malam kembali menyelimuti vila. Syifa mematikan lampu teras setelah memeriksa pintu. Satu hari yang tampak hangat telah selesai, tetapi keputusan yang membawanya ke sini tidak ikut tertinggal pada piring sarapan atau roti yang hampir seluruhnya gosong.